Sepuluh Menit Pertama PPDB Online, 58 Ribu Pengunjung Serbu Website

0
Ilustrasi. Gubernur Ganjar Pranowo memantau pendaftaran mandiri PPDB SMA di Kantor Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah, Senin (1/7).

Oleh: Agus Susilo

Semaranginside.com, Semarang – Pada hari pertama, pengunjung yang menyerbu website Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) Online melonjak drastis. Pada pukul 00.10 WIB, website PPDB Jawa Tengah mendapat serbuan lebih dari 58 ribu pengunjung.

“Sepuluh menit awal, server web PPDB Jawa Tengah mendapat serbuan pengunjung yang sangat drastis. Namun, menit kesebelas, server sudah mulai stabil. Kepada orang tua dan siswa, jangan khawatir, kami berusaha tidak ada gangguan pada server,” kata epala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah Jumeri, Senin (1/7).

Pada hari pertama PPDB, sejumlah orang tua siswa yang kebingunan juga mendatangi Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jateng.

Salah satunya Harina, Ia kebingungan lantaran kedua anaknya tidak bisa masuk ke SMA Negeri 6. Menurut Harina, setelah mendaftarkan PPDB Online anaknya pada Senin (1/7) pagi. Dirinya kembali mengecek pada siang hari. Tetapi, nama kedua anaknya, sudah tidak masuk daftar siswa di SMA 6.

Baca Juga:  Sheikh Hasina Memenangkan Pemilu Bangladesh

“Ketika saya cek, pergeseran siswa yang diterima cepat sekali berubah. Nama anak saya, Rafa dan Ryo sudah tidak ada. Saya kebingungan. Akhirnya datang ke kantor dinas untuk minta kejelasan,” katanya.

Gubernur Ganjar Pranowo yang datang di lokasi mengatakan jika zonasi tergeser, ada solusi lain untuk mengejar celah, misalnya dengan jalur prestasi. Kalau tidak diterima di jalur itu, SMA swasta menjadi solusi.

Karena diakui, untuk nilai UN anak pertamanya, Rafa lebih rendah ketimbang anak keduanya, Ryo. Ryo lebih memiliki kesempatan untuk bisa dialihkan ke sekolah lain. Sementara, untuk Rafa, Ganjar menyarankan untuk ke sekolah swasta.

Baca Juga:  Tembok Pabrik di Kawasan Industri Ambruk, 7 Pekerja Dilarikan ke RS

“Hari ini bisa menjadi acuan agar orangtua segera membuat keputusan. Memilih sekolah favorit memang harapan, tetapi sistem zonasi ini Pak Ganjar sudah memberikan solusi dengan jalur lain, memberi peluang dan potensi yang bisa kami lakukan,” tandasnya.

Tak hanya Harina, orang tua dari Hayuning Najwa warga Palebon, Pedurungan juga mengeluh. Dengan nilai UN di atas 30, ia khawatir tidak bisa masuk ke SMA Negeri 2. Karena akan tergeser.

“Mengeluh itu boleh, tugas kami itu kan memahamkan. Tetapi, ada yang dipahamkan malah bingung. Salah satunya, tadi minta dialihkan ke sekolah lain, tetapi dicabut lagi,” jelas Ganjar. (Ags)

Berikan Komentar

avatar
  Subscribe  
Notify of