Ada Bubur Peca di Shiratul Mustaqiem, Masjid Berusia 400 Tahun

0
Masjid Shiratul Mustaqiem adalah masjid tertua yang ada di Samarinda, Kalimantan Timur. Foto: Istimewa

Oleh: Mashardiansyah |

Masjid Shiratul Mustaqiem sudah berusia 400 tahun. Selain masjid bersejarah dan tertua di Kalimantan Timur, ada satu daya pikat masjid ini yang paling diburu terutama saat Ramadhan. Apa itu?

Semaranginside.com, Samarinda — Dari konstruksinya, tidak ada yang berubah dari masjid ini. Semuanya masih berbahan dasar kayu ulin atau kayu besi. Tidak ada perubahan mendasar dari struktur bangunan sejak didirikan.

Masjid Shiratul Mustaqiem adalah masjid tertua yang ada di Samarinda, Kalimantan Timur yang sudah ditetapkan sebagai cagar budaya nasional. Berlokasi di Jalan Pangeran Bendahara RT 07, Kelurahan Masjid, Kecamatan Samarinda Seberang, Samarinda. Selain menyimpan banyak nilai sejarah, masjid ini juga memiliki tradisi berbuka puasa yang khas di setiap setahunnya.

Dari sejarahnya, Masjid Shiratul Mustaqiem ini dibangun oleh Said Abdurachman Bin Assegaf, ulama yang berasal dari Pontianak, Kalimantan Barat, setelah mendapat restu dari Sultan Kutai kala itu, yakni Sultan Aji Muhammad Sulaiman, yang kini namanya diabadikan untuk nama bandar udara di Balikpapan.

Selain masih mempertahankan ciri khas bangunan, masjid tertua ini punya satu pesona yang paling diburu saat Ramadhan tiba. Tanpa menu takjil saat berbuka puasa, rasanya tidak berada di Masjid Shiratul Mustaqiem. Yaitu Bubur Peca.

Baca Juga:  Unik, ‘Bajong Banyu’ Sambut Puasa di Magelang

Bubur Peca merupakan sajian yang sangat ditunggu oleh warga sekitar masjid hingga masyarakat jauh yang sengaja datang hanya untuk mencicipi hidangan yang hanya disuguhkan saat berbuka puasa saja.

Aneka hidangan sebelum berbuka disajikan di Masjid Shirathal Mustaqiem, terutama sajian Bubur Peca yang hanya ada setiap bulan Ramadhan saja
Menilik asal namanya, Bubur Peca kental dengan tradisi Suku Bugis yang di Sulawesi Selatan. Apalagi, di daerah ini, mayoritas suku Bugis mendiami pesisir Sungai Mahakam sejak ratusan tahun silam. Bubur Peca memiliki rasa gurih yang membangkitkan selera makan, sebelum makanan berat yang disajikan setiap harinya dengan lauk pauk yang bervariasi.

“Semua takjil yang ada merupakan hasil sumbangan dari warga sekitar masjid, setiap harinya kami menyediakan kurang lebih sebanyak 200 takjil di masjid ini,” kata Sopian, Takmir Masjid Shiratal Mustaqiem.

Baca Juga:  Warganet Indonesia Paling Rajin Ngetwit Soal Puasa Bahkan Sebelum Ramadhan

Dalam mempersiapkan hidangan berbuka puasa, Sopian menjelaskan bahwa semuanya dikerjakan dengan cara bergotong-royong bersama warga, baik itu para perempuan maupun para lelaki yang berada disekitar masjid.

“Yang bagian masaknya juga sudah turun temurun, dimulai dari nenek mereka hingga sekarang cucunya yang memasak disini. Karena mereka memang sudah lama sekali tinggal disekitar mesjid sini,” jelasnya.

Dalam kesempatan ini, banyak pengunjung yang turut berbuka puasa di masjid ini. Tidak hanya dibuat kagum akan sisi arsitektur bangunan yang telah lama dibangun namun masih terlihat kokoh, namun banyak yang ingin melihat persiapan menu bubur Peca yang dihidangkan.

“Banyak pengunjung yang datang lebih awal sebelum berbuka puasa. Ada yang ingin melihat persiapan pengolahan bubur Peca, dan banyak juga yang melakukan tadarus Al-Quran hingga menjelang berbuka. Apalagi banyak warga mengharap berkah dari membaca Al-Quran di bangunan yang telah berusia 400 tahun dan masih mengoleksi Al-Quran yang seumur dengan usia bangunan masjid,” jelas Sopian. (Aza/Ags/INI-Network)

Berikan Komentar

avatar
  Subscribe  
Notify of