BAB di Sungai, 17 Warga Klaten Dipanggil Ganjar

0
Ganjar Pranowo menghadiri pembukaan TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) di Desa Jimbung Kecamatan Kalikotes, Klaten, Kamis (11/7).

Oleh: Agus Susilo

Semaranginside.com, Klaten – Sebanyak 17 warga Klaten dipanggil Gubernur Jateng Ganjar Pranowo. Tidak ada kesalahan pada mereka selain kenyataan bahwa selama ini selalu buang air besar (BAB) di sungai.

Peristia terjadi saat Ganjar memimpin upacara pembukaan TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) di Desa Jimbung Kecamatan Kalikotes, Klaten, Kamis (11/7). Ketika bertanya kepada masyarakat siapa yang masih BAB sembarangan di desa tersebut, belasan warga tunjuk jari.

“Ayo, sinten sing dereng gadhah WC, ngacung? (Ayo siapa yang belum memiliki WC tunjuk jari). Sinten sing tasih mbucal teng lepen, ayo rene maju (siapa yang masih BAB di sungai, ayo maju ke depan),” tanya Ganjar kepada warga yang berkerumun di pinggir lapangan.

Seketika, beberapa ibu-ibu berlarian maju ke dekat Ganjar. Total ada 17 ibu-ibu yang tergopoh-gopoh lari ke tengah lapangan.

Baca Juga:  Aktivitas Gubernur: Bersepeda, Nyoblos, Lalu Pantau TPS

“Lha kok akeh men (kok banyak sekali), iki kabeh mbucal teng lepen, padahal ayu-ayu lho (ini semua BAB di sungai? Padahal cantik-cantik lho),” canda Ganjar.

Salah satu warga yang lari ke tengah lapangan, Semiyati,45, mengatakan, sehari-hari dirinya sekeluarga BAB di sungai belakang rumahnya.

“Tiap dinten nggih teng lepen pak (tiap hari ya di sungai pak), lha mboten gadhah WC (karena tidak punya jamban),” jawab Semiyati.

Tetangganya, Parjiyem (55) menimpali. Menurutnya BAB di sungai lebih enak.

Ganjar hanya geleng-geleng kepala mendengar pernyataan beberapa warga itu. Sambil tersenyum, ia menduga pasti sungai tempat Semiyati dan Parjiyem BAB bernama kali Mekong.

“Kui pesti jenenge kali Mekong, artine kali mepe bokong,” canda Ganjar disambut tawa semua hadirin.

Baca Juga:  Ganjar: Ideologi Kanan Luar dan Kiri Luar Tidak Diterima

Ganjar kemudian memanggil Kepala Desa Jimbung. Untuk menyelesaikan persoalan itu, Ganjar membantu masing-masing Rp1 juta kepada 17 warga tersebut untuk pembuatan jamban.

“Mengko digawekke ya, syarate gotong royong (nanti dibangunkan jamban ya, syaratnya gotong royong). Nek mpun gadhah WC ampun mbucal teng lepen njih (kalau sudah punya WC jangan BAB di sungai ya), awas lho dicokot ulo (awas digigit ular),” ujar Ganjar.

Ganjar mengatakan, persoalan masyarakat masih banyak ditemukan di lapangan. Melalui TMMD ini, diharapkan berbagai persoalan tersebut dapat diselesaikan.

“Sebenarnya ini tidak sulit, hanya butuh kesadaran semua pihak akan pentingnya kesehatan. Karena BAB sembarangan itu dapat menimbulkan banyak penyakit seperti kolera, disentri dan sebagainya,” pungkasnya. (Ags)

Berikan Komentar

avatar
  Subscribe  
Notify of