Babak Akhir Prostitusi Kota Semarang

0
Kawasan Sunan Kuning Kota Semarang. Foto: Ade Lukmono/Semaranginside.com

Oleh: Ade Lukmono

Semaranginside.com, Semarang – Penutupan dua lokalisasi di Kota Semarang, yaitu Sunan Kuning dan Gambilangu saat ini hampir memasuki babak akhir. Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang berencana menutup keduanya pada pertengahan Agustus 2019. Namun bisa saja dimungkinkan mundur karena dana untuk tali asih penghuni dua lokalisasi tersebut belum sepenuhnya beres.

Jika menilik lebih jauh, prostitusi di Kota Semarang tidak serta-merta langsung dimulai dari dua tempat tersebut. Sebelumnya para wanita pekerja seks (WPS) beroperasi di jalan protokol.

Sekitar tahun 1960an, para pekerja seks tersebar di Jalan Pemuda, Pecinan, Stadion Diponegoro Jalan Ki Mangunsarkoro dan beberapa tempat lainnya yang dulunya merupakan pusat kota. Setelah itu, pada 1966 Pemerintah melakukan langkah lokalisasi agar lebih terkendali.

“Kemudian pemerintah mengarahkan para WPS ke daerah Kalibanteng Kulon yang kala itu adalah daerah terpencil dan jauh dari pusat kota,” kata penulis buku Ough! Sunan Kuning (1966-2019).

Dia menceritakan, saat itu daerah Kalibanteng Kulon belum menjadi daerah hunian seperti sekarang. Hanya terdapat sedikit rumah warga tanpa listrik dan hanya terhampar ladang yang tidak digarap.

Baca Juga:  Fakta 7 Selebriti KPop yang Terlibat Skandal dan Kontroversi

Nama SK sebenarnya berasal dari gang daerah tersebut yang merupakan kependekan dari Sri Kuncoro. Saat ini orang-orang menyebut Sunan Kuning karena di daerah Kalibanteng Kulon terdapat petilasan tokoh muslim bernama Soen An Ing.

“Karena orang jawa sulit mengeja nama Soen An Ing, kemudian diplesetkan menjadi Sunan Kuning dan populer hingga sekarang,” tambah Bambang.

Nama Resosialisai Argorejo kemudian menjadi legal sekitar tahun 1966. Tempat tersebut menjadi lokasi pengendalian WPS dan berjalan hingga bertahun-tahun ke depan.

Pada 1981, banyak para WPS yang kembali lagi ke jalanan protokol Kota Semarang. Banyak warga yang menyebut mereka dengan sebutan “Ciblek”.

Sepak terjang Ciblek pun tidak seperti para WPS biasanya. Mereka menjajakan diri secara terselubung dengan dibantu pengusaha yang kerap menggunakan lapak teh poci sebagai modus.

“Misal saya pengusaha teh poci. Saya menggelar lapak teh poci dan menyediakan ciblek. Pelanggan datang dan berpura-pura minum menikmati teh poci di sana dengan ditemani ciblek. Setelah cocok, kemudian ciblek tersebut dibawa ke lain tempat,” bebernya.

Sekitar 2015, muncul modus baru prostitusi di Kota Semarang yang dikenal dengan “Gadis Matik”. Jika biasanya para pelanggan mencari “gadis”nya, Gadis Matik lebih agresif mendatangi calon pelanggannya.

Baca Juga:  Puan Maharani Raih Suara Terbanyak Nasional

Sasaran para gadis matik biasanya orang yang sedang berhenti atau nongkrong di jalan-jalan tertentu. Hingga saat ini, gadis matik banyak ditemui di sekitar Jalan Imam Bonjol dan Jalan Tanjung.

Transaksi dilakukan di atas motor matik kemudian dibawa ke suatu tempat yang tidak jauh dari lokasi transaksi. Pelanggan para gadis matik biasanya adalah kalangan menengah ke bawah, mulai dari sopir mobil sayuran, sopir malam dan sebagainya.

2019 merupakan babak akhir prostitusi Kota Semarang. Mau tidak mau, Pemkot harus menutup segala bentuk lokalisasi dan prostitusi di kota lumpia.

Namun Bambang menilai, penutupan Sunan Kuning bisa saja menghilangkan identitas Kota Semarang. Akan ada satu ikon Semarang yang juga hilang jika Sunan Kuning dihilangkan.

“Sampai kapanpun prostitusi tidak bisa hilang dari Semarang. Penutupan Sunan Kuning ini bisa saja sebagai tameng untuk menyelamatkan muka Kota Semarang dari kota lainnya yang berhasil menutup lokalisasi, seperti Jakarta, Bandung dan Surabaya,” pungkasnnya.

Berikan Komentar

avatar
  Subscribe  
Notify of