Bandeng Juwana Elrina, Berawal dari Lapak Kaki Lima

0
Ilustrasi lapak pertama Bandeng Juwana Elrina. Foto : dokumentasi Bandeng Juwana Elrina

Oleh : Nugroho

Semaranginside.com, Semarang – Barangkali tak ada yang menyangka usaha dagang bandeng duri lunak bisa menjadi besar. Hal itu setidaknya dialami Bandeng Juwana Elrina. Usaha tersebut bermula dari lapak kaki lima di Jalan Pandanaran yang kini berkembang hingga membuka restoran serta bakery.

“Kami kali pertama buka pada 3 Januari 1981. Waktu itu belum ada toko, hanya etalase sederhana serta bangku dari bambu atau lincak. Pada hari pertama itu, hanya tiga ekor bandeng yang berhasil dijual,” ujar Arif Honggowijoyo Kusmadi, generasi kedua pemilik Bandeng Juwana Elrina saat berbicara pada pertemuan dengan pemilik UMKM pangan yang difasilitasi Dinas Ketahanan Pangan Kota Semarang, Rabu (6/11) di Restoran Elrina.

Usaha tersebut didirikan oleh Daniel Nugroho Setiabudhi bersama sang istri Ida Nursanty. Daniel adalah seorang dokter dan terakhir menjabat sebagai Kepala Rumah Sakit Kusta Semarang. Sementara Ida dikenal sebagai apoteker.

Sejak 1975 keduanya ingin membuat usaha untuk mencukupi kebutuhan keluarga. Pada 1978 sempat terbersit untuk membuat bakery. Namun hal itu urung dilakukan karena besarnya modal yang harus disiapkan.

Baca Juga:  Lumpia atau Lunpia, Sama Enaknya..

Akhirnya pada 1980, muncul ide untuk membuat usaha bandeng duri lunak. Setelah percobaan selama tiga bulan, usaha tersebut menjadi kenyataan. Sebagai catatan, Arif yang merupakan menantu pertama dari Daniel dan Ida mengungkapkan bila Bandeng Juwana Elrina bukan yang pertama berdiri di Kota Semarang.

“Karena itu, kami harus bersaing dengan yang lain yang sudah ada. Salah satu upaya yang dilakukan yakni membuka usaha lebih dini. Pada tahun 1980-an, toko oleh-oleh biasanya buka sekitar pukul 09.00 atau 10.00. Kami waktu itu buka sekitar pukul 06.00,” ungkapnya.

Arif Honggowijoyo Kusmadi saat berbicara. Foto : Nugroho

Upaya tersebut ternyata berhasil memikat banyak konsumen. Semakin banyak masyarakat yang mengenal dan membeli produknya. Semula, nama usahanya memang hanya Bandeng Juwana. Namun, saat pendaftaran hak cipta, karena nama daerah tak bisa digunakan, maka digunakanlah nama Elrina.

“Elrina adalah singkatan dari tiga nama putri Daniel dan Ida. Begitu pula, Dryriana, nama bakery yang kemudian didirikan,” tambah Arif.

Baca Juga:  Lumpia atau Lunpia, Sama Enaknya..

Dia juga mengungkapkan, saat ini pihaknya membuat 77 makanan hasil olahan bandeng. Semua bisa didapatkan di toko atau restoran. Inovasi memang menjadi kunci keberhasilan.

Selain itu, Arif juga menegaskan, pihaknya selalu terbuka pada masyarakat yang ingin belajar atau melihat proses produksi miliknya.

“Kami senang untuk berbagi pengalaman. Kami juga sering menerima kunjungan dari para siswa atau mahasiswa yang ingin belajar,” tambahnya.

Dia juga menjelaskan, setelah melalui proses panjang, produknya berhasil mendapat sertifikat halal dari MUI. Bersamaan dengan itu, pihaknya juga mengajak beberapa pelaku UMKM yang produknya dijual di outlet miliknya untuk mendapatkan sertifikat yang sama.

Arif kemudian juga mengungkapkan, visi perusahaannya adalah kasih sebagai wujud nyata dari rasa syukur atas berkat, rahmat, dan pemberian Tuhan Yang Maha Esa. Sementara misinya adalah kreatif.

“Sebagai perusahan yang fokus pada makanan, Bandeng Juwana Group akan memacu kreativitas dalam pelayanannya dan dalam menciptakan produk makanan,” terangnya.(nug)

Berikan Komentar

avatar
  Subscribe  
Notify of