Beda Sikap Indonesia-Malaysia Soal Syiah

0
Penganut Syiah Rayakan Hari Kedukaan bertepatan 10 Muharram di Senayan, Senin (9/9). Foto: Suandri Ansah/Indonesiainside.id

Oleh: Ahmad ZR

Semarangainside.com, Jakarta – Berbeda dengan Indonesia, pemerintah Malaysia, beberapa tahun lalu mengumumkan bahwa kelompok Syiah, yang disebut sebagai sekte sesat, dilarang menyebarkan ajarannya. Namun diberikan kebebasan untuk menjalankan keyakinannya itu.

Menteri Urusan Agama Islam Jamir Khir Baharo mengatakan, pihaknya tidak melarang pemeluk ajaran Syiah untuk melakukan peribadatan. Namun tidak dilakukan secara terbuka dan tidak menyebarkan ajarannya.

“Ada hukum yang tidak membolehkan mereka berdakwah terhadap jamaah Sunni,” katanya seperti dikutip Antara beberapa waktu lalu.

Jamil Khir mengatakan pemerintah telah melakukan berbagai upaya guna menghentikan penyebaran ajaran tersebut di Malaysia, termasuk mengeluarkan sejumlah fatwa yang mengharamkan aliran itu. Pemerintah juga terus memantau serta mengendalikan materi ajaran Syiah.

Sementara, pemimpin komunitas Syiah, Kamil Zuhairi Abdul Aziz mengatakan pemeluk Syiah di Malaysia tidak mengajarkan ajarannya kepada kaum Muslim lainnya. Dia mengklaim tidak menonjolkan diri dan hidup harmonis dengan kelompok Sunni serta non-Muslim. Meski begitu, dia mengaku dalam menjalankan ibadah di lingkup komunitasnya masih mendapat tekanan dari pemerintah beberapa dekade.

Terpisah, anggota Panel Pemikir Isu Islam Semasa, Pejabat Mufti Wilayah Persekutuan, Malaysia, Dr Arifin Ismail, ajaran Syiah secara resmi telah difatwakan sesat oleh Jabatan Kemajuan Islam Malaysia (JAKIM). Fatwa ulama Malaysia itu berkekuatan hukum dan mengikat.

Baca Juga:  Di Senayan, Penganut Syiah Jakarta Rayakan Ritual Ratapan

“Di Malaysia ajaran Syiah sudah difatwakan sesat. Dan fatwa di Malaysia mempunyai kekuatan hukum, sehingga jika suatu ajaran telah difatwakan sesat, maka aktivitas apapun dari ajaran tersebut tidak boleh dilakukan,” ujar Arifin Ismail kepada Indonesiainside.id, Selasa (10/9) malam.

JAKIM di Malaysia sama dengan Majelis Ulama Indonesia (MUI) di Tanah Air. Atas dasar fatwa lembaga agama tertinggi itu, segala aktivitas Syiah di Malaysia dilarang, khususnya di tengah-tengah publik.

“Oleh sebab itu perayaan asyura ala Syiah tidak dibenarkan,” kata Arifin.

Meski secara resmi Syiah dilarang, bukan berarti ajaran ini mati. Tetap saja ada penganutnya yang melakukan kegiatan secara sembunyi-sembunyi.

“Walaupun tetap ada yang melakukan secara sembunyi, tetapi jika terpantau maka kegiatan itu akan dibubarkan dan pelaksanaannya akan mendapat sanksi hukuman dari aparat. Sebab fatwa ulama di Malaysia berkekuatan hukum,” katanya.

Malaysia menyatakan sebagai negeri multikultural, tempat 16,5 juta pemeluk Islam beraliran Sunni hidup. Tahun 2011 Malaysia secara resmi melarang Syiah dan menyatakan sebagai aliran sesat.

Mengenai fatwa ajaran Syiah di Indonesia MUI Pusat belum dapat mengeluarkan fatwa seperti MUI Jawa Timur yang menyatakan bahwa Syiah adalah aliran sesat. Kendati begitu, prinsip MUI adalah menghambat berkembangnya Syiah di Indonesia.

Baca Juga:  Di Senayan, Penganut Syiah Jakarta Rayakan Ritual Ratapan

“Jadi, selama perayaan Karbala belum sampai tingkat itu, kita lihat saja. Kalau sudah pada tahap melukai, MUI baru mengeluarkan pendapat (kesesatan Syiah),” ujar Waketum MUI, Yunahar Ilyas, kemarin, (10/9).

Yunahar mengatakan, MUI telah mengeluarkan buku panduan mengenai ajaran Syiah dan beberapa fatwa tentang penyimpangan ajaran Syiah. Hal ini untuk membendung derasnya pemahaman Syiah yang semakin berkembang ke tengah masyarakat.

“Nah, itu cukuplah sementara untuk menghambat berkembangnya Syiah di Indonesia. Sebab, Indonesia adalah negeri Sunni, ahlus sunnah wal jamaah,” kata Yunahar.

Ia menilai, jika Syiah semakin berkembang dan memiliki pengikut dengan jumlah besar di Indonesia, hal ini akan memunculkan potensi disintegrasi bangsa. Sebab, Syiah dan Sunni memiliki perbedaan mendasar cukup tajam.

“Kalau Syiah berkembang, kita belajar dari negara lain seperti Irak dan Yaman, itu bisa konflik dan berdarah-darah. Jadi, kita tidak ingin itu berkembang di Indonesia, makanya kita mencoba untuk menghambat jangan sampai gerakan Syiah berkembang,” ujarnya. (Aza/INI-Network)

Berikan Komentar

avatar
  Subscribe  
Notify of