Berbahaya, Jangan Buang Bangkai Werok di Jalan

0
bangkai werok. Foto: otentika

Oleh: Ade Lukmono

Semaranginside.com, Semarang – Bangkai tikus sering ditemukan tergeletak di jalanan. Ternyata bangkai tersebut memang sengaja ditaruh oleh masyarakat agar dilindas oleh kendaraan dan mengering di jalanan.

Hal ini dilarang oleh Penanggung Jawab Tim Kesehatan Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Daerah (BPSDMD) Provinsi Jawa Tengah, dr Liza Suryani Dewi yang mengimbau masyarakat agar bangkai tikus atau werok tidak dilindaskan kendaraan di jalan raya.

Dia menyarankan, bangkai tikus atau werok itu dibakar atau ditanam dalam tanah, sehingga tidak menimbulkan suatu penyakit. Penyakit yang bisa menular dari tikus ke manusia di antaranya adalah leptospirosis. Penyakit ini bisa menular melalui kontak langsung atau air.

Baca Juga:  Gara-Gara Kencing Tikus, 89 Orang Meninggal

Orang yang terkena leptospirosis biasanya mengalami gejala klinis mirip demam berdarah, yakni demam panas, nyeri otot, mata merah, kulit kuning. Jika tidak segera ditangani, bakteri bisa menyerang hingga ke hati.

Menurutnya, tikus atau werok harus dikendalikan. Dinas terkait diyakininya sudah memiliki cara jitu tersendiri untuk mengendalikan werok di kampung-kampung ataupun perkotaan.

“Werok adalah binatang pengerat yang hidupnya di selokan-selokan dan menjijikan sehingga perlu dikendalikan keberadaannya. Lingkungan kotor tersebut menambah daftar penyakit yang bisa ditularkan tikus kepada manusia,” ucapnya.

Dikatakan Liza, lingkungan yang bersih, manusia sehat selalu ada korelasinya. Demikian pula, pembuangan sampah yang benar sangat pegang peranan agar tidak menarik perhatian tikus untuk datang.

Baca Juga:  Dibalik Gerakan Makan Mi Ayam Wonogiri Tanggal 30 Juni

“Menumpas tikus-tikus di selokan-selokan kota, mesti bekerja sama dengan Dinas terkait, serta tak luput peran serta masyarakat sangat dibutuhkan,” ucapnya.

Untuk menumpas tikus yang berada di kawasan pertanian, Dinas Pertanian dan Peternakan Kota Semarang telah memiliki cara tersendiri, yaitu dengan melepaskan burung hantu di kawasan pertanian. Burung hantu merupakan predator alami tikus sehingga diharapkan menjadi pengendali tikus.

Untuk di daerah perkotaan, masyarakat diminta untuk lebih serius menjaga kebersihan lingkungan, khususnya saluran air atau selokan yang biasa digunakan tikus sebagai sarang.

(Ags)

Berikan Komentar

avatar
  Subscribe  
Notify of