Berkata Cinta Rasulullah Muhammad, Apa Buktinya?

0
Rooabra Farsi (Flickr)

Oleh: Nurcholis

Semaranginside.com, Jakarta – Dalam Perang Uhud, barisan kaum muslimin diriwayatkan terpecah-belah dan kocar-kacir dari Rasulullah. Musuh berhasil melukai Nabi, mematahkan gigi, dahi, dan bibir beliau, sehingga darah mengalir membasahi wajahnya. Adalah Zaid bin Sahal an-Najjary alias Abu Thalhah, berada di barisan depan Rasulullah ﷺ , berdiri dengan kokohnya, menjadi perisai untuk melindungi beliau.

“Demi Allah, janganlah Rasulullah ﷺ mendongakkan kepala melihat mereka, nanti terkena panah mereka. Biarkan leher dan dadaku sejajar dengan leher dan dada Rasulullah ﷺ . Jadikan aku menjadi perisai Anda,” ujar Abu Thalhah.

Dalam kisah lain, suatu ketika, Kaum Qurasy mengirim Urwah Ibnu Mas’ud Ats-Tsaqafi menemui Rasulullah Muhamamad untuk melakukan serah terima perjanjian. Urwah begitu kaget melihat bagaimana para sahabat-sahabat mengabadikan penghormatannya pada Baginda Nabi dan memuliakannya.

“Dari Miswar dan Marwan, ia berkata, “Nabi Muhammad keluar untuk berperang pada waktu terjadinya perdamaian Hudaibiyah. Ia berkata, “Demi Allah tidak satu lendirpun yang keluar dari diri Nabi Muhammad ﷺ itu (dahak), melainkan akan jatuh pada telapak tangan Sahabat (ditangkap), kemudian orang itu menggosokkannya pada muka dan kulitnya. Jika Nabi berwudhu, mereka berlomba-lomba mendatangkan air wudhu untuk beliau, Jika beliau berbicara, mereka merendahkan suara di hadapan baliau, Dan mereka tidak berani mengadu pandanan dengan beliau sebagai rasa penghormatan baginya.”

Ibnu Mas’ud menceritakan semua peristiwa itu di hadapan kaum Qurays, Urwan berkata, “Wahai kaum Qurays! Demi Tuhan! Saya sering mendatangi raja-raja. Dan sayapun pernah mendatangi Kaisra, Kisra (gelar raja Persia), dan Najasyi. Namun demi Tuhan, saya tidak pernah melihat seorang rajapun, yang dihormati para sahabatnya seperti halnya para sahabat Muhammad menghormati Muhammad.”

Adalah Salman al Farisi. Sebelum meninggal dunia, sahabat Nabi keturunan Farsi ini menangis sejadi-jadinya. Sebagaimana diriwayatnya Ibnu Majah, saat itu datanglah Saad bin Abi Waqash mengunjunginya dan bertanya mengapa dia menangis seperti itu.  “Aku menangis sebab dulu pernah berjanji pada Rasulullah ﷺ dan aku sudah melanggar janjiku pada Nabi.”

Baca Juga:  Prabowo: Perkataan Nabi Menjadi Pedoman Hidup Saya

“Janji apa yang telah Nabi buat denganmu?” kata Saad.

“Nabi telah berjanji padaku agar aku tak mengambil dunia, kecuali sekedar sebagai pengembara saja. Aku tidak melihat, kecuali aku telah melampaui janji Rasulullah ﷺ,” kata Salman al Farisi.

Menurut banyak riwayat, Salman meninggal dunia hanya meninggalkan 27 Dirham saja, itupun beliau merasa telah terlalu banyak mengambil dunia.

Imam Hajar al Asqalani dalam Kitab Al Ishabah meriwayatkan Anas Ibnu Malik, ketika ayah Abu Bakar Ash Shidiq ra, Abu Quhafah mengulurkan tangannya kepada Nabi untuk mengikrarkan syahadatain (Dua Kalimat Syahadat), Abu Bakar menangis membuat Nabi bertanya. “Apa yang menyebabkan engkau menangis ya Abu Bakar? tanya Nabi Muhammad ﷺ.

Abu Bakar menjawab, “Jikalah tangan bapak saudaramu, yaitu Abu Thalib, berada di tangan bapakku sekarang, sehingga saat ini dia (bapakku ) menjadi Islam dan membuatmu bahagia saat ini, ya Rasulullah, itu lebih aku sukai, dibanding bapakku memeluk Islam.”

Begitulah Abu Bakar. lebih mencintai Rasulullah Muhammad ﷺ dibanding bapaknya sendiri. Sebab itulah Nabi begitu sayang pada pada Abu Bakar.

Abu Bakar adalah satu satunya sahabat yang paling memahami perasaan Rasulullah ﷺ, sampai Nabi berkata, “Jika aku boleh mengambil kekasih di antara umatku, niscaya aku akan mengambil Abu Bakar sebagai kekasih, “ kata Nabi.

Abu Bakar adalah manifestasi kecintaan Nabi, meskipun beliau sendiri tidak pernah mengadakan Maulid Nabi setiap tahun.

Ibnu Katsir menuturkan kisah seorang sahabat Nabi ﷺ bernama Zaid bin ad-Datsinah yang menjadi tawanan dan terancam dibunuh. Saat itu, sang pembesar kafir Quraisy, Abu Sufyan bin Harb berkata, “Ya Zaid, maukah posisi kamu sekarang digantikan oleh Muhammad yang akan kami penggal lehernya, kemudian engkau dibebaskan kembali pada keluargamu?” Dengan yakin, Zaid  menjawab; “Demi Allah, aku tidak akan rela jika saat ini Muhammad ﷺ  berada di rumahnya tertusuk sebuah duri, dalam keadaan aku berada di rumah bersama keluargaku”.

Abu Sufyan pun berkata, “Tidak pernah aku mendapatkan seseorang yang mencintai orang lain seperti cintanya para sahabat Muhammad kepada Muhammad!” (Dalam Kitab al-Bidayah wa an-Nihayah).

Bagi seorang mukmin, kecintaan terhadap Rasulullah ﷺ adalah sebuah keniscayaan, sebagai konsekuensi dari keimanan kita. Kecintaan pada Rasulullah ﷺ harus berada di atas segalanya, melebihi kecintaan pada anak dan isteri, kecintaan kepada hartajabatan, bahkan kecintaannya pada dirinya sendiri.

Baca Juga:  Jutaan Orang di Seluruh Dunia Peringati Maulid nabi

Rasulullah bersabda,

لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ – رواه البخاري

“Tidaklah sempurna iman salah seorang dari kalian hingga aku lebih dicintainya daripada orangtua dan anaknya.” (HR. Bukhari).

Selain itu, cara kita mencintai nabi adalah meneladani perilaku dan perbuatan mulianya. Allah SWT berfiman;

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ اْلآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا – الأحزاب 21

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS: Al-Ahzab: 21).

Kita tidak hidup di zaman Rasulullah ﷺ dan sahabat. Namun kecintaan kepada nabi harus tetap terjaga setiap saat, tanpa menunggu Perayaan Maulid Nabi. Cara kita mencintai adalah meneladani Nabi, Sahabat dan orang-orang shalih yang lebih dulu beriman sebelum kita.

Sebagai penutup, Imam Asy Syafi’i menulis sebuah puisi:

“Aku mencintai orang-orang sholeh meskipun aku bukan termasuk di antara mereka,

Mudah-mudahan dengan mereka itu, aku bisa mendapatkan syafa’at kelak,

 Aku membenci para pelaku maksiat meskipun aku tak berbeda dengan mereka,

 Aku membenci orang yang membuang-buang usianya dalam kesia-siaan walaupun aku sendiri adalah orang  yang banyak menyia-nyiakan usia.” (Puisi Imam Asy Sayifi dalam kitab Mawa’idh Imam Syafi’i).

Semoga kita bisa mengambil pelajaran dari semua kisah ini. (CK/INI-Network)

Berikan Komentar

avatar
  Subscribe  
Notify of