Biadab, Raskin pun Dioplos Demi Keuntungan Pribadi

0
Ilustrasi beras bantuan pangan nontunai. Foto: Antara

Oleh: Andryanto S

Semaranginside.com, Jakarta – Perum Bulog mengungkap modus kejahatan baru soal penyaluran beras. Meski sudah terang-terangan berstatus beras bantuan untuk warga miskin, ada oknum yang nekat mengoplos untuk mendapatkan keuntungan.

Direktur Utama (Dirut) Perum Bulog Budi Waseso mengungkapkan sejumlah modus baru kejahatan yang dilakukan oleh oknum penyalur beras bantuan pangan non tunai (BPNT). Modus baru itu sangat merugikan masyarakat penerima bantuan yang notabene rakyat tak mampu.

Budi Waseso atau akrab disapa Buwas menjelaskan salah satu modus adalah menukar beras Bulog dengan beras lain yang kualitasnya lebih rendah dalam kantung berlogo Bulog. Diduga, ada oknum yang sengaja melakukan penjualan kantung beras merek Bulog untuk mengelabui masyarakat penerima bantuan.

“Ada penjualan karung-karung kemasan yang sama dengan sejumlah merek, termasuk merek Bulog. Itu diperjualbelikan, sudah tertangkap sama saya, terus diisi beras semau-maunya. Jadi itu yang memfitnah Bulog, dikasih beras jelek karena kantongnya merek Bulog,” kata Buwas di Kantor Perum Bulog Jakarta, Jumat (20/9).

Baca Juga:  Prabowo Sebut Harga Beras Termahal di Dunia, Jokowi Klaim Termurah

Buwas menduga terdapat beberapa pelanggaran hukum yang dilakukan oleh oknum penyalur BPNT seperti penetapan harga beras yang terlalu tinggi. Selain itu, masyarakat penerima bantuan juga memperoleh beras yang harganya tidak sesuai dengan kualitas atau mendapatkan jenis yang berbeda.

Kerugian yang ditaksir akibat praktik penipuan oleh oknum penyalur BPNT mencapai Rp 30 ribu per keluarga. Besaran BPNT yang ditetapkan adalah sebesar Rp 110 ribu per keluarga penerima manfaat (KPM) per bulan.

Jika dijumlahkan, kerugian yang ditimbulkan cukup besar, mengingat berdasarkan pantauan di lapangan, ditemukan 32 kasus dengan modus serupa. Meski demikian, Buwas belum mau mengungkapkan lokasi mana saja yang terdapat modus kejahatan penyaluran BPNT.

Baca Juga:  Angkut Beras, Pesawat Perintis Hilang Kontak di Papua

“Ini kan ada proyek besar, uang yang besar. Sepertinya tidak kelihatan, padahal nilainya besar. Tidak hanya di Pulau Jawa, tapi beberapa pulau, di beberapa wilayah,” kata Buwas.

Buwas menambahkan saat ini Bulog memiliki stok 2,5 juta ton setara beras dengan penyaluran harian berkisar 4.000 ton per hari khusus untuk Operasi Pasar (OP) atau di luar BPNT. Jika Bulog ditugaskan untuk memasok stok cadangan beras pemerintah (CBP) untuk Program BPNT, artinya perusahaan akan mengeluarkan stok sekitar 700.000 ton untuk periode September-Desember 2019.

“Artinya, stok akhir tahun masih akan sangat aman karena kewajiban stok akhir tahun ini sebenarnya hanya 1 juta sampai 1,5 juta ton,” kata dia. (*/Dry/Ant/INI-Network)

Berikan Komentar

avatar
  Subscribe  
Notify of