Budaya Jadi Kunci Penting Pasca Revolusi Industri 4.0

0
Prof Aris Junaidi pada seminar di Unika Soegijapranata. Foto : unika.ac.id

Oleh : Nugroho

Semaranginside.com, Semarang – Setelah revolusi industri 4.0, dunia sekarang bergerak menuju society 5.0. Pada zaman itu, peran manusia lebih besar menjadi penentu arah, berbeda dengan sebelumnya. Hal itu diungkapkan pakar kecerdasan buatan (artificial intelligence, AI) Irendra Radjawali di Unika Soegijapranata baru-baru ini.

“Kita khawatir ada sementara orang yang masih beranggapan revolusi industri 4.0 masih gimmicksaja. Justru secanggih-canggihnya teknologi jika bicara revolusi industri 4.0 pasti kita bicara tentang big data,” ucap Radja.

“Dan semaju apapun teknologi atau algoritma tetapi ketika analognya atau manusianya tidak beres, maka hasilnya pun juga tidak beres. Sehingga apabila tidak kita bereskan relasi kemanusiaannya maka revolusi industri 4.0 akan menjadikan manusia seperti zombi atau manusia hidup tapi kepalanya tidak berpikir. Karena yang masuk ke dalam kepalanya tidak karuan melalui HP atau media apa pun,” terangnya.

Irendra menegaskan, budaya memegang peran penting pada era di depan.

“Sehingga pasca revolusi industri 4.0 adalah budaya. Ketika mesin lebih pintar, lebih cerdas, atau lebih cepat daripada manusia, apa yang akan terjadi pada kemanusiaan kalau bukan kegilaan manusia, budaya, cinta, atau empati, Itu yang tidak bisa kita ajarkan ke mesin,” tegasnya.

Baca Juga:  Menteri PUPR Terima Soegijapranata Award

Selain itu, problem yang juga akan dihadapai yakni menyangkut pengelolaan big data. Apakah hal itu dikelola pemerintah atau privat yang memunculkan kapitalisme baru.

“Maka menurut kami, Society 5.0 kita diantara dua hal itu atau jadi bandul, artinya budaya harus bisa menarik tidak harus selalu ke satu sisi dan tidak ketarik sisi yang lainnya,” pungkasnya.

Irendra berbicara hal tersebut pada Seminar Pendidikan Tinggi Menuju Society 5.0 yang diselenggarakan oleh Forum Doktor LPPM Unika Soegijapranata. Bertempat di Ruang Teater Gedung Thomas Aquinas seminar itu mengusung topik Ilmu Pengetahuan dan Teknologi untuk Mandat Kemanusiaan. Selain Irendra, hadir pula sebagai pembicara Direktur Penjaminan Mutu Direktorat Jenderal Penguatan Riset dan Pengembangan Prof Dr Aris Junaidi serta salah satu dosen Unika Soegijapranata Robertus Setiawan Aji Nugroho, PhD.

Baca Juga:  Kontroversi dalam Akademik Hal Biasa

Aris mengungkapkan upaya pemerintah dalam mendorong pengembangan pendidikan tinggi guna pemenuhan kebutuhan dunia kerja secara nasional maupun internasional.

“Saat ini kebijakan-kebijakan pembelajaran dan kemahasiswaan itu lebih banyak kepada yang dikaitkan dengan revolusi industri 4.0 melalui reorientasi kurikulum. Jadi ada penguatan literasinya, kemudian juga (Massive Open Online Courses) MOOCS-nya. Selanjutnya saat ini kita juga sedang menyusun online learning atau pembelajaran jarak jauh serta penyusunan kebijakan kita empat tahun ke depan sesuai dengan arahan Bapak Presiden, yang akan mengarah kepada vokasional,” katanya.

Dia juga menyingung pendidikan vokasi yang masih terlalu kecil porsinya.

“Kebijakan tersebut akan dilakukan mengingat proporsi politeknik (vokasi) masih sangat kecil sekali jika dibandingkan dengan institusi pendidikan tinggi, yaitu untuk politeknik masih sekitar 269 sedangkan institusi pendidikan tinggi di Indonesia kurang lebih sebesar 4.700-an. Oleh karena itu anggaran kita untuk lima tahun ke depan fokusnya pada pendidikan vokasi,” tambahnya.(nug)

Berikan Komentar

avatar
  Subscribe  
Notify of