Dangdut dan Rock Akan Dicoret dari Kawasan Wisata Kota Lama Semarang

0
Melukis on the spot di Kota Lama Semarang. Foto : Komunitas Raden Saleh

Oleh: Ade Lukmono

Semaranginside.com, Semarang – Penataan kawasan Kota Lama Semarang kini menjadi fokus Badan Pengelola Kawasan Kota Lama (BPK2L). Setelah proyek revitalisasi tahap pertama rampung, kunjungan wisatawan ke Kota Lama terlihat melonjak dan semakin ramai.

Keramaian wisatawan yang timbul rupanya juga diiringi tumbuhnya para seniman dan pengusaha kuliner di sana. Sepanjang Jalan Letjend Suprapto di Kawasan Kota Lama, banyak seniman yang memainkan musik sesuai genre masing-masing yang mereka sukai.

Ketua BPK2L, Hevearita Gunaryanti Rahayu mengatakan, ke depannya para seniman ini akan ditata. Hanya musisi yang terpilih dan sesuai dengan tema Kota Lama akan dipertahankan untuk bisa mengisi ruang dan tampil di Kota Lama Semarang.

“Penampilan kesenian harus disesuaikan dengan suasana kawasan heritage agar suasana yang menggambarkan Kota Lama bisa tetap hidup. Yang harus difokuskan adalah batasan-batasan dari kesenian itu. Mungkin ada dangdut atau rock, menurut kami tidak pas dengan bagunan herritage. Keseniannya harus sesuai suasana heritage, semisal saxofon, siteran, keroncong, atau jazz,” paparnya, Jumat (4/10).

Baca Juga:  Potensi Tsunami di Pandeglang, BMKG: Segera Mengungsi

Hevearita menambahkan, para musisi tersebut nantinya juga tidak hanya akan berada di Jalan Letjend Suprapto, melainkan akan dipisah untuk memecah keramaian di Kota Lama Semarang, seperti di Jalan Kepodang dan Sendowo yang dirasa berpotensi menarik wisatawan.

Untuk, usaha kuliner dan lainnya, Hevearita juga tidak memperbolehkan untuk berjualan di ruas jalan maupun jalir pedestrian agar tidak menganggu kenyamanan pengunjung maupun pengguna jalan. Dia mengatakan, Pemkot Semarang sudah menyediakan galeri industri kreatif bagi para pelaku usaha yang ingin berjualan.

Baca Juga:  Balas Dendam Marcus/Kevin pada Choi Solgyu/Seung Jae

“Kalau lapak di galeri industri kreatif ada yang kosong silakan masuk. Kalau semua pedagang diberikan izin di jalan, nanti malah jadi kaya pasar,” ujarnya.

Dia akan membangunkan lapak-lapak untuk para pelaku usaha agar dapat berjualan di Kota Lama. Pengusaha yang dimaksud adalah yang sesuai dengan konsep heritage, seperti cinderamata dan lainnya.

Ita juga sedang gencar berkomunikasi dengan pemilik-pemilik lahan yang bisa digunakan sebagai kantong parkir. Dia resah karena saat ini di kawasan Kota Lama Semarang terdapat banyak parkir liar yang tarifnya tinggi. Dia khawatir akan membuat wisatawan kapok berwisata di Kota Lama Semarang dikarenakan kondisi parkir yang kurang kondusif.

(Ags)

Berikan Komentar

avatar
  Subscribe  
Notify of