Dede Yusuf: Bonus Demografi Bisa Jadi Petaka

0
Ketua Komisi IX DPR, Dede Yusuf. Foto: Istimewa

Oleh: Muhajir

Semaranginside.com, Jakarta – Bonus Demografi Indonesia disebut sebagai pisau bermata dua. Jika tak dipersiapkan dengan baik akan menjadi blunder dan keterpurukan Indonesia.

Ketua Komisi IX DPR, Dede Yusuf, mengatakan salah satu keunggulan Indonesia di antara bangsa-bangsa lain adalah jumlah penduduk. Dalam teori ekonomi, keunggulan semacam ini disebut keunggulan mutlak. Penduduk Indonesia pada tahun 2018 tercatat 265 jiwa.

“Artinya akan lebih banyaknya yang bekerja memberikan nafkah ketimbang orang yang dinafkahi, dibiaya,” kata dia dalam peluncuran buku ‘Arah Baru Kebijakan Kesejahteraan Indonesia’ karya Fahri Hamzah di Gedung DPR, Jakarta, Selasa (10/9).

Menurut dia, jika pemerintah tidak mempersiapkan langkah-langkah strategis menghadapi bonus demografi ini maka akan menjadi petaka. Ini karena tantangan zaman ke depan akan semakin berat, sementara Indonesia saat ini masih dihadapkan dengan ekonomi yang terseok-seok.

Baca Juga:  Ini Strategi HRD Perusahaan Menyambut Bonus Demografi

Salah satu yang disoroti oleh Dede adalah masalah kualitas pendidikan di Indonesia yang belum merata. Capaian keberhasilan pemerintah dalam membangun pendidikan selama ini hanya dinilai secara kuantitatif dengan indikator Angka Partisipasi Kasar (APK) yang diklaim 100 persen.

Sementara, dalam indikator tersebut aspek kualitas dan pemerataannya masih terabaikan. Akibatnya, masih banyak tenaga kerja berpendidikan, tapi sulit mendapatkan pekerjaan atau tidak terserap oleh lapangan kerja yang ada.

Akibatnya, tenaga kerja ini (terutama lulusan SD san SMP) banyak lagi ke sektor informal dengan kondisi kualitas dan produktifitas yang sangat rendah. Hal ini tentu menjadi tantangan tersendiri bagi pemerintah kedepan.

Baca Juga:  Ini Strategi HRD Perusahaan Menyambut Bonus Demografi

“Mampukah mereka bersaing di era digital 4.0 ke depan?” katanya.

Dia meminta agar para siswa tidak hanya dimotivasi untuk mendapatkan ijazah semata. Tapi lebih dari itu, mereka harus diberi keterampilan khusus untuk menghadapi tantangan zaman di masa depan.

“Soal pendidikan kita tidak hanya mengejar sertifikat tapi kesiapan untuk masuk kepada dunia lapangan kerja. Mestinya lulus SMA sudah bisa masuk ke dunia kerja,” kata Dede. (EP/INI-Network)

Berikan Komentar

avatar
  Subscribe  
Notify of