Digerus Zaman, Suara Khas Kue Putu Bumbung Tetap Eksis

0
Paijo menjual Kue Putu Bumbung di Kota Semarang sejak 1979. Foto: Ade Lukmono/Semaranginside.com

Oleh: Ade Lukmono

Semaranginside.com, Semarang – Indonesia kaya akan kuliner tradisional, termasuk Kue Putu Bumbung, penganan Jawa yang saat ini mulai jarang ditemukan. Biasanya penjual kue Putu Bumbung menjakakan barang dagangan mereka dengan memikul atau membawanya dengan sepeda.

Suara khas yang keluar dari kukusan Kue Putu Bumbung langsung dapat dikenali. Suara nyaring nan panjang tersebut berasal dari bambu yang diberi lubang dengan ukuran tertentu sehingga menimbulkan suara seperti orang bersiul.

Ada beberapa versi yang menyebutkan asal muasal Kue Putu Bumbung bisa berada di Indonesia. Ada yang mengatakan bahwa kue dari tepung beras ini adalah berasal dari Belanda pada masa kolonial. Namun ada pula yang mengatakan Kue Putu Bumbung berasal dari Cina yang kemudian mengalami akulturasi dengan selera masyarakat Jawa.

Baca Juga:  Teka Teki Icardi, ''Dibuang'' ke PSG

Namun jika dilihat dari bahan dan cara penyajiannya, Kue Putu Bumbung lebih lekat dengan kuliner Asia dengan beras sebagai bahan dasarnya, bambu sebagai tempat pengolahannya serta gula yang digunakan sebagai pemanis di tengahnya.

Kue Putu merupakan jajanan yang terbuat dari tepung beras yang ditanak dengan gula merah di dalamnya. Kue putu ini dikukus dalam wadah bumbung bambu sepanjang 10 cm. Setelah matang kemudian ditaburi parutan kelapa sebagai toppingnya.

Pedagang kue Putu Bumbung, Paijo selama 40 tahun masih menjajakan makanan tradisional ini. Selama puluhan tahun itu pula dia mengaku menjajakan kue Putu dengan hanya gerobak pikulan berkeliling daerah Kelud dan Kaligarang, Kota Semarang.

Baca Juga:  Hanya Modal 2 Kursi, PSI Jagokan Dini S Purwono di Pilwakot Semarang

“Kue Putu Bumbung ini sudah jarang sekali yang menjualnya karena saat ini sudah banyak aneka macam jajanan. Kalau sekitar 1990an masih banyak,” kata dia, Minggu (22/9).

Harga satu kue Putu rata-rata dihargai Rp 1.000. Sejak 40 tahun lalu harganya berubah, mulai Rp 5 kemudian menjadi Rp 250, terus naik-naik lagi, sekarang jadi Rp 1.000.

Dalam sehari Paijo mengaku bisa menghabiskan adonan yang disiapkan untuk membuat Kue Putu Bumbung. “Kalau adonan bisa habis, berarti kira-kira 200an kue Putu. Tapi tergantung situasi dan cuaca,” tutupnya. (Ags)

Berikan Komentar

avatar
  Subscribe  
Notify of