Enam Tokoh Dianugerahi Gelar Pahlawan, Ini Profil Mereka

0
Presiden Joko Widodo menganugerahkan gelar pahlawan nasional kepada ahli waris dari enam orang tokoh di Istana Negara Jakarta, Jumat (8/11). Foto: Antara

Oleh: Azhar AP

Semaranginside.com, Jakarta – Sebanyak enam tokoh mendapatkan gelar pahlawan nasional dari Presiden Joko Widodo, Jumat (8/11). Gelar pahlawan nasional ini diberikan menjelang peringatan Hari Pahlawan, pada 10 November.

Gelar pahlawan nasional itu merupakan penghargaan dan penghormatan tinggi atas jasa-jasa para tokoh. Semasa hidup mereka memimpin dan berjuang untuk mencapai, merebut dan mengisi kenerdekaan serta mewujudkan persatuan dan kesatuan bangsa.

Berikut profil singkat enam tokoh tersebut:

1. Prof KH Abdoel Kahar Moezakir

KH Abdoel Kahar Moezakir adalah anggota Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI)/Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI).

Abdoel Kahar juga tercatat sebagai pendiri dan rektor Universitas Islam Indonesia (UII) para periode 1945-1948 dan 1948-1960. Lahir di Kotagede, Yogyakarta, Muzakkir mengenyam pendidikan di Universitas Kairo, Mesir lalu mendirikan Perhimpunan Indonesia Raya pada 1933.

Pengusul gelar pahlawan nasional untuk KH Kahar adalah UII Yogyakarta. Selain mendirikan UII, Kahar Muzakkir memang dikenang sebagai cendekiawan Muslim dan pejuang nasional.

2. Prof M Sardjito

Dua tokoh asal Daerah Istimewa Yogyakarta mendapatkan gelar pahlawan nasional dari Presiden Jokowi. Keduanya adalah Prof KH Abdoel Kahar Moezakir dan Prof M Sardjito. Keduanya juga tercatat sebagai cendekiawan muslim dan sama-sama pernah menjadi rektor UII.

Baca Juga:  Mengenang Dokter Kariadi, Pahlawan Kesehatan dari Semarang

Sardjito adalah Rektor pertama Universitas Gadjah Mada (UGM) 1950-1961 dan Rektor UII periode 1964-1970. Ia juga dikenal dengan biskuit Sardjito sebagai makanan khusus yang diramu Sardjito untuk bakal tentara Republik yang berada di medan perang. Keberadaan biskuit ini sangat membantu, apalagi kala itu persediaan logistik serba terbatas.

3. KH Masjkur

KH Masjkur berasal Jawa Timur. Dia lahir di Malang, 30 Desember 1904. Semasa hidupnya, ia menjabat sebagai Menteri Agama Indonesia keenam yakni pada tahun 1947-1949 dan 1953-1955. Ia juga pernah menjadi anggota DPR RI tahun 1956-1971 dan anggota Dewan Pertimbangan Agung pada tahun 1968.

Keterlibatannya dalam perjuangan kemerdekaan menonjol di zaman pendudukan Jepang, yakni sebagai anggota Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI).

Masjkur juga tercatat sebagai pendiri Pembela Tanah Air (Peta) yang kemudian menjadi unsur laskar rakyat dan TNI di seluruh Jawa. Ketika pertempuran 10 November 1945, namanya muncul sebagai pemimpin Barisan Sabilillah. Dia berjasa dalam membela dan memperjuangkan kemerdekaan RI.

Baca Juga:  Mengenang Dokter Kariadi, Pahlawan Kesehatan dari Semarang

4. Sultan Himayatuddin Oputa Yii Ko

Sultan Himayatuddin Oputa Yii Ko dari Sulawesi Tenggara. Sultan Himayatuddin dari Buton, Sulawesi Tenggara. La Karambau atau Sultan Himayatuddin diketahui konsisten berjuang dari dalam hutan dalam mengusir VOC Belanda dari tanah Buton melalui perang gerilya sejak 1755-1776.

5. Ruhana Kuddus

Ruhana Kuddus adalah jurnalis perempuan asal Sumatera Barat. Ruhana mendirikan sekolah Kerajinan Amai Setia (KAS) di Koto Gadang. Sembari aktif di bidang pendidikan yang disenanginya, Ruhana menulis di surat kabar perempuan, Poetri Hindia.

Ketika dibredel pemerintah Belanda, Ruhana berinisiatif mendirikan surat kabar, bernama Sunting Melayu, yang tercatat sebagai salah satu surat kabar perempuan pertama di Indonesia.

5. Alexander Andries (AA) Maramis

AA Maramis berasal dari Sulawesi Utara. Dia pernah menjadi anggota BPUPKI yang bertugas merumuskan dasar negara. Ia menjadi Menteri Keuangan periode 1945-1945 dan 1948-1949.

Maramin adalah orang yang menandatangani Oeang Republik Indonesia pertama dengan denominasi 1, 5, dan 10 sen ditambah ½, 1, 5, 10, dan 100 rupiah.

(Aza/Ant/INI-Network)

Berikan Komentar

avatar
  Subscribe  
Notify of