Erick Thohir, Eks Bos Inter Milan yang Jabat Menteri BUMN

0
Erick Thohir. Foto: Antara

Oleh: Arif S

Semaranginside.com, Jakarta – Popularitas Erick Thohir tak lepas dari sentuhan tangan almarhum mantan menteri koperasi dan usaha kecil dan menengah (UKM), Adi Sasono. Saat itu, tahun 2001, Harian Republika sedang memerlukan suntikan modal. Sebagai ketua umum Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI) yang memegang saham mayoroitas Republika, Adi pun mencari mitra yang mau berinvestasi di media massa tersebut.

Kebetulan menkop juga menjadi pembina bagi pengusaha muda/UKM. Maka, ia pun mengajak anak-anak muda di Mahaka Group untuk ikut menangani Republika. Sejak itu Mahaka menjadi pemegang saham mayoritas di Republika dan nama Erick pun kian dikenal luas.

Usahanya di bidang media juga merambah ke mana-mana. Ada radio Gen FM dan Jak FM, teve lokal Jaktv, Golf Digest, Mahaka Advertising, dan Rajakarcis.com. Masuknya Erick sebagai dirut di TVOne dan Anteve membuat dia menjadi saah satu tokoh media terkemuka di tanah air. “Semangatnya luar biasa dan dia memiliki kemampuan manajerial yang bagus,” ujar tokoh pers Karni Ilyas.

Pria kelahiran Jakarta, 30 Mei 1970, ini sudah kenal bisnis sejak usia belia. Usai menamatkan SMA di Jakarta, Erick menyelesaikan S-1 di Universitas Glendale dan MBA dari Universitas Nasional California, dua-duanya di Amerika Serikat (AS). Bersama rekan-rekannya saat di AS, Erick mendirikan Mahaka Group yag banyak bergerak di bidang ekspor-impor. Ia juga memegang kendali usaha restoran Hanamasa yang tersebar di pelbagai kota dan PT Wahana Ottomitra Multiartha (WIM) yang merupakan perusahaan pembiayaan untuk motor Honda.

Baca Juga:  Ini Daftar Kekayaan 10 Menteri Jokowi, Siapa Terkaya?

Bisnis raksasa lainnya yang dikelola bersama sang kakak, Garibaldi ‘Boy’ Thohir, adalah usaha tambang batubara Adaro Energy. Kiprah bisnis Erick bisa jadi menurun dari sang ayah (Mohamad ‘Teddy’ Thohir) yang pernah menjadi direksi PT Astra Internasional dan memiliki beberapa usaha.

Kesukaannya pada olahraga basket juga membawa Erick mendirikan klub basket papan atas Mahaka Grup dan Mahaka Putri. Erick kemudiana menjadi ketua umum Persatuan Bola Basket Seluruh Indonesia (Perbasi) selama 2006-2010. Ayah tiga anak ini pun sempat menjabat sebagai presiden Asosiasi Bola Basket Asia Tenggara (SEABA).

Kemampuannya mengelola organisasi olahraga membuatnya ditunjuk sebagai komandan kontingen Indonesia untuk Olimpiade di London 2012. Suami Eizabeth Tjandra ini bahkan terpilih pula sebagai ketua umum Komite Olimpiade Indonesia dan ketua penyelenggara Asian Games (INASGOC) 2019 di Jakarta dan Palembang.

Langkah paling fenomenal Erick adalah saat dia membeli saham mayoritas klub sepak bola raksasa di Italia, Internazionale Milano (Inter Milan). Ia lalu menjadi presiden di klub legendaris tersebut. Sebelum itu, Erick juga membeli klub sepak bola di AS, DC United, serta sempat menjadi pemegang saham klub basket ternama di AS, Philadelphia 76ers dan klub sepak bola lokal Persib Bandung.

Baca Juga:  Soal Ahok, Menteri BUMN: Tunggu Awal Desember!

Erick mulai bersinggungan denga politik ketika menjadi ketua tim pemenangan Joko Widodo-Ma’ruf Amin. Setelah kemenangan Jokowi-Ma’ruf, Erick yang merupakan sahabat dekat Sandiaga Uno ini langsung masuk kandidat calon menteri. Rekan Erick di Mahaka Group, Muhammad Luthfi, telah lebh dulu berkiprah di panggung politik saat menjadi tim sukses SBY-Boediono. Luthfi lalu menjadi kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) dan menteri perdagangan di era pemerintahan pertama SBY 2004-2009.

Sebenarnya, Erick pernah berniat tak akan terlibat dalam politik praktis. “Biar teman-teman saya yang berpolitik, saya akan menekuni bisnis saja,” tuturnya di tahun 2001. Rupanya niatnya itu pun gugur ketika dia bersepakat menjadi ketua tim pemenangan Jokowi-Ma’ruf. Masyarakat kini menanti kiprahnya di kabinet.

Senin (21/10) lalu, Erick dipanggil Jokowi ke Istana Kepresidenan. Hari ini, pemanggilan bos Mahaka Group itu ke istana akhirnya terkuak. Erick dipercaya mengemban amanah sebagai menteri BUMN.

Tentu saja, tugas Erick tidak mudah. Dia harus membenahi perusahaan-perusahaan pelat merah agar bisa berdaya saing di kancah internasional dan tidak merugi melulu. Tak hanya itu, dia juga dituntut membenahi BUMN dari berbagai praktik korupsi yang marak terjadi. (AIJ/INI-Network)

Berikan Komentar

avatar
  Subscribe  
Notify of