Fenomena Upwelling Bunuh Puluhan Ton Ikan di Dua Waduk

0
Ilustrasi. Foto: Ant.

Oleh: Agus Susilo

Semaranginside.com, Semarang – Puluhan ton ikan dilaporkan mati mendadak. Pertama terjadi di karamba Wadung Kedungombo Kabupaten Sragen dan beberapa hari lalu terjadi di Waduk Wadaslintang, Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah.

Memperoleh laporan itu, Balai Karantina Ikan, Pengendalian Mutu, dan Keamanan Hasil Perikanan (BKIPM) Semarang turun lapangan dan melakukan uji laboratorium. Dari hasil penelitian, kematian berbagai jenis ikan, secara mendadak dan massal yang dibudidayakan di perairan waduk disebabkan oleh fenomena ‘upwelling’ atau fenomena pembalikan massa air.

“Hasil uji sampel menunjukkan, kematina ikan itu disebabkan fenomena upwelling. Itu tahunan,” kata Kepala BKIPM Semarang Raden Gatot Perdana, Jumat (26/7).

Ia menjelaskan fenomena upwelling itu terjadi ketika suhu permukaan air rendah sehingga massa air di bagian bawah danau lebih hangat dan menghasilkan massa air, baik padat maupun gas di bawahnya, yang naik membawa senyawa beracun dan menyebabkan ikan sulit bernafas karena konsentrasi oksigen minimal.

Baca Juga:  YLKI: Ruang Merokok di Bus AKAP Langgar UU Kesehatan

Menurut dia, kejadian serupa pernah terjadi sekitar awal 2009 dengan tanda-tanda awal yaitu musim kemarau yang panjang, debit air waduk berkurang sampai 50 persen, adanya angin dari arah selatan, serta warna air mulai berubah.

Kematian mendadak puluhan ton ikan di keramba milik petani di Waduk Wadaslintang, tepatnya di wilayah Desa Sumberejo, Kecamatan Wadaslintang, Kabupaten Wonosobo, itu terjadi sejak Minggu (21/7) malam.

Menindaklanjuti informasi tersebut, BKIPM Semarang merespons dengan melakukan penanganan dan pengambilan sampel ikan dari dua titik keramba yang berada di tengah Waduk Wadaslintang.

Baca Juga:  Sandiaga Uno Sampaikan Duka Mendalam atas Peristiwa Penembakan Selandia Baru

Setelah 3-4 hari sejak awak kejadian, kondisi kematian sudah mulai menurun dengan jenis ikan yang mati yaitu ikan nila dengan ukuran 1-2 ekor per kilogram atau usia panen dengan masa pemeliharaan 3,5 bulan.

Untuk mengantisipasi kematian ikan di berbagai wilayah akibat fenomena upwelling, BKIPM Semarang mengimbau masyarakat pembudi daya keramba jaring apung agar cermat dan rutin menguji kualitas air sebagai prasyarat lingkungan untuk budi daya ikan.

Kemudian, mengatur kepadatan tebar dan segera melakukan pemanenan dan penarikan jaring keramba ke tepi apabila mulai terjadi perubahan cuaca yang ekstrem. (Ags/Ant)

Berikan Komentar

avatar
  Subscribe  
Notify of