Gaji ASN, Jalan Tol, Siapa Punya?

0
Ilustrasi. Foto: Istimewa

Oleh: H. Mohammad |

Tirai itu pelan-pelan terbuka. Tokoh dengan watak aslinya muncul. Membela junjungannya dengan menanggalkan akal-sehat.

Semaranginside.com, Jakarta — Tontonan pertama, Kamis pekan lalu, Menteri Komunikasi dan Informasi, Rudiantara, dengan nada tinggi berteriak pada pegawainya, “Yang gaji kamu siapa?”. Pertanyaan itu ditujukan kepada seorang ibu pegawai ASN (Aparatur Sipil Negara) yang memilih desain poster nomor 2 untuk sosialisasi pemilu. Karena si ibu memilih nomor 2 terkait keyakinan atas misi-visi yang disampaikan oleh nomor dua (maksudnya PRabowo-Sandi).

Kedua, Wali Kota Semarang, Hendrar Pribadi, meminta masyarakat untuk tidak menggunakan jalan tol jika tidak mendukung pasangann Joko Widodo–Ma’ruf Amin dalam Pilpres 2019. Pernyataan itu disampaikan Hendrar dalam acara temu Paguyuban Pengusaha Jawa Tegah di Semarang Town Square, semarang, Sabtu (2/2).

Dua tokoh teater baru itu manggung diatas pentas, ditonton oleh ratusan orang yang rata-rata berpendidikan dan berasal dari kelas menengah-atas. Mereka, para penonton teater tersebut, adalah orang-orang yang dewasa dan waras. Punya sikap dan pendirian yang mandiri.

Baca Juga:  Caleg Stres, RSJ Semarang Siapkan Psikiater dan 360 Bed

Ketika tontonan dan dialog yang disampaikan sang tokoh ternyata tidak bermutu, maka kecewalah para penonton. Kekecewaan itu bisa dijelaskan dengan dua hal ini:

Pertana, tentang gaji ASN, siapa yang bayar? Darimana sumber dana untuk membayar ASN, termasuk untuk menggaji para menteri dan presiden? Gaji ASN, menteri dan presiden, bukan diambil dari kantong presiden. Tapi semua itu berasal dari APBN yang bersumber dari rakyat juga, antara lain, pajak yang dikutip oleh Negara.

Kedua, jalan tol, siapa yang bayar? Jalan tol dibangun oleh pemerintah, dengan uang pinjaman. Nanti, generasi anak-cucu yang akan bayar.

Dengan fakta-fakta tersebut diatas, maka tidaklah wajar jika gaji ASN dan jalan tol dijadikan komoditi untuk mempromosikan salah satu pasangan calon presiden. Adalah sangat naïf dan mempertontonkan kebodohan diri sendiri ketika sang tokoh justru mengeluarkan pernyataan yang sangat kasar, emosional, dan tidak menjunjung sopan-santun sebagai orang Timur.

Baca Juga:  Sudah Gajian, Intip Tips Hemat Ala Orang Jepang

Pilpres pada 17 April 2019 mesti disikapi sebagai lomba. Dalam berlomba, yang ditampilkan adalah kebaikan dan dilakukan dengan cara-cara yang sportif. Inilah yang membedakan lomba dengan pertandingan.

Dalam pertandingan, semangat untuk mengalahkan lawan dinomorsatukan. Inilah yang membuat pertandingan, jika tidak diawasi dengan sangat ketat, akan diwarnai dengan berbagai kecurangan dan keculasan. Semua cara, termasuk cara-cara yang haram, akan dilakukan.

Masalahnya kembali pada para peserta dan tim sukses masing-masing. Mau berlomba atau bertanding? Jika mau berlomba, perilaku curang, culas, tidak sportif, apalagi tidak mengenal sopan santun sebagai orang Timur, tidak perlu terjadi. (HMJ/INI-Network)

Berikan Komentar

avatar
  Subscribe  
Notify of