Islam Moderat dan Islam Konservatif yang Disalahfahami

0
Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno bersama Ketua Umum PP Muhammadiyah Haidar Nashir. Foto: Istimewa

Oleh: Suandri Ansah |

Pengelompokkan Islam seperti yang dilakukan LSI Denny JA merupakan pengelompokkan yang diciptakan Barat untuk mendikotomi gerakan Islam. Kredibilitas LSI pun diragukan

Semaranginside.com, Jakarta — Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA kembali merilis pemetaan dukungan pemilih Muslim pada Pilpres 2019, pada Selasa lalu (5/3). Menurut LSI peta dukungan terhadap Paslon 01 didominasi kalangan Nahdlatul Ulama (NU) yang diidentifikasi sebagai muslim moderat karena berorientasi Pancasila.

Sementara lawannya, Paslon 02 lebih banyak didukung Persaudaraan Alumni (PA) 212 dan kelompok Front Pembela Islam (FPI) yang dinilai konservatif merujuk kepada orientasi politik Timur Tengah.

Banyak lembaya survei, termasuk LSI yang diragukan kredibilitasnya karena berpihak secara politik Apalagi, menurut Fahmi Salim, Wasekjen Majelis Intelektual Ulama Muda Indonesia (MIUMI), kesimpulan LSI Denny JA soal islam moderat dan islam konsevatif sangat keliru

Baca Juga:  Final PSM vs Persija 6 Agustus, 5.000 Polisi Amankan Laga

Dua istilah ini tidak bisa dipertentangkan, karena menurut Fahmi, seorang Muslim memang semestinya bersikap konservatif sekaligus moderat. “Kategorisasi konservatif, moderat, bahkan radikal itu menurut saya tidak ada. Karena setiap muslim harus demikian,” ujar Wakil Ketua Majelis Tabligh PP Muhammadiyah ini.

Fahmi menguraikan, konservatif artinya menjaga nilai-nilai keaslian agama. Radikal yang berarti mengakar menuntut keimanan setiap Muslim mengakar. Sementara, umat Islam juga diperintahkan berpandangan moderat.

“Survei LSI Denny JA itu survei atau sebagai apa, lembaga survei independen atau konsultan politik? dari pertanyaan yang diajukan kepada responden, kok seperti membangun persepsi publik,” ujar Fahmi mempertanyakan kredibilitas survei.

Baca Juga:  KH Bachtiar Nasir: Pancasila Sebagai Aplikasi Iman dan Amal Shalih

Lebih lanjut, Fahmi menerangkan bahwa pengelompokkan Islam seperti LSI Denny JA merupakan pengelompokkan yang diciptakan Barat untuk mendikotomi gerakan Islam. “Muslim di Indonesia tetap menginginkan bentuk negara NKRI, bagi umat Islam NKRI harus memayungi umat menjalankan agamanya secara kaffah (menyeluruh), ” ungkapnya.

Banyak tokoh dari Muhammadiyah, sebagai ormas islam moderat melabuhkan pilihannya kepada pasangan 02, Prabowo Sandi. Begitu pula, kalangan ulama dari Nahdhatul ulama. Apakah, mereka berubah jadi konservatif karena mendukung Prabowo Sandi? (Kbb)

Berikan Komentar

avatar
  Subscribe  
Notify of