Isu Energi: Jokowi Tak Beri Solusi, Prabowo Sekadar Jargon

0
Capres nomor urut 01 Joko Widodo (kiri) berjalan bersama capres no urut 02 Prabowo Subianto sebelum mengikuti Debat. Foto: Antara

Oleh: Suandri Ansah |

Alih-alih membuat satu peta jalan yang lebih komprehensif terkait transisi energi, malah memunculkan kebijakan parsial

semaranginside.com, Jakarta — Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) menyoroti Debat Capres 2019 yang berlangsung pada Ahad (17/2) malam. Debat itu mengangkat isu lingkungan hidup, energi, pangan, infrastruktur, dan sumber daya alam.

Pada segmen satu, Capres 01 Joko Widodo (Jokowi) menekankan pada isu pengurangan pemakaian energi fosil dan mendorong penggunaan biodiesel, dan pemakaian green fuel .

“Sudah kita mulai dengan melakukan produk di B20. Ini akan kita teruskan sampai ke B100 sehingga ketergantungan kita pada energi fosil akan semakin dikurangi dari tahun ke tahun,” kata Jokowi.

Sementara Capres 02, Prabowo Subianto berbicara tentang pengolahan energi dan sumber daya alam secara berdikari. Dia lantas menyebut berbagai macam swasembada: swasembada pangan, swasembada energi, dan swasembada air.

Baca Juga:  Bersama Ribuan Santri dan Kiai, Ganjar Salat Istisqa Minta Hujan

“PBB sekarang mengatakan bahwa inilah tiga masalah yang utama tolak ukur keberhasilan suatu negara. Suatu negara dikatakan bisa berhasil kalau bisa memenuhi pangan untuk rakyatnya, energi untuk
rakyatnya, dan air tanpa impor,” kata Prabowo.

Manajer Kampanye Keadilan Iklim WALHI Yuyun Harmono menyayangkan visi Jokowi yang tidak mendorong energi terbarukan, malah mendorong pemanfaatan energi berbasis lahan. “Alih-alih membuat satu peta jalan yang lebih komprehensif terkait transisi energi, kata Yuyun.

Jokowi memunculkan kebijakan parsial seperti biofuel dan biodiesel yang diperoleh dari sawit. “Karena tentu sawit maupun bio ethanol yang lain akan membutuhkan lahan apalagi misalnya dinaikkan jadi B100. Seiring kebutuhan akan energi pasti akan membutuhkan lahan yang luas sekali,” jelas Yuyun ditemui Indonesiainside.id di kantornya, Jakarta Selatan, Ahad (17/2) malam.

Baca Juga:  Abraham Samad Komentari Pemilihan Capim KPK

“Dan tentu ini akan menambah emisi di sektor lahan dan memperbanyak konflik agraria yang belum diselesaikan pemerintah,” imbuh Yuyun.

Sementara pada Capres 02, WALHI memandang Prabowo masih ‘hobi’ mengeluarkan jargon-jargon yang bersifat umum. Prabowo dinilai tidak menjelaskan secara detail apa saja rencananya.

“Prabowo belum mampu menerjemahkan dalam tataran programatik maupun strategi, jadi sekadar jargon-jargon yang kita saksikan di televisi bertahun tahun yang lalu,” kata Yuyun.

Seharusnya, lanjut Yuyun, Prabowo bisa mengambil keuntungan dari petahan dengan mengkritisi dan menawarkan program baru yang belum pernah dilakukan petahana.

“Petahana, dia bisa ngomong apapun. Dia (Prabowo) punya keistimewaan itu karena orang tidak melihat apa yang dilakukan dia dalam pemerintahan sebelumnya, artinya (Prabowo) bisa tawarkan apapun,” kata Yuyun. (Kbb)

Berikan Komentar

avatar
  Subscribe  
Notify of