Isu Energi yang Merusak Iklim Dunia

0
Capres nomor urut 01 Joko Widodo (kiri) dan Capres nomor urut 02 Prabowo Subianto (kanan) berjabat tangan seusai mengikuti debat capres 2019 di Hotel Sultan, Jakarta, Minggu (17/2/2019). Foto: Antara

Oleh: Suandrin Ansah |

Kedua pasangan calon presiden masih fokus pada pemanfaatan komoditas kelapa sawit sebagai energi. Akan terjadi eksploitasi lahan berlebihan

semaranginside.com, Jakarta — Manajer Kampanye Keadilan Iklim Eksekutif Nasional WALHI Yuyun Harmono menilai Debat Capres 2019 putaran kedua cukup menakutkan dalam konteks perubahan iklim.

“Agak nyesek juga, (perubahan iklim) tidak disebut, hutan juga tidak disebut, kata Yuyun saat konferensi pers di kantor WALHI, Jakarta Selatan, Senin (18/2).

Yuyun menjelaskan, isu perubahan iklim adalah isu yang melingkupi semua bidang. Sementara, saat debat berlangsung, Ahad (17/2) malam, kedua pasangan calon malah fokus pada pemanfaatan komoditas kelapa sawit.

“Ini agak menakutkan dalam konteks perubahan iklim. Ok masih pro-sawit dan pro-batu bara, padahal dua komoditas ini penyumbang terbesar emisi,” kata Yuyun.

Permasalahan sawit diangkat pada sesi kedua saat panelis menanyakan kebijakan dan strategi masing-masing calon untuk memperbaiki tata kelola sawit, agar target biodiesel minimal 20 persen atau B20 tercapai, buruh kebun dan petani mandiri sejahtera, serta keberlanjutan lingkungan terjaga.

Pertanyaan itu dilatarbelakangi bahwa sawit merupakan komoditas strategis karena memberi devisa terbesar di sektor pertanian dan sumber energi alternatif. Saat ini lahan perkebunan sawit mencapai 14 juta hektar. Namun, sistem pengelolaannya masih menimbulkan masalah sosial dan lingkungan.

Capres 02, Prabowo Subianto mengamini bahwa sawit merupakan komoditas yang menjanjikan, terutama pemanfaatannya untuk bio diesel dan biofuel. Dia mengapresiasi kinerja pemerintah dalam mengejar B20

Baca Juga:  Menlu Retno Kangen Badak Sambel SMA 3 Semarang

“Dan saya sudah bicara dengan para ahli, para pelaku, para pengusaha. Mereka sudah melaksanakan. Benar kita sudah ke arah b 20. Tetapi, Brazil bisa sampe B 90 dan sebagainya,” kata Prabowo.

Selanjutnya, Prabowo menekankan Indonesia memiliki kemampuan untuk swasembada energi dan kelapa sawit, “akan menjanjikan,” katanya. Pemerintah bisa memanfaatkan semua produk produk kelapa sawit menjadi biofuel dan biodiesel.

“Jadi pertama kita bisa manfaatkan kelapa sawit untuk menjadi tambahan bahan bakar kita, karena kita juga dalam waktu dekat akan jadi net importir. Kita akan impor seratus persen bahan bakar minyak kita. Dan kita sekarang punya peluang dari kelapa sawit,” kata Prabowo.

Sementara Capres 01, Joko Widodo memaparkan prestasinya terkait produksi sawit yang mencapai 46 juta ton per tahun. Dan melibatkan petani kurang lebih 16 juta petani, “Saya kira sebuah jumlah yang sangat banyak,” katanya.

Kepada Prabowo, Jokowi menujukkan Indonesia di bawah kendalinya telah telah memulai B20 dan sudah berproduksi 98 persen. Sekarang menuju B100 dengan harapan 30 persen total produksi dari kelapa sawit nanti akan masuk kepada biofuel.

“Sudah kita rencanakan plannya sudah sangat rigid dan sudah sangat jelas. Ini yang sedang kita kerjakan sehingga kita tidak ketergantungan kepada minyak dari import,itu Pak Prabowo, targetnya,” kata Jokowi.

Baca Juga:  Ini Daftar E-commerce di Pesta Harbolnas 11.11

Menempatkan Indonesia Pada Posisi Rentan

Direktur Eksekutif Partnership for fovernance Reform (Kemitraan), Monica Tanuhandaru menilai kebijakan energi berporos sawit justru menempatkan Indonesia pada posisi rentan dengan eksploitasi lahan besar-besaran.

“Mengapa kita menaruh satu keranjang (persoalan energi) di kelapa sawit?” kata dia. Menurutnya, paradigma pembangunan seperti itu tak beranjak jauh dari konfersi energi berbasis lahan, alih-alih energi terbarukan.

“Energi terbarukan berbasis lahan justru mengambil risiko jumlah lahan yang akan digunakan dan membuat rakyat lebih rentan. Kita ga bisa makan minyak sawit, tetap saja harus imbang lahan untuk sawit dan lahan pangan,” katanya.

WALHI menyebut tidak ada capres-cawapres 2019 yang berani bicara transisi energi dari kotor ke bersih dalam visi-misinya, “Dua-duanya promosi energi terbarukan, biofuel dan bioetanol. Tapi jadi tidak mendasar,” ujar Manajer Kampanye Keadilan Iklim Eksekutif Nasional Walhi Yuyun Harmono belum lama ini.

Capres dari kedua kubu malah justru sibuk mencari jawaban yang masuk akal bagi publik, tapi sebenarnya tidak menyelesaikan persoalan. Mereka mau meninggalkan bahan bakar fosil seperti batu bara, tapi justru menaikkan emisi dari sektor berbasis lahan.

“Sampai sekarang tidak ada upaya mengkoreksi model ekonomi yang masih eksploitatif berbasis sumber daya alam. Kedua duanya saya kira masih optimis soal sawit bahkan memasukkan itu dalam strategi mewujudkan energi terbarukan,” katanya. (Kbb)

Berikan Komentar

avatar
  Subscribe  
Notify of