Jateng Tawarkan 63 Proyek ke Investor

0

Oleh: Agus Susilo |

Jawa Tengah masih menjadi provinsi yang seksi sebagai tujuan investasi. Ketersediaan lahan, tenaga kerja serta upah yang bersaing dianggap sebagai magnet kuat.

Semaranginside.com, Semarang — Pemprov Jateng menetapkan target investasi 2019 sebesar Rp 56 triliun. Target tersebut mengalami peningkatan sebesar Rp 9 triliun, bila dibanding target investasi 2018 yang hanya Rp 47 triliun.

Untuk mencapai target tersebut, menurut Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Jateng Prasetyo Ariwibowo mesti dilakukan pemetaan wilayah dan sektor yang akan ditawarkan pada calon investor.
“Ada 63 proyek yang akan ditawarkan pada calon investor baik dari dalam negeri maupun luar negeri,’’ kata Prasetyo, kamis (17/1).

Baca Juga:  Desa Ponggok, Desa Terkaya Luncurkan Aplikasi Smart Village

Proyek yang ditawarkan tersebut terdiri dari satu sektor energi, 36 proyek pariwisata, tujuh proyek infrastruktur dan delapan proyek pertanian. Kondisi tersebut tidak jauh berbeda, bila dibandingkan proyek-proyek investasi yang ditawarkan pada 2018. Proyek investasi yang ditawarkan tahun ini berdasarkan studi ekonomi, perdagangan, investasi dan pariwisata Jateng. Termasuk, menyusun buku profil peluang investasi.

Prasetyo menjelaskan, berbagai upaya menarik investor untuk datang ke Jateng terus dilakukan. Salah satunya memperbaiki sarana pendukung investasi. Yakni infrastruktur bandara, pelabuhan dan jalan tol serta ketenagalistrikan.

Baca Juga:  Melirik Capaian Sektor Energi Jelang Debat

Jika dilihat dari sisi tenaga kerja pada tahun 2018 mengalami penurunan serapan dari proyek yang dijalankan. Jika 2017 lalu ada 98.883 tenaga kerja yang diserap, tahun 2018 turun menjadi 84.447 tenaga kerja. Kemerosotan itu terjadi di industri PMA. Tenaga kerja Indonesia turun dari 67.395 menjadi 42.690. Sementara tenaga kerja asing juga menurun dari 509 menjadi 403.

Menurutnya hal itu disebabkan sektor utama penyumbang investasi adalah listrik, gas dan air. Sektor energi lebih padat modal dan teknologi dan sedikit tenaga kerja. Selain itu disebabkan kualifikasi tenaga kerja yang belum sesuai dengan kebutuhan industri. (HMJ)

Berikan Komentar

avatar
  Subscribe  
Notify of