Jelang Borobudur Marathon, Sejumlah Homestay Penuh

0
Foto: Pemprov Jateng.

Oleh: Agus Susilo

Semaranginside.com, Magelang – Menjelang even internasional Borobudur Marathon, 17 November 2019, sejumlah homestay di Kabupaten Magelang sudah penuh dipesan. Rata-rata pemesan adalah peserta lari dari luar negeri, dalam negeri, dan wisatawan yang ingin menyaksikan even tahunan tersebut.

Supervisor Balai Ekonomi Desa (Balkondes) Borobudur, Arifuddin Asfihani, mengatakan kamar-kamar di Borobudur Homestay telah dipesan sejak setahun lalu oleh peserta Borobudur Marathon 2018, untuk digunakan pada event serupa pada 2019 ini.

Meski mengetahui peminatnya membeludak, pihaknya tidak melakukan penambahan kamar. Lantaran masih banyak homestay yang dikelola secara swadaya oleh masyarakat sekitar.

Di Balkondes, hanya tersedia 23 kamar dengan tiga tipe yaitu single room, couple room, dan family room. Namun, perbaikan fasilitas seperti mushola dan penambahan toilet terus dilakukan agar kebutuhan pengunjung lebih nyaman.

Baca Juga:  Car Free Night di Kawasan Wisata Kota Lama, Dishub: Tak Ganggu Lalu Lintas

“Seperti tahun kemarin, sekarang booking untuk Borobudur Marathon sudah satu tahun sebelumnya. Setelah mereka check out, mereka sudah booking untuk tahun berikutnya. Jadi kemungkinan kebanyakan dari besok yang menginap adalah yang tahun kemarin,” jelas Arifuddin, Senin (17/6).

Dijelaskan, penambahan kamar tidak dibolehkan pemerintah desa setempat.  Hal ini bertujuan agar masyarakat tanggap dan mengambil peluang besar pada acara tersebut dengan menyediakan homestay atau guest house.

Selain homestay, Balkondes Borobudur juga membuka usaha restoran Waroeng Kopi untuk tempat nongkrong maupun pelengkap penginapan. Sehingga, pengunjung tidak harus keluar area penginapan untuk dapat mengisi perut yang lapar. Di Waroeng Kopi itu tersedia makan besar maupun snack, dua meeting room terbuka, stand hasil kerajinan tangan masyarakat sekitar untuk dijual ke pengunjung restoran, serta galeri UKM.

Baca Juga:  Wisata Museum Magic Art 3D di Kota Tua Jakarta

Kearifan lokal begitu nampak dengan adanya alat musik gamelan yang berdendang di sudut restoran. Langgam Jawa maupun lagu-lagu Jawa Tengah di tabuh untuk mengiringi waktu makan maupun istirahat para pengunjung.

Kearifan lokal lainnya nampak dengan adanya “Andong Tilik Ndeso” yang transit di halaman restoran, untuk mengantarkan pengunjung yang berkeliling di desa-desa sekitar Borobudur. Keunggulannya, sang kusir berpakaian lengkap baju adat jawa dengan blangkon sekaligus menjadi pemandu wisata pengunjung tersebut.

“Kebetulan kita ada Andong dan juga akses jalan yang paling dekat dengan Candi Borobudur. Makanya kita buka usaha warung kopi untuk rest area, tempat istirahat, transit,” ungkapnya. (Ags)

Berikan Komentar

avatar
  Subscribe  
Notify of