Kalangan Pesantren: Film The Santri Tak Layak Tonton

0

Oleh: Nurcholis

Semaranginside.com, Jakarta – Film The Santri masih menuai kritikan. Bahkan Pengasuh Pondok Pesantren Ribath Al Murtadla Al Islami Singosari Malang yang juga murid Sayyid Muhammad Alwi al-Maliki al-Hasani (alm), KH Luthfi Bashori Alwi menyebut film tersebut tak layak tonton leh kalangan pesantren.

Niat hati ingin mempromosikan kehidupan pondok pesantren tepat pada perayaan Hari Santri, ujungnya malah dapat penolakan di kalangan pesantren sendiri, inilah nasib yang menimpa film The Santri.

KH Luthfi Bashori Alwi mengatakan pesan film The Santri memiliki persoalan serius, yang isinya tidak mencerminkan kehidupan santri dan dunia pesantren.

Film garapan sutradara Livi Zheng dan Ken Zheng yang rencananya akan dirilis bulan Oktober mendatang ini dinilai Kiai Luthfi banyak memiliki kejanggalan yang meresahkan dunia pesantren.

“Melihat fenomena film The Santri sebagaimana Trailernya yang sudah menyebar di berbagai media sosial. Di situ ada beberapa kejanggalan-kejanggalan yang sangat meresahkan bagi pada pengasuh pondok pesantren dan para santri. Ini jelas aib dalam kehidupan para santri atau kehidupan pesantren,” ujarnya dalam pernyataan yang dikirim kepada redaksi IndonesiaInside.id, Kamis (19/9).

Menurut Imam Besar NU Garis Lurus ini ada kesalahan serius dalam film The Santri. Ia mencontohkan, dalam trailer film ini ada adegan santriwati berjalan bersama-sama santriwan secara berdekatan di hutan. Hal itu tidak mungkin diajarkan di dalam dunia pesantren.

“Ada adegan di mana kedua pasangan berjalan bersama-sama dan ikhtilat, sangat berdekatan. Padahal dalam tradisi pesantren, ikhtilat (percampuran antara laki-laki dan wanita yang bukan mahramnya) seperti ini tidak ada,” ujarnya.

Selain mengajarkan paham liberal dan ada persoalan serius lainnya yakni penyusupan nilai-nilai sinkritisme yang bukan bagian dari ajaran Islam dan pesantren.

“Saya mengajak para santri, atau jamaah yang mengaji pada saya, atau mendengar ceramah saya dimanapun berada, agar tidak menonton film The Santri, karena akan mendegradasi moral para santri dan para jamaah pengajian, sebab gejala pemikiran kaum liberal saat ini banyak menyusup berbagai tempat di kalangan masyarakat,” tambahnya.

Baca Juga:  Teka Teki Icardi, ''Dibuang'' ke PSG

Secara khusus, putra KH. M. Bashori Alwi mencatat ada tiga kesalahan serius yang penggambarannya justru bertolak belakang dengan apa yang diajarkan di dunia pesantren.

Pertama, ada adegan-adegan yang kurang pantas. Utamanya adanya akting dimana santri putra berjalan bersama santri putri. Juga kedua melakukan lirikan mata. Ini jelas aib dalam kehidupan para santri atau kehidupan pesantren.

Kiai Luthfi mengutip sebuah hadits yang bunyinya “Rasulullah ﷺ berkata kepada Ali radliyallahu ‘anhu: “Wahai Ali janganlah engkau mengikuti pandangan (pertama yang tidak sengaja) dengan pandangan (berikutnya), karena bagi engkau pandangan yang pertama dan tidak boleh bagimu pandangan yang terakhir (pandangan yang kedua).”

Merujuk hadits ini, orang melihat kedua kali saja memandang nonmahram dilarang syariat, lantas bagaimana saling bertatap mata antara laki-perempuan, apalagi dalam film itu, diperankan sebagai sepasang kekasih.

Kedua, ada adegan dalam film ini, dimana kedua pasangan berjalan bersama-sama dan ikhtilat, sangat berdekatan. Padahal dalam tradisi pesantren, ikhtilat (percampuran antara laki-laki dan wanita yang bukan mahramnya) seperti ini tidak ada.

Sebab dari jaman dahulu sampai sekarang, dalam tradisi pesantren selalu menjaga agar tidak terjadi ikhtilat. Bahkan karena kehati-hatian soal ini, ada pondok pesantren yang hanya memiliki santri putra atau santri putri saja. Kalaupun ada yang memiliki keduanya, sudah pasti ditempatkan secara terpisah.

Ketiga, adanya sinkritisme. Dalam sebuah adegan, ada adegan seorang santri putri (dibintangi Wirda Mansur) memberikan tumpeng pada pendeta laki-laki di dalam sebuah gereja, sebagai tanda cinta.

Baca Juga:  Bagaimana Nasib Kapten Arsenal, Emery?

Menurut Kiai Luthfi, adegan ini saja sudah aneh dan masuk kategori pelanggaran syariat. Selain itu ada nilai sinkritisme (atau penyamaan agama-agama yang ada di dunia). Penyamaan status semua agama jelas salah dalam Islam.

Adegan ini sama halnya memberi pengakuan tempat penyembahan selain Allah Subhanahu Wata’ala (SWT), yang jelas pengingkaran dalam ajaran Islam.

“Itu sangat dilarang Allah dan dilarang syariat,” ujar Kiai Luthfi.

Andaikata, pemberian tumpeng itu dilakukan di luar gereja, dan dilakukan sama-sama jenis kelaminnya – lalu penerimanya tidak menggunakan almamater atau logo-logo dan tidak menyiratkan penganut agama lain – dalam pandangan ‘urf (kebiasaan masyarakat) hal itu masih bisa dimaklumi, karena hubungan masyarakat tidak bisa dibatasi dengan satu agama dan golongan saja.

Tetapi dalam film ini, dimana adegan santri muslim, memberikan tumpeng kepada pendeta laki-laki di dalam gereja, jelas ada pelanggaran berlipat-lipat.

“Jadi begitulah pandangan fikih, yang diajarkan para ulama-ulama salaf terdahulu, bukan ajaran sebagian orang yang liberal saat ini. Apalagi sekarang ada Fikih Lintas Agama, jelas bukan itu.”

Jika merujuk pada ulama salaf terdahulu, apalagi pendiri NU, adegan-adegan yang ada dalam film ini jelas bertentangan, katanya lagi.

Film yang dibintangi Azmi Askandar, Wirda Mansur, dan Veve Zulfikar adalah film yang diinisiasi PBNU melalui NU Channel.

Menurut laman resmi PBNU, nu.or.id, film ini akan mengangkat nilai-nilai kaum santri dan tradisi pembelajaran di pondok pesantren yang berbasis kemandirian kesederhanaan, toleransi serta kecintaan terhadap tanah air juga antiradikal.

Film ini menceritakan seorang guru yang menjanjikan kepada enam orang santri terbaik untuk diberangkatkan dan bekerja di Amerika Serikat.

Ingin hati meraih simpati komunitas pesantren, ujungnya mendapat penolakan kaum santri. (CK/INI-Network)

Berikan Komentar

avatar
  Subscribe  
Notify of