Karena Kata “Monyet”, Manokwari Membara

0
Massa membakar ban saat kerusuhan di pintu masuk Jl. Trikora Wosi Manokwari, Senin (19/8). Foto: Antara

Oleh: Herry M Joesoef

Semaranginside.com, Jakarta – Manokwari, ibu kota Provinsi Papua Barat, senin (19/8) pagi membara. Kantor DPRD dibakar, jalan-jalan diblokir, ribuan massa turun ke jalan. Ketua DPRD Papua Barat, Peter Kondjol,menyebut, insiden tersebut dipicu oleh aksi di Surabaya dan Malang, Jawa Timur, beberapa waktu lalu. “Ada penistaan adik-adik di Surabaya dan Malang. Kami dibilang monyet dan sebagainya. Itu memicu juga di Papua Barat,” tuturnya kepada wartawan.

Di Manokwari, para pendemo juga ada yang membawa spanduk bertuliskan “Kalau Kami Monyet,Kenapa Suruh Kami Naikkan Bendera”. Umpatan yang berbau rasis ini mesti diusut tuntas, jangan sampai ucapan-ucapan tidak senonoh, rasis, dan jahiliyah itu menguap begitu saja. Proses hukum mesti ditempuh, siapa pun pelakunya. Ini semua perlu dilakukan demi tegaknya hukum dan ketenteraman bersama. Indonesia adalah rumah bersama, penghuninya dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas hingga Pulau Rote.

Memanggil seseorang dengan julukan yang jelek, dalam ajaran Islam, tidak diperkenankan. Begitu pula tentang warna kulit, kepintaran, dan kekayaan tidak bisa dijadikan ukuran mulia tidaknya seseorang atau kelompok orang. Imam Jalaluddin as-Suyuti, dalam kitab  “Lubaabun Nuquul fii Asbaabin Nuzuul” (Sebab Turunnya Ayat Al-Quran), menjelaskan:

Baca Juga:  Polisi Bubarkan Paksa Massa di Depan Bawaslu

Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Abi Malakah yang berkata, “Setelah pembebasan kota Makkah, Bilal naik ke atas Ka’bah lalu mengumandangkan azan. Melihat hal itu, sebagian orang berkata, ‘Bagaimana mungkin budak hitam ini yang justru mengumandangkan azan di atas Ka’bah! ’Sebagian lain berkata (dengan nada mengejek), ‘Apakah Allah akan murka jika bukan dia yang mengumandangkan azan?’ Allah lalu menurutkan ayat 13 surah al-Hujurat.”

Dalam kitab al-Mubhamaat, Ibnu Asakir menarasikan, “Saya menemukan tulisan tangan dari Ibnu Basyakual yang menyebutkan bahwa Abu Bakar bin Abi Dawud meriwayatkan dalam kitab tafsirnya, ‘Ayat ini turun berkenaan dengan Abi Hindun. Suatu ketika Rasulullah menyuruh Bani Bayadhah untuk menikahkan Abu Hindun dengan perempuan dari suku mereka.’ Akan tetapi mereka berkata, ‘Wahai Rasulullah, bagaimana mungkin kami akan menikahkan anak perempuan kami dengan seorang budak.’ Sebagai jawabannya, turunlah ayat 13 surah Al-Hujurat, ini.”

Baca Juga:  Ikonik, MTA dan Nafar Ramadhan

Ayat 13 dari surah al-Hujurat tersebut adalah, “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”

Inilah landasan dalam menjalani hidup secara sosial. Bukan warna kulit, bukan kepintaran, bukan pula harta dan keturunan,tetapi ketakwaan seseorang yang membawanya pada derajat mulia di sisi-Nya. Mari kita memandang saudara-saudara kita dengan beragam warna kulit dan kedudukan secara setara. Dalam pandangan Allah Ta’ala, dzat yang menjadikan manusia hidup di dunia ini, hanya ketakwaan yang mengantarkannya pada derajat mulia. (HMJ/INI-Network)

Berikan Komentar

avatar
  Subscribe  
Notify of