Kekeringan Ekstrim, Kualitas Udara Menurun

0
Ilustrasi. Foto: Antara

Oleh: Ade Lukmono

Semaranginside.com, Semarang – Pada musim kemarau tahun ini, sebagian besar wilayah di Jawa Tengah mengalami kekeringan ekstrim, kecuali di daerah pegunungan di lereng Gunung Slamet. Diprediksi, musim hujan baru akan mulai pada Oktober atau Desember mendatang.

Forecaster Stasiun Klimatologi klas 1 Semarang, Rosyidah mengatakan sebagian besar wilayah mengalami hari tanpa hujan di atas 60 hari. Kondisi tersebut dikatakannya sudah masuk pada kategori ekstrim.

“Sedangkan di sekitar Gunung Slamet rata-rata terjadi 30 hari tanpa hujan. Kondisi tersebut juga sudah masuk ‘warning’,” katanya, Kamis (22/8).

Baca Juga:  Pertama Kali, Jateng Ekspor 300 Ton Biskuit ke Bangladesh

Hal yang perlu diwaspadai ketika terjadi kekeringan ekstrim adalah banyaknya kebakaran. Selain itu, kualitas udara pada musim kering juga menurun dikarenakan banyaknya debu.

Dia menyebutkan, beberapa wilayah di Jawa Tengah yang mengalami kekeringan ektrim adalah Klaten yang mengalami hari tanpa hujan selama 117 hari. Disusul daerah Wonogiri yang mengalami 114 hari tanpa hujan dan daerah Grobogan yang mengalami 113 hari tanpa hujan.

Sementara itu, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Tengah, Sudaryanto mengingatkan kepada para bupati dan wali kota untuk meningkatkan komitmen sadar akan bencana alam. Dengan demikian, antisipasi di setiap wilayah untuk membantu warga yang kehabisan pasokan air bersih selama kemarau bisa dilakukan secara cepat.

Baca Juga:  Kemarau Panjang, Mitra Gojek Salurkan 63.000 Liter Air Bersih

“Jika dirasa kewalahan menangani permintaan dari warganya, kepala daerah bisa segera meminta pasokan dari BPBD Jateng,” imbuhnya. (Ags)

Berikan Komentar

avatar
  Subscribe  
Notify of