Kiara: Negara Keliru Soal Kontribusi Perempuan Nelayan

0

Oleh : Rizky Atmaja

Semaranginside.com, Semarang – Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan (Kiara) mengungkapkan bila perempuan nelayan memiliki peranan penting dalam rantai produksi perikanan nasional. Bukan hanya dalam skala rumah tangga.

Pusat Data dan Informasi Kiara menyebut perempuan nelayan memiliki andil besar mulai dari praproduksi, produksi hingga pascaproduksi perikanan dengan jam kerja melebihi 17 jam.

Sekjen Kiara, Susan Herawati mencontohkan tentang kehidupan 31 perempuan nelayan di Dukuh Tambakpolo, Kabupaten Demak, Jawa Tengah. Hal serupa juga terjadi di banyak wilayah di Indonesia.

“Bukan sekedar istri nelayan atau ibu rumah tangga. Mereka adalah nelayan sejati, melaut bersama suami. Sehingga mereka haruslah diakui sebagai nelayan,” katanya, Senin (25/3).

Namun status mereka tidak diakui pemerintah. Susan berkata, Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2016 tentang Perlindungan dan Pemberdayaan Nelayan, Pembudidaya Ikan dan Petambak Garam hanya mengakui kontribusi perempuan dalam rumah tangga nelayan.

“Negara keliru melihat bagaimana perempuan nelayan selama ini berjuang sejajar dengan nelayan laki-laki dalam memastikan kebutuhan protein bangsa” tegasnya.

Dia menggambarkan, 31 perempuan nelayan dari Dukuh Tambakpolo, Demak, itu sudah melaut dari 30 tahun lalu. Hasil tangkap mereka dijual hingga Semarang, namun tidak pernah sekali pun perempuan nelayan mendapatkan fasilitas negara seperti asuransi.

Baca Juga:  Hari Wayang Nasional, Jateng Gelar Wayangan Serentak di 22 Kabupaten/Kota

Padahal, profesi nelayan sangat berbahaya. Mereka mencari ikan di lautan dengan perahu kecil. Belum lagi soal cuaca yang tidak mendukung, sehingga bisa tidak melaut dan tanpa pwnghasilan.

“Jangankan mendapat asuransi. Akses bantuan umumnya masih berorientasi gender-lelaki. Selama ini bahkan di masyarakat dan di pemerintah pun paradigma nelayan itu selalu laki-laki. Seolah perempuan nelayan itu tidak dianggap. Bahkan pada status si KTP sekalipun,” tegasnya.

Perempuan Nelayan Akhirnya Dapatkan Asuransi
Perjuangan 31 perempuan nelayan kini telah mendapat titik cerah, Minggu (24/3). Setelah dua tahun Persaudaraan Perempuan Nelayan Indonesia (PPNI) bersama Kiara melakukan advokasi.

Perempuan nelayan kini mendapatkan kartu asuransi. Di mana sebelumnya, mereka harus berjuang dan melewati proses panjang. Mulai dari perubahan identitas profesi dalam KTP, yang membutuhkan waktu sembilan bulan. Sebab dulunya hanya ditulis sebagai Ibu Rumah Tangga. Bukan sebagai nelayan.

Baca Juga:  Tidur Lebih Berkualitas Dengan Kaus Kaki

“Perubahan identitas profesi pun melewati berbagai perlawanan dari para pemangku kebijakan dari tingkat lokal hingga provinsi. Bahkan sebelumnya, Lurah sekalipun yang sangat dekat dengan warga belum mau mengakui status perempuan sebagai nelayan,” katanya.

Masnuah, Sekjen PPNI menambahkan, asuransi untuk perempuan nelayan itu mustahil didapatkan kalau mereka tidak lebih dulu belajar berorganisasi. Serta belajar bersama mengenali hak-hak ekonomi mau pun sosial budaya.
“Dengan berorganisasi bersama PPNI akhirnya mampu mengakses bantuan bagi tiga kelompok perempuan pengolah terasi. Di antaranya fasilitas kotak pendingin serta fasilitas pelatihan dan peralatan sarana produksi dari CSR BUMN,” ujarnya.

Susan Herawati kembali mengajak perempuan nelayan lain agar tidak hanya menjadi nelayan. Tapi bisa dalam banyak profesi kerja lain demgan berorganisasi atau berkelompok.
“Berkelompok bagi perempuan di tengah masyarakat yang belum sepenuhnya adil gender adalah politik dan sangat diperlukan supaya perempuan bisa mengakses hak-haknya. Sama dan sederajat seperti warga negara lain dari kalangan laki-laki,” paparnya.

Berikan Komentar

avatar
  Subscribe  
Notify of