Kisah Tragis di Wamena yang Krisis (2); Kami Ingin Pulang Pak…

0
Rumah milik Juliana Firman, warga Sulsel di Wamena, terbakar. Foto: Andi Amriani/makassarinside

Oleh: Andi Amriani

Semaranginside.com, Makassar – Teror KKB di Wamena terus saja terjadi. Warga pendatang, yang mungkin jumlahnya mencapai ratusan ribu tak tenang. Mereka memilih pulang.

Hari itu, ribuan warga asal Sulsel dan daerah lain masih menunggu antrean kapan bisa diangkut. Mereka sudah ingin pergi dari Wamena, Ibu Kota Jayawijaya, Papua, pascakerusuhan pada Senin (23/9).

Namun, tiada upaya melainkan berharap uluran tangan dari pemerintah dan para dermawan atau muhsinin, karena biasa penerbangan dari Wamena, Papua, ke kampung halaman tidak sedikit.

Kalau dalam kondisi normal, ribuan warga pendatang di Papua mungkin mampu untuk sekadar biaya pesawat bersama sekeluarga. Meski harga tiket masih selangit.

Namun, dalam kondisi terjepit di mana harta benda mereka habis dibakar, jangankan beli tiket. Untuk sekadar makan pun data beli susu balita, mereka tidak mampu. Mereka adalah korban pengusiran secara paksa karena tempat tinggal dan dagangan dibakar massa.

Untuk kembali membangun rumah yang hangus terbakar, rasanya juga tidak mungkin dalam kondisi yang masih mencekam di Wamena. Yang ada adalah rasa trauma dan takut.

Baca Juga:  Tak Mau Tertidur, Mahasiswa se-Bandung Raya Teriakkan ‘Revolusi’

Juliana Firman, salah seorang warga Sulsel yang sudah tiba di Makassar bercerita, sejak kerusuhan, dia dan ratusan warga lainnya hanya berpikir bagaimana menyelamatkan diri dan pulang ke Makassar. Apalagi usaha yang dirintisnya selama berada di Wamena habis terbakar.

“Alhamdulillah, saya sudah ada di Makassar sejak kemarin. Saya cuma mau bilang, Pak Gubernur, ratusan orang ingin pulang. Pemerintah Sulsel, tolong selamatkan ratusan warga Makassar yang masih ada di Wamena. Mereka ketakutan. Tapi juga tidak bisa pulang,” katanya kepada Makasaar Inside, Ahad (29/9).

Nana adalah penjual barang campuran di Wamena. Dia membangun kios di depan rumahnya dari modal selama lima tahun di Wamena ikut suami yang bekerja sebagai sopir truk.

Kios Baroka yang menjadi tempatnya menjual barang campuran itu kini sudah rata dengan tanah bersama rumahnya, di lokasi 3 arah pasar baru dekat dari bandara. Sejak kerusuhan Senin lalu, kata dia, bukan hanya warga Sulsel, semuanya ingin angkat kaki dari Wamena.

Baca Juga:  Keindahan Ribuan Lampion Waisak Borobudur

Namun, pesawat terbatas dan harga tiket mahal. “Saya pinjam uang demi untuk menyelamatkan anak-anak saya yang masih kecil-kecil ini,” katanya sedih.

Setibanya di Makassar, dia memikirkan keluarga dan warga lain, yang saat itu menangis ingin kembali ke kampung. Tetapi tidak ada jalan lagi, harta mereka habis terbakar. “Kalau tidak salah ada ribuan orang bersama saya di pengungsian,” katanya.

Dia berharap kepada Gubernur Sulsel Nurdin Abdullah segera bertindak menyelamatkan warganya di sana sebelum korban berjatuhan lebih banyak. Menurut perempuan yang akrab disapa Nana ini, di sana masih ada sepupu, kakak dan warga sekampung yang antre untuk pulang. Tetapi hercules terbatas. Antrean pun panjang dan lama.

Karena dia baru saja melahirkan, keluarga memintanya untuk pulang lebih dulu bersama enam orang keluarga dekatnya. Dia meminjam uang untuk membeli tiket pesawat yang harganya lumayan mahal. (Aza/Ani/INI Network)

Berikan Komentar

avatar
  Subscribe  
Notify of