Lampor Angkat Kisah Urban Legend Temanggung

0
Konferensi pers "Lampor" di Hotel Harris Semarang, Rabu (30/10). Foto: Ade Lukmono/Semaranginside.com

Oleh: Ade Lukmono

Semaranginside.com, Semarang – Film bergenre drama-horor berjudul “Lampor” mulai tanyang di bioskop-bioskop Indonesia mulai 31 Oktober 2019. Film ini mengangkat tentang kisah keluarga yang dibumbui dengan urban legend daerah Temanggung yang hingga saat ini dipercaya masyarakat.

Kisah dimulai saat Netta kecil dihantui rasa takut saat adiknya diculik sesosok Lampor yang membawa keranda terbang. Kejadian tersebut rupanya menghantui hingga dia bersama ibunya pindah ke luar Jawa.

Setelah puluhan tahun berlalu, Netta dewasa yang diperankan Adinia Wirasti memiliki dua anak. Karena suatu sebab, Netta bersama suaminya, Edwin yang diperankan Dion Wiyoko bersama kedua anaknya kembali ke Temanggung.

Kehadiran mereka di daerah asal Netta kemudian dituduh menjadi biang keladi kembalinya Lampor ke desa mereka. Berbagai kemunculan Lampor membuat geger desa. Dalam kepercayaan masyarakat, jika Lampor muncul, orang tersebut tidak boleh melihat sosoknya dan harus bersembunyi hingga suara Lampor hilang.

Baca Juga:  Presiden Tunjuk Kader PKB Gantikan Imam Nahrawi

Suara Lampor digambarkan dengan kepercayaan masyarakat, yaitu suara “Wel Wo Wel Wo” secara terus menerus yang berarti “dijawil digowo (disentuh dibawa)”.

Dion Wiyoko mengatakan, keseluruhan cerita dalam film “Lampor” adalah fiksi. Namun cerita tersebut digabungkan dengan legenda yang sudah ada di masyarakat.

“Lampor” mengambil seting lokasi syuting di Temanggung, Wonosobo dan Kendal. Proses pengambilan gambar menghabiskan waktu sekitar 1,5 bulan.

“Kami ingin penonton memandang bahwa semua perbuatan akan ada akibatnya. Kemunculan Lampor digambarkan karena adanya suatu sifat jahat manusia di tempat tersebut,” katanya, Rabu (30/10).

Baca Juga:  Dugaan Prostitusi, Public Figure Berinisial PA dan Berstatus Pelajar

Selain jalan cerita yang menguras emosi, sepanjang film “Lampor” juga disuguhkan keindahan alam lokasi syuting, mulai dari ladang tembakau, air terjun dan kesejukan udara di daerah Temanggung dan sekitarnya. Dengan demikian, penonton tidak akan memandang bahwa Temanggung hanya identik dengan Lampor, melainkan ada hal lain yang indah dan bisa dinikmati.

Adinia Wirasti berpendapat, film horor Indonesia saat ini mengalami perubahan dari sebelumnya. Jika dahulu hanya mengedepankan sosok seram, saat ini film horor lebih menguras emosi dan bermain psikologis.

“Banyak film horor bagus akhir-akhir ini. Semoga Lampor juga menjadi salah satu penerus estafet predikat tersebut,” ungkapnya.

(Ags)

Berikan Komentar

avatar
  Subscribe  
Notify of