Lumpia atau Lunpia, Sama Enaknya..

0
Suasana di Toko Lunpia Cik Meme. Foto : lunpiacikmeme.com

Oleh : Nugroho

Semaranginside.com, Semarang – Salah satu kuliner khas Kota Semarang adalah lumpia. Nah, yang menarik, Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mengakui kata lumpia yang berarti penganan yang dibuat dari adonan tepung dan telur yang didadar, diisi daging, rebung, dan sebagainya, lalu digulung, biasanya digoreng. KBBI tak mengakui kata lunpia.

Namun, banyak penjualnya yang memilih kata lunpia. Sebut saja Lunpia Semarang, Lunpia Cik Meme, serta Loenpia Mataram dan Java Loenpia yang juga menggunakan ‘oe’ untuk menggantikan ‘u’. Jika ditelusuri, ada latar belakang berbeda terkait penggunaan huruf ‘n’ dan ‘m’ pada jenis penganan yang dalam bahasa Inggris disebut spring rolls itu.

Situs tionghoa.info mengungkapkan, kata lunpia berasal dari dialek Hokkian yang berbunyi Lun Pia. Artinya adalah kue bulat. Dalam bahasa Khek atau bahasa Hakka, lunpia disebut pokpia.

Namun, ada pula situs berita yang menyebut bahwa makanan ini mulai populer sejak penyelenggaraan ajang kompetisi olahraga internasional yakni Ganefo pada 1963. Konon, makanan ini dijual di Olympia Park, sebuah lokasi di pasar malam yang memeriahkan pesta olahraga Ganefo, dan laris. Karena itu orang-orang mulai menyebutnya dengan lumpia yang merupakan kependekan dari Olympia.

Baca Juga:  Fariq Pemain Terbaik Festival PSIS U-16

Tentu saja, perbincangan soal lumpia atau lunpia tak menghalangi kita semua untuk menikmatinya. Lumpia Semarang bahkan sejak 2014 telah masuk dalam warisan budaya tak benda untuk kategori kemahiran dan kerajinan tradisional.

Saat ini, beberapa penjual lumpia yang ternama ternyata masih memiliki garis keturunan dari sosok yang disebut sebagai generasi pertama atau penemu lumpia, yakni Tjoa Thay Joe dan Wasi. Situs loenpiamataram.blogspot.com mengungkapkan, Tjoa Thay Joe datang ke Semarang untuk berdagang lumpia dengan cita rasa Tiongkok yang asin dan gurih. Di Semarang dia lantas bertemu dengan Wasi, yang juga penjaja lumpia namun dengan cita rasa Jawa yang cenderung manis. Akhirnya mereka berdua menikah dan kemudian muncul cita rasa lumpia hasil asimilasi rasa gurih, asin, dan manis yang bertahan hingga sekarang. Penemuan makanan itu disebut berkisar akhir 1900-an (Java Loenpia bahkan memasang angka tahun 1870 sebagai tanda kali pertama lumpia ditemukan).

Baca Juga:  Pemekaran, Kota Semarang Akan Terbagi 22 Kecamatan dan 250 Kelurahan

Cucu dari mereka berdua kemudian melahirkan Lunpia Semarang (Gang Lombok) oleh Siem Swie Kiem, Lunpia Semarang (Jalan Pemuda) oleh Siem Swie Hie, dan Lunpia Mataram (Jalan Mataram) oleh Swiem Hwa Nio didukung sang suami Tan Hok Tjwan.

Lunpia Semarang di Jalan Pemuda kini dikenal dengan nama Lunpia Mbak Lin. Sementara cucu dari Nio dan Tjwan dari salah satu anaknya Tak Yok Tjay kini membuka usaha dengan nama Lunpia Cik Meme didukung sang ayah. Sedangkan cucu dari Siem Swie Wek (saudara dari Siem Swie Kiem, Siem Swie Hie, dan Swiem Hwa Nio), Shella Audrey, juga membuka usaha bernama Java Loenpia.

Secara umum, ada dua jenis lumpia yang ditawarkan yakni basah dan goreng. Biasanya, makanan itu dihidangkan dengan selada, bawang segar, dan saus khas yang kental. Kemudian berkembang soal rasa yang menyertai. Belakangan, Lunpia Cik Meme bahkan berinovasi dengan mengeluarkan keripik lunpia.(nug)

Berikan Komentar

avatar
  Subscribe  
Notify of