Lusinan Siswa Ditahan dalam Pawai LGBT yang Dilarang di Turki

0

Oleh: Nurcholis

Semaranginside.com, Jakarta — Polisi Turki pada hari Jumat menembakkan gas air mata dan menahan 17 siswa yang menentang larangan pawai kebanggaan universitas di Ankara, kata kelompok hak asasi manusia Amnesty International.

Sebelumnya, dua puluh lima siswa berkumpul untuk merayakan pawai kesembilan untuk mendukung LGBTI di Universitas Teknik Timur Tengah (ODTU), yang dilarang otoritas Turki.

Amnesty Internasional mengatakan melalui akun Twitter, 17 orang ditahan.

Mereka ditahan setelah petugas polisi “tidak akan membiarkan siswa membaca pernyataan mereka dan menggunakan gas air mata” untuk membubarkan acara, tambah kelompok itu.

Kelompok Solidaritas LGBTI ODTU merilis pengumuman yang menyerukan kepada semua siswa untuk berpartisipasi dalam pawai yang dijadwalkan pada 10 Mei.

Sebelumnya, pihak rektorat universitas mengeluarkan larangan melalui email pada bulan Maret yang diumumkan pada tanggal 6 Mei, menyatakan bahwa acara tahunan 10 Mei itu tidak akan diizinkan dilakukan di kampus universitas.

Baca Juga:  Masa Mulai Padati Lokasi, Bendera Golkar Gabung Koalisi Prabowo-Sandi

Rektor Universitas ODTU, Mustafa Versan Kok mengatakan, keputusan larangan yang mencakup larangan yang diberlakukan gubernur Ankara pada November tahun 2017.

Gubernur Ankara pernah mengeluarkan larangan awalnya mengutip kekhawatiran atas ketertiban umum dan khawatir peristiwa seperti itu akan “memicu reaksi” di masyarakat.

Human Rights Watch bulan lalu mengatakan larangan itu “melanggar hukum dan membatasi hak dan kebebasan dengan cara yang tidak bersyarat, tidak jelas, dan tidak proporsional”.

Aktivis LGBTI mengajukan beberapa tuntutan pidana terhadap larangan pemerintah. Menurutnya, larangan ini adalah pembatasan kebebasan berekspresi, berkumpul, dan berserikat untuk orang LGBTI di Turki.

Meski demikian, pelarangan kegiatan dan acara LGBTI tetap dilakukan rutin dan meluas di Turki. Termasuk larangan acara Pride March ke-16 Istanbul dan Trans Pride March tahun 2018.

Baca Juga:  Indonesia Kecam Bom Sri Lanka

Sebuah festival film gay berbahasa Jerman juga telah dilarang, dengan mengatakan konten festival itu “dapat menghasut dendam dan permusuhan terhadap bagian dari masyarakat”.

Setelah kudeta, Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP) yang berkuasa secara regas menindak kegiatan yang mendukung LGBTI, dengan alasan bahwa akan “memicu reaksi dalam segmen masyarakat tertentu” dan juga berisiko mengalami menjadi sasaran “teroris”.

Namun, larangan acara LGBTI di Ankara dicabut oleh keputusan Pengadilan Administratif ke-12 Ankara pada 19 April 2019.

Homoseksualitas dianggap legal di Turki, termasuk negara mayoritas Muslim pertama yang mengizinkan pawai gay. Namun, sejak 2003, aksi pawai tahunan mendukung menghadapi penangkapan massal dari polisi. (cak/Ags/INI-Network)

Berikan Komentar

avatar
  Subscribe  
Notify of