Makna Patung Ogoh-ogoh Di Hari Raya Nyepi

0
Ogoh-ogoh didefinisikan sebagai ondel-ondel dengan bentuk menyeramkan. Foto: bisniswisata.co.id

Oleh: Anisa Tri Kusuma |

Menjadi bagian dalam perayaan hari raya Nyepi, Ogoh-ogoh selalu ambil bagian di dalam memeriahkan hari besar tersebut

Semaranginside.com, Jakarta — Umumnya, Ogoh-ogoh selalu diarak sehari sebelum hari Raya Nyepi, dengan dimulai diarak oleh para pria dengan berjalan kaki lalu kemudian dibakar di akhir acara. Misalnya, saat H-1 Nyepi yang biasanya digelar Ngerupuk. Ngerupuk adalah pembersihan yang dilakukan di desa, banjar, maupun rumah dengan cara mecaru. Sementara mecaru merupakan korban suci yang diperuntukkan bagi bhutakala yang dipercaya dapat menimbulkan penyakit, malapetaka, hingga kematian.

Dalam ajaran Hindu Dharma, bhutakala mempresentasikan kekuatan (Bhu) alam semesta dan waktu (Kala) yang tak terukur dan tak terbantahkan. Bhutakala sendiri digambarkan besar dan menakutkan menyerupai raksasa, serta biasa disebut Ogoh-ogoh. Dilansir dari website resmi Humas Sekertaris Daerah Kabupaten Buleleng, Bali, nama Ogoh-ogoh diambil dari Bahasa Bali, yaitu ogah–ogah yang artinya sesuatu digoyang-goyangkan.

Sedangkan dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia edisi tahun 1986, Ogoh-ogoh didefinisikan sebagai ondel-ondel beraneka ragam dengan bentuk menyeramkan. Berbeda dengan Laura Noszlopy yang meneliti “Pesta Kesenian Bali; budaya, politik, dan kesenian kontemporer Indosnesia” untuk Yayasan Arts of Afrika, yang mendefinisikan Ogoh-ogoh sebagai patung berukuran besar yang tebuat dari bubur kertas dan bahan lainnya.

Baca Juga:  Pak Harto Menduniakan Batik

Bagaimana pun definisinya, Ogoh-ogoh selalu sukses mencuri perhatian wisatawan lokal maupun asing. Ogoh-ogoh kerap diajak berkeliling desa atau kota sambil diiringi irama gamelan khas Bali yang diberi nama baleganjur.

Foto: Dwikreatif.com

Jadi Ajang Kreatifitas
Ogoh-ogoh merupakan boneka atau patung beraneka rupa yang menjadi simbolisasi unsur negatif, sifat buruk, dan kejahatan yang ada di sekeliling kehidupan manusia. Boneka tersebut dahulu terbuat dari kerangka bambu yang dilapisi kertas. Seiring waktu, kebanyakan ogoh-ogoh saat ini dibuat dengan bahan dasar styrofoam karena menghasilkan bentuk tiga dimensi yang lebih halus.

Pembuatan ogoh-ogoh ini dapat berlangsung sejak berminggu-minggu sebelum Nyepi. Waktu pembuatan sebuah ogoh-ogoh dapat bervariasi bergantung pada ukuran, jenis bahan, jumlah SDM yang mengerjakan, dan kerumitan desain dari ogoh-ogoh tersebut.

Umumnya, setiap tingkatan masyarakat dari level banjar akan membuat ogoh-ogoh milik wilayah mereka. Kalangan remaja di suatu daerah umumnya menginginkan agar ogoh-ogoh milik daerahnya lebih unggul dari ogoh-ogoh milik daerah lain.

Karena itulah, selain sebagai bagian dari ritual tradisi, proses pembuatan ogoh-ogoh juga menjadi wadah pencurahan kreativitas pemuda setempat. Pembuatan ogoh-ogoh dan tehnis pelaksanaan arak-arakannya biasanya dikelola dalam sebuah kepanitiaan yang dibentuk oleh Sekaa Teruna Teruni (semacam karang taruna) di masing-masing banjar.

Ogoh-Ogoh Menjadi Salah Satu Festival Budaya
Pelaksanaan ritual ngrupuk dan pawai ogoh-ogoh berlangsung serempak sehari menjelang Hari Raya Nyepi atau tilem sasih kesanga di setiap banjar di seluruh Bali. Persiapan pawai biasanya telah dimulai sejak sore dan pawai akan berlangsung hingga menjelang tengah malam. Agar dapat berjalan dengan tertib, Pemerintah Bali kemudian mengeluarkan sejumlah kebijakan, antara lain berupa penertiban rute pawai, pemusatan titik keramaian, dan melombakan kreativitas desain ogoh-ogoh yang dibuat oleh masyarakat.

Baca Juga:  DPR Sahkan Revisi UU KPK !

Sejumlah upaya ini dilakukan untuk mencegah terjadinya pergesekan antar rombongan arak-arakan dari berbagai wilayah dan sekaligus mengemasi ajang tahunan ini menjadi suatu tontonan yang menarik bagi masyarakat pendatang, khususnya para wisatawan.

Biasanya sebelum dibawa keliling desa atau kota, peserta pawai akan minum minuman keras tradisional bernama arak. Sementara di akhir acara, Ogoh-ogoh dibakar sebagai simbol pemurnian dan membuktikan sudah siap memperingati Nyepi. Dalam keadaan suci, Cendekiawan Hindu Dharma menyimpulkan bahwa proses perayaan Ogoh-ogoh melambangkan keinsyafan manusia akan kekuatan alam semesta dan waktu yang maha dahsyat.

Terlepas dari itu, rupanya, Ogoh-ogoh sebenarnya tidak memiliki hubungan dengan upacara Hari Raya Nyepi. Namun, sejak tahun 1980-an, umat Hindu mengusung agar Ogoh-ogoh dijadikan satu dengan acara mengelilingi desa untuk memeriahkan upacara Ngerupuk, tetapi tidak mutlak ada dalam upacara tersebut. (Kbb)

Berikan Komentar

avatar
  Subscribe  
Notify of