Mantan Danjen Kopassus Dipolisikan Karena Dinilai Makar

0

Oleh: Muhajir |

Semaranginside.com, Jakarta – Seorang warga yang juga mengaku sebagai pengacara a.n. Humisar Sahala melaporkan mantan Komandan Jenderal Komando Pasukan Khusus (Danjen Kopassus) Mayjen TNI (Purn) Soenarko dilaporkan ke Bareskrim Polri atas tuduhan makar. Laporan Humisar tersebut pun diterima dengan nomor : LP/B/0489/V/2019/BARESKRIM tanggal 20 Mei 2019.

Soenarko pernah menjabat sebagai Danjen Kopassus pada tahun 2007-2008. Ia juga pernah menjabat sebagai Panglima Daerah Militer (Pangdam) Iskandar Muda pada tahun 2008-2009.

Humisar saat melapor membawa barang bukti berupa Flashdisk yang berisi rekaman video dan juga beberapa hasil cetakan berita-berita di internet. Soenarko dilaporkan telah melakukan tindak pidana terhadap Keamanan Negara atau Makar Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1946 tentang KUHP Pasal 110 Juncto Pasal 108 Ayat 1, Kejahatan terhadap ketertiban umum UU Nomor 1 Tahun 1946 tentang KUHP Pasal 163 bis Jo Pasal 146.

Baca Juga:  Beredar Video Deklarasi Santri NU Millenial Dukung Sandiaga Shalahuddin Uno

Pelapor Humaisar mengklaim dirinya datang sebagai rakyat biasa untuk melaporkan Soenarko yang diduga bicara dalam satu video berisi ajakan untuk mengepung KPU. Katanya, dia resah melihat dan mendengar ucapan Soenarko di video tersebut.

“Saya di sini menjadi pelapor karena sebagai rakyat, saya merasa resah dan tidak nyaman dengan ajakan-ajakan dan hasutan-hasutan ini,” ujarnya di Bareskrim, Senin (20/5).

Humaisar mengatakan, salah satu ucapan yang menurutnya meresahkan adalah ajakan untuk mengepung KPU dan Istana Negara. Tak hanya itu, juga ucapan yang dianggap telah mengadu domba Polri dan TNI.

“Seakan-akan polisi akan bertindak keras, tentara tidak, dan provokasi tentara pangkat tinggi sudah bisa dibeli, yang di bawah tetap membela rakyat. Itu menurut saya pernyataan yang mengadu domba dan menimbulkan gejolak di masyarakat,” kata Humisar.

Baca Juga:  Jawara Super Eropa, Liverpool Sejajar Real Madrid

Belum lama ini Viral video di media sosial yang diduga Soekarno. Sosok dalam video membicarakan mobilisasi massa untuk “tutup KPU, Istana, dan DPR” pada 22 Mei.

“Di situ kita cuma duduk, kita duduk, ya tutup, diharapkan kalau tanggal 20 baru datang 100 ribu, tanggal 21-nya sudah jadi 500 ribu, satu juta, maka kita kalau habis ini pulang ke daerah bisa mungkin merancang itu, kita rancang itu,” kata pria dalam video itu.

“Nanti kalau tanggal 22 diumumkan, kalau Jokowi menang, yang kita lalukan tutup KPU, tutup, kemudian mungkin ada tutup Istana dengan DPR, Senayan, kita enggak ada ke Monas, tapi dalam jumlah besar, kalau jumlah besar polisi juga bingung,” katanya.

“Kalau nanti kebetulan diumumkan 02 ya kita syukuran aja di situ” ucapnya.(EPJ/Ags/INI-Network)

Berikan Komentar

avatar
  Subscribe  
Notify of