Masifnya Hoaks Jelang Pilpres, Adopsi Propaganda Rusia

0
Foto: Istimewa

Oleh: Agus Susilo

Semaranginside.com, Semarang – Banyaknya berita hoaks dan ujaran kebencian yang tersebar di media sosial menjadikan Indonesia mirip Rusia. Kemiripan ini dalam hal strategi propaganda yang diterapkan oleh pihak-pihak tertentu sebagaimana propaganda Rusia.

Kasubdit Cyber Bareskrim Polri Kombes Pol Dani Kustoni mengatakan saat ini penyebaran berita hoaks sangat masif dan dengan frekuensi yang besar. Yakni firehouse of flasehood, atau menyebarkan berita secara bertubi-tubi dengan frekuensi cukup besar.

“Kami melakukan pengamatan ada infomrasi yang disebar dalam jumlah yang besar. Setiap detik informasi disebar terus menerus,” kata Dani saat menjadi pembicara di seminar nasional “Penegakan Hukum Terhadap Penyebar Berita Hoax Menghadapi Pemilihan Umum 2019” di Wisma Perdamaian, Rabu (27/3).

Baca Juga:  Akankah Revolusi E-Commerce 4.0 Mematikan Toko Offline? (1)

Sebagai antisipasinya, kepolisian jauga melakukan pengawasan konsten-konten negatif di media sosial. Jika konten bohong dan ujaran kebencian itu dibiarkan maka bisa menjadi awal timbulnya konflik. Apalagi saat ini suhu politik jelang Pilpres sudah semakin tinggi.

Sementara Ketua Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) RI Abhan Misbah menyoroti dampak negatif adanya media sosial. Menurutnya, media sosial sangat bermanfaat untuk hal positif namun sayangnya saat ini banyak digunakan untuk penyebaran berita-berita hoaks (bohong).

Mengambil data dari Mafindo, penyebaran berita hoaks semenjak 2015-2018 terus meningkat. Hingga akhir tahun 2018 setidaknya ada 997 konten yang berisikan berita bohong. Bahkan diantaranya masuk kategori ujaran kebencian.

Baca Juga:  ASN RSUD Purwokerto Lepas Cadar Setelah Ditegur BKD

Media sosial menjadi yang paling banyak digunakan untuk menyebarkan konten hoaks adalah Facebook, yakni mencapai 47,3 persen.

“Media sosial saat ini memang sangat efektif mempengaruhi massa. Namun seperti pisau bermata dua, ada dampak negatif karena berita-berita hoaks tersebut,” kata Abhan.

Langkah yang dilakukan oleh Bawaslu adalah upacaya pencegahan. Total, sudah ada 127 akun media sosial yang telah dilaporkan oleh Bawaslu pada Kominfo.

Dalam pencegahan, lanjut Abhan, pihaknya juga bekerjasama dengan Kominfo. Tujuannya, konten-konten hoaks dan ujaran kebencian bisa dicegah.

Berikan Komentar

avatar
  Subscribe  
Notify of