Masih Amankah Menggunakan Produk Bedak?

0
Ilustrasi bedak bayi. Foto: parenting firstcry

Oleh: Anisa Tri K

Semaranginside.com, Jakarta – Temuan Food and Drug Administration AS (FDA) baru-baru ini menemukan asbes pada produk bedak bayi, Johnson & Jhonson.

Melansir ABC.net Minggu, (20/10), baru-baru ini, telah dilakukan investigasi terhadap memo perusahaan, laporan internal, dan dokumen rahasia lainnya yang menemukan jika Johnson & Johnson selama beberapa dekade terkahir, ditemukan keberadaan sejumlah kecil asbes dalam produk-produknya.

Temuan zat berbahaya ini bahkan terhitung ada sejak 1971 silam. Pihak perusahaan dengan tegas membantah laporan media, mengatakan bahwa setiap saran bahwa Johnson & Johnson tahu atau menyembunyikan informasi tentang keselamatan bedak adalah salah.

Proses Pembuatan Bedak

Ada berbagai jenis talek, termasuk kelas industri dan kosmetik, yang digunakan dalam berbagai produk.

Menurut Cancer Council of Australia, dalam bentuk alami, beberapa talek dapat mengandung asbes, yang diketahui menyebabkan kanker.

Itu karena secara geologis, bedak dan asbes secara alami dapat terbentuk berdampingan. Tetapi tidak semua deposit bedak terkontaminasi dengan asbes.

Pertanyaan muncul di tahun 60-an tentang hubungan antara pekerja yang terpapar talek dan kanker ovarium. Para peneliti menemukan bahwa asbes dapat menyebabkan kanker paru-paru dan rongga pleura (selaput paru-paru). Tetapi sejak tahun 1970-an, produk bedak telah diklaim bebas asbes.

Hubungan Antara Bedak dan Kanker

Profesor Bernard Stewart, penasihat ilmiah untuk Cancer Council, mengatakan bukti bahwa bedak memang menyebabkan kanker memang sangat sedikit.

“Tidak ada bukti definitif yang dilakukannya, dalam arti bahwa ada bukti definitif bahwa merokok menyebabkan kanker paru-paru,” ujar Steward.

“Ada beberapa data yang tersedia dalam apa yang disebut ‘studi kasus kontrol,’ di mana wanita dengan kanker ovarium ditanya apakah mereka pernah menggunakan bedak di daerah perianal tahun lalu dan ada beberapa bukti ada peningkatan risiko karena penggunaan bubuk bedak,” paparnya.

“Kemudian bertahun-tahun kemudian, di antara sejuta perempuan, beberapa perempuan didiagnosis menderita kanker ovarium dan dimungkinkan untuk mencatatnya,” katanya.

Ketika pemeriksaan dilakukan, tidak ada peningkatan risiko kanker ovarium yang berkorelasi dengan penggunaan bedak bayi.

“Risiko ini tentu saja tidak cukup besar bagi otoritas kesehatan mana pun di dunia, setahu saya, untuk memasang label peringatan pada bedak atau produk serupa, jadi itu adalah ukuran ketidakpastian. Atau beberapa akan mengatakan bukti yang menentang gagasan, bahwa wanita yang menggunakan bedak memiliki risiko kanker ovarium yang meningkat,” ujar Steward.

Stewart mengatakan tidak ada masalah dengan bayi dalam hal kanker.

Saat ini, bedak diklasifikasikan oleh Badan Internasional untuk Penelitian Kanker (IARC) sebagai mungkin karsinogenik (penyebab kanker) bagi manusia ketika diterapkan pada area genital.

IARC adalah bagian dari Organisasi Kesehatan Dunia, yang membentuk kelompok kerja pakar internasional untuk mengevaluasi bukti karsinogenisitas paparan khusus.

Dan Dewan Kanker mengatakan penelitian lebih lanjut diperlukan untuk menentukan apakah ada hubungan antara kanker ovarium dan bedak.

Stewart menyimlulkan, dengan berdasarkan bukti yang ada saat ini, tidak ada alasan bagi orang untuk khawatir tentang penggunaan bedak. (*/Dry/INI-Network)

Berikan Komentar

avatar
  Subscribe  
Notify of