Mbah Moen

0

Oleh: Herry M Joesoef

Semaranginside.com, Jakarta – Selasa (6/8) ba’dha Shalat Subuh, jam menunjukkan Pk 04.30 waktu Makkah, ketika khabar bahwa KH Maimoen Zubair, wafat. Tak ada tanda-tanda sakit. Malam sebelumnya, alrmarhum menerima beberapa tamu, di antaranya adalah Duta Besar RI di Arab Saudi, Agus Maftuh Abegebriel.

Mbah Moen, begitu akrab disapa, berada di Makkah dalam rangkaian ibadah haji. Jenazahnya dimakamkan di Ma’la, Makkah, berdekatan dengan makam istri Baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, Sayyidah Khadijah. Jenazah Mbah Moen dishalatkan berkali-kali, juga didoakan berkali-kali pula. Ketika di pemakaman, Habib Mohammad Rizieq Shihab memimpin doa.

Lahir di Karang Mangu Sarang, Rembang, Jawa Tengah, pada hari Soempah Pemoeda pada  28 Oktober 1928. Ayahnya, Kiai Zubair Dahlan adalah murid dari Syaikh Sa’id Al-Yamani dan Syaikh Hasan Al-Yamani Al- Makky. Ibunda Mbah Moen, Nyai Mahmudah, putri dari Kiai Ahmad bin Syu’aib, juga seorang ulama yang disegani di jamannya.

Sejak dini Maimoen kecil sudah di didik dalam sistem pesantren. Ayahnya memperkenalkan dan membekali ilmu-ilmu keagamaan, termasuk mempelajari ilmu-ilmu alat, seperti nahwu, shorof, dan balaghah. Itulah sebabnya, di usia masih remaja ia sudah menguasai kitab-kitab babon seperti Alfiyyah Ibnu Malik dan Rohabiyyah fil Faroid.

Dalam tradisi pesantren, seorang santri tidaklah cukup hanya dididik oleh sang ayah atau keluarga besarnya saja. Tetapi, seorang Gus, sapaan untuk anak-anak kiai di pesantren, mesti dititipkan di pesantren lain, agar si anak menghirup udara luar, bergaul dan menyelami tradisi orang lain.

Baca Juga:  Berebut Tuan Rumah Muktamar NU, Rembang Klaim Dapat Wasiat Mbah Moen

Begitu pula Maimoen remaja. Ia dikirim ke Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur. Di sini, ia berguru kepada KH. Abdul Manaf, KH. Mahrus Ali dan KH. Marzuki. Selama 5 tahun di Lirboyo ia digembeleng dengan berbagai ilmu agama. Lalu, berlanjut ke Mekkah selama 2 tahun.

Sepulang dari Mekkah, Mbah Moen terus menimba ilmu ke berbagai kiai kondang di jamannya sambil mencari nafkah untuk keberlangsungan keluarganya. Baru pada tahun 1965, Maimoen mulai merintis berdirinya pesantren yang terletak di sebelah rumahnya. Namanya, Pesantren Al-Anwar, Sarang. Saat ini, nama pesantren tersebut sangat dikenal, karena banyak tamu berdatangan, baik dari kalangan pemerintah, politikus, maupun rakyat biasa.

Mbah Moen, dalam perjalanan hidupnya, juga terjun ke dunia politik. Pilihannya jatuh pada PPP (Partai Persatuan Pembangunan). Lewat PPP pula Mbah Moen jadi anggota DPRD Kabupaten Rembang selama 7 tahun dan berlanjut sebagai anggota MPR Utusan Daerah Jateng selama 3 periode. Konsistensi Mbah Moen pada PPP teruji ketika pada tahun 1998 PBNU di bawah kepemimpinan Abdurrahman Wahid (Gus Dur) mendirikan PKB (Partai Kebangkitan Bangsa).

Rupanya, Mbah Moen tidak tertarik untuk bergabung di dalamnya. Ia tetap mencintai PPP, bahkan, ketika PPP mengalami perpecahan, Mbah Moen adalah tokoh yang selalu menganjurkan untuk bersatu. Tidak bergabung dengan PKB bukan berarti Mbah Moen berjarak dengan para aktivis partai yang berbasis Nahdliyin ini. Mbah Moen tetap dituakan dan pendapatnya selalu di dengar. Tidak hanya oleh para pengurus PPP atau PKB, tapi oleh berbagai pihak, baik pemerintahan, politisi, maupun aktivis Ormas.

Baca Juga:  Pilkada Serentak 2020 di Jateng, Gerindra Buka Peluang Koalisi dengan PDIP

Ada hal yang menarik dari diri Mbah Moen. Ia tidak pernah menolak tamu yang datang ke rumahnya, bahkan para tamu yang datang dadakan pun ia layani. Siapa saja boleh datang, minta nasihat dan doa.

Karena itu, ketika musim Pilkada maupun Pilpres yang lalu, Mbah Moen jadi rebutan. Semua pasangan calon datang, minta restu, dan minta didoakan. Semuanya dilakukan oleh Mbah Moen dengan tulus, tanpa membeda-bedakan. Di sinilah peran sentral Mbah Moen, sebagai sosok pemersatu dan peneduh suasana.

Semua itu mengingatkan kita pada peristiwa 28 Oktober 1928 ketika Soempah Pemoeda dikumandangkan dengan semangat persatuan. Mbah Moen lahir pada saat pemuda Indonesia mengangkat sumpah, sumpah atas persatuan. Dan itulah yang dijalaninya sampai akhir hayatnya. Ia adalah sosok pemersatu, dan ulama yang berpandangan luas, seluas mata memandang negeri ini. Selamat jalan Mbah Moen. (HMJ/INI-Network)

Berikan Komentar

avatar
  Subscribe  
Notify of