Melihat Semarak Ribuan Anak Muda Hadiri Kegiatan ‘Muslim United’

0
Ribuan anak muda menghadiri kegiatan pembukaan Muslim United di Yogyakarta. Foto: Istimewa.

Oleh: Nurcholis

Semaranginside.com, Yogyakarta – Puluhan ribu anak muda dari berbagai kota mengikuti Grand Opening ‘Muslim United #2’ dengan tema “Sedulur Saklawase”  di Masjid Gedhe Kauman, Yogyakarta, Jumat (11/10) malam. Namun, untuk kegiatan Sabtu (12/10) ini, kegiatan akan dipindahkan ke Masjid Jogokariyan.

Peserta pengajian yang umumnya anak-anak muda ini memadati halaman Masjid Gedhe – Kauman, hingga meluber ke Alun-alun Utara Kraton Yogyakarta. Panitia menyiapkan peserta yang tidak bisa masuk ruang dan halama masjid di Alun-alun Utara sengan memasang videotron raksasa.

Ketua Forum Umat Islam (FUI) DI Yogyakarta, Haji Sukri Fadoli, penggagas acara ini mengatakan,  Muslim United (MU), digelar atas dasar pemahaman anak anak muslim yang peduli pada bangsa, ketika melihat usai Pemilu bangsa seolah pecah.

Tema “Sedulur Saklawase”,  adalah gagasan yang ambil anak anak muda ini, karena punya kemauan keras agar kita semua bias saling rukun dan bersatu tergadap bangsa yang kita cintai. Karenanya, ia berharap semua pihak mendukung niat baik anak-anak muda ini,

“Kalau tidak boleh yo kebangeten, “ ujarnya.

Tokoh politisi PPP ini mengatakan, jika anak-anak muda Islam yang bisa dipegang agama dan moralnya, maka insyaAllah Indonesia aman. Sebaliknya, jika anak anak muda tidak bisa dipegang agama dan moralnya, maka yang lahir adalah kehancuran.

Karenanya berharap akan lahir pemimpin-pemimpin yang mengayomi semua umat, khususnya mengayomi mayoritas umat Islam.

“Jangan sampai umat Islam yang mayoritas ini terbully dan teraniaya,” tambah mantan Wali Kota Yogyakarta Masa Jabatan 2001–2006 ini.

Sementara itu, Ir. H Azman Latif, Takmir Masjid Gedhe Kauman dalam sambutannya mengaku bergembira akhirnya banyak orang bisa memakmurkan Masjid Gedhe Kauman.

“Secara tidak langsung dengan memakmurkan masjid ini, telah mengirim pahala, kepada pendiri masjid ini, Sri Sultan Hamangkubuwono I, “ jarnya dalam sambutannya.

Baca Juga:  Lega, Warga Bebas Melenggang di Malioboro

Dengan tema “Sedulur Saklawase” ia berharap kita semua memperlihatkan Islam tidak identik dengan kerusakan dan pengajian tidak sama dengan kekerasan.

“Kita tunjukkan betapa kita mampu dengan berkumpul banyak orang tidak ada kekerasan, tidak ada yang jorok-jorokan, ” katanya dalam sambutannya yang pendek.

Acara selanjutnya diisi Tausyiah Kerakyatan dari MUI Yogjakarta, M Jazir ASP dan KH. Luthfi Bashori Alwi, Pengasuh Pondok Pesantren Ribath Al-Murtadla Al-Islami, Singosari, Malang.

Innamal mu’minu ikhwatun, sesungguhnya sesama mukmin itu bersaudara. Karena itu kita harus terus-menerus membangun persaudaraan (karena Allah) dan ketakwaan, agar datang rakhmat Allah,” kata Jazir mengawali ceramahnya.

Dalam tausyiahnya yang banyak mengulasa sejarah ini,  pria yang juga Ketua Dewan Syuro Takmir Masjid Jogokariyan, menjelaskan Indonesia merdeka ketika masyarakat sama-sama mengekspresikan persatuan dan persaudaraan.

“Dengan pesatuan dan persaudaraan karea ketakwaan, maka, turunlah rahmat Allah, bertepatan 17 Agustus 1945, sampai dengan tegas ditulis dalam konstitusi, Atas Berkat Rahmat Allah,” ujarnya.

Jazir juga mengula bagaimana Indonesia yang dikenal memiliki banyak kesultanan Islam, tetapi hancur akibat politik adu-domba yang dilakukan penjajah Belanda.

Ia mengulas peristiwa tahun 1619 Masehi, ketika Armada kapal dagang milik Perusahaan Hindia Timur Belanda (VOC), dibawah pimpinan Jan Pieterszoon Coen mengambil alih Bandar Jayakarta dari Kesultanan Cirebon.  Sejak itu Belanda melakukan aksi adu-domba, dan hasilnya membuat 57 Kesultanan di Indonesia hilang.

Bahkan dengan Hak Oktroi, VOC berhak monopoli perdagangan rempah-rempah, mencetak mata uang sendiri dan memiliki pasukan dan Aramda Laut. Dengan hak inilah akhirnya Belanda mendirikan Nederlands-Indië (Hindia Timur Belanda) atau daerah pendudukan Belanda yang kemudian dikenal  Republik Indonesia.

Menurut Jazir, ini adalah hasil adu domba Belanda antara raja-raja Muslim dengan rakyatnya yang semua Muslim, membuat 57 kesultanan habis dan hilang. Karena itulah dalam pelajaran SD semua mendapatkan pelajaran Devide et Empera (politik adu domba).

Baca Juga:  Acara ‘Muslim United’ Dipindah ke Masjid Jogokariyan Yogyakarta, Ada Apa Ini...

Dengan politik Devide et Empera inilah kesultanan kesultan Islam dipecah belah yang akhirnya hanya tinggal sejarah saja.

“Maka kita tidak ingin, kesultanan dengan rakyat diadu-domba lagi. Nanti bisa hilang lagi itu, “ tambahnya.

Keturunan Orientalisme

Sementara KH Luthi Bashori Alwi, menceritakan bagaimana usaha orientalisme Belanda merusak Muslim Aceh.

Dalam tausyiahnya ia menyebut tiga peran orientalis yang merusak Islam di Indonesia. Salah satunya adalah Christiaan Snouck Hurgronje. Dengan berpura-pura masuk Islam dan mempelajari Al-Quran, para orientalis menghancurkan Islam.

“Snouck Hurgronje mampu mendekati tokoh-tokoh Islam Aceh. Apalagi punya kemampuan Al-Quran, hadits,  pernah ke Arab dan menunjukkan ijazah syahadat,” katanya.

Meski peristiwa ini sudah berlangsung 61 tahun lamanya, namun pemikiran Snouck Hurgronje saat ini masih diteruskan oleh anak-cucunya.  Tradisi pemikiran orientalisme, ketika ia mempelajari keislaman tapi bukan untuk diamalkan, tapi dibelokkan menurut selera hatinya.

“Penerusnya saat ini ya kaum liberal, “ ujarnya.

Menutup tausyiahnya, pria yang pernah menimbah ilmu pada Syeikh Muhammad Alwi Al Maliki, Saudi ini mengajak umat  Islam bersatu menghdapi musuh bersama, sebagaimana umat Islam saat menghadapi Belanda.

“Pejuang-pejuang Islam saat itu tidak melihat ormas dan organisasi. Sedikit kita dengarkan ada percekcokan antar tokoh-tokoh, pahlawan-pahlawan yang beragama Islam,” katanya. “Makanya kita rebut dulu hati umat, baru ribut. Jangan ribut duku sebelum merebut, “ ujarnya menutup acara.

Seperti tahun pertama, acara Muslim United #2 ini dihadiri peserta dari berbagai kota. Seperti Jawa Tengah (Yogjakarta, Semarang, Solo), Jawa Timur (Surabaya, Malang, Lumajang), Bandung,  Kalimantan,  Sulawesi,Aceh, Medan, Balikpapan bahkan ada yang datang dari Malaysia. (CK/INI-Network)

Berikan Komentar

avatar
  Subscribe  
Notify of