Mengenal Kuttab (2): Dari Halaqah di Rumah Ulama hingga ke Madrasah

0

Oleh: Azhar AP

Semaranginside.com, Jakarta – Model pembelajaran bagi anak-anak Muslim sudah ada di zaman Rasulullah SAW. Mereka belajar di sebuah kuttab, maktab, atau halaqah, dari rumah dan pekarangan masjid hingga ke madrasah dalam bentuk sekolah formal.

Kuttab adalah pendidikan dasar yang mengajarkan pelajaran dasar keimanan yakni Tauhid berdasarkan al-Qur’an dan Hadits. Materi pembelajarannya tentu disesuaikan dengan pemahaman anak-anak.

Pendiri Kuttab Al-Fatih Budi Ashari menulis dalam artikel berjudul “Apa Itu Kuttab?” yang mengulas kedudukan kuttab. Tulisan ini dikutip banyak media,  bahwa kuttab adalah tempat utama di dunia Islam untuk mengajari anak-anak.

Keberadaannya begitu agung dalam kehidupan masyarakat Islam, khususnya dikarenakan kuttab adalah tempat anak-anak belajar al-Qur’an ditambah ilmu dalam syariat Islam. Kuttab mengajarkan iman sebelum Al-Qur’an dan adab sebelum ilmu. Bahkan keduanya menjadi kurikulum dasar khususnya di Kuttab Alfatih.

Penanaman Iman sebelum Al-Qur’an disebut juga Islamic Character Building, dikutip dari Abanaonline.com. Penguatan pondasi agama memang utama dalam ajaran Islam. Setelah iman menjadi pondasi, maka pilar-pilar agama seperti salat akan tertanam kuat dalam pribadi seorang muslim. Tauhid atau keimananlah yang menjadi penyokong akhlak mulia seseorang atau disebut Akhlakul Karimah.

Baca Juga:  Mengenal Kuttab (1): Pendidikan Dasar di Masa Rasulullah

Ibarat sebuah konstruksi, tanpa pondasi kuat semua bangunan di atasnya akan roboh. Salatnya, puasanya, ibadahnya, ikhkasnya, tawakkal, dan sabarnya, akan rapuh tanpa tauhid yang kuat.

Begitulah Rasulullah menanamkan pondasi agama bagi anak-anak. Belajar iman sebelum membaca, menghafal, dan memahami al-Qur’an. Pola pendidikan ala Rasulullah ini disebut fase Makkah, yaitu penanaman akidah yang kuat.

Karenanya, jangan salah memilih guru bagi anak-anak. Menurut Budi Ashari, jangan memilih guru kecuali yang mempunyai akhlak yang baik, istiqamah, menjaga diri, adil dan punya kemampuan standar tentang al-Qur’an dan ilmu-ilmunya.

Para fuqaha’ memberikan syarat-syarat yang harus dimiliki oleh para guru kuttab. Al Qobisi mensyaratkan agar guru berwibawa tetapi tidak kasar, tidak berwajah cemberut, marah, tidak ramah, akrab anak-anak dengan lembut. Dan harus membimbing adab anak-anak demi kemaslahatan mereka. (Adab al Mu’allimin h. 47)

Baca Juga:  Catat, Anak Mudah Meniru Kebiasaan Kekerasan Orang Tuanya

Budi Ashari mengutip dari Tarikh at Tarbiyah al Islamiyah, jika guru telah selesai mengajari membaca, menulis dan menghapal al-Qur’an, maka selanjutnya mengajar dasar-dasar ilmu agama dan bahasa. Itu artinya, aktivitas kuttab sampai mengajarkan hadits, adab, aqidah ahlus sunnah wal jama’ah yang disesuaikan dengan umur dan pemahaman.

Sedangkan dasar pendidikan iman sebelum al-Qur’an, merujuk pada hadist dari Jundub bin Abdillah. Beliau berkata: “Dahulu kami ketika remaja bersama Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam, kami belajar iman sebelum al-Qur’an kemudian setelah kami belajar al-Qur’an bertambahlah keimanan kami. Sedangkan kalian sungguh pada hari ini justru belajar Al Qur’an dulu sebelum belajar iman”. (Riwayat At Thabrani, Al Baihaqi, Ibn Majah, dishahihkan Al Albani) (Aza/INI-Network/Berbagai Sumber)

Berikan Komentar

avatar
  Subscribe  
Notify of