Mengenang Aksi 20 Mei 1998 di Kota Semarang

0
Ilustrasi cover buku novel 1998 karya Ratna Indraswari Ibrahim.

Oleh : Nugroho

Semaranginside.com, Semarang – Kota Semarang mungkin bukan salah satu kota yang riuh saat reformasi. Namun, pergerakan di kota ini juga layak dikenang. Di saat beberapa daerah timbul kerusuhan, Kota Semarang yang sebenarnya disebut termasuk dalam kota “sumbu pendek” justru tenang dan damai.

Puncak aksi reformasi pada 20 Mei 1998 juga digelar di Kota Semarang. Ribuan masyarakat terutama mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di kota itu turun ke jalan. Mereka bertemu di Kantor Gubernur dan DPRD Provinsi Jawa Tengah di Jalan Pahlawan.

Fotografer Tubagus Svarajati mengenang peristiwa itu dalam tulisannya berjudul Semarang 1998 di blognya. Dia mengungkap, di tengah halaman kantor itu, menyatu dengan tiang bendera, berdiri panggung kecil.

“Massa menyemut di situ. Beberapa orang, termasuk mahasiswa, berorasi membakar semangat massa. Siang makin memanggang badan. Sebagian massa duduk-duduk. Sebagian lagi berdiri bergerombol. Gelombang manusia tak henti-henti berdatangan. Setiap kedatangan rombongan baru senantiasa disambut tempik-sorak oleh massa terdahulu: Selamat datang, Saudara-saudaraku! Rapatkan barisan!” ungkapnya.

Baca Juga:  Kota Semarang Berperan dalam Sejarah Fotografi

Selain itu ada juga beberapa tokoh masyarakat yang berorasi. Mereka mendukung perjuangan mahasiswa dan mengharapkan kehidupan politik yang lebih beradab.

“Saya tak ingat, atau tepatnya saya tak tahu, siapa saja yang berorasi. Yang terbanyak, tampak dari atribut dan gayanya, adalah para mahasiswa. Tak jelas pula dari mana mereka berasal. Kumpulan manusia di sana pun tampak beragam. Sebagian pelajar, sebagian lain masyarakat umum. Gelombang manusia tak putus-putus mengular,” jelas Tubagus juga.

Kesaksian lain juga diungkap seorang perempuan pemilik ferdiasbookelmann.wordpress.com. Dia menyatakan demostrasi mahasiswa di Kota Semarang berjalan dengan sangat baik, meskipun aparat memagari seluruh jalan protokol menuju Kantor Gubernur dengan kawat berduri.

Baca Juga:  Wali Kota Tak Ingin Ada Bullying

“Kami juga melihat panser-panser dan mobil lapis baja berjajar di jalan utama menuju simpang lima. Tak sedikit dari kami yang telah mendapat informasi bahwa ada perintah tembak di tempat jika demonstrasi rusuh, meski kami tahu dengan peluru karet dan gas air mata,” tulisnya.

Dia juga mengungkapkan, demonstrasi yang berlangsung dari pagi hingga menjelang malam itu menunjukkan toleransi masyarakat Kota Semarang yang sangat tinggi.

“Saya masih ingat betul ada mahasiswi dari seminari yang berbusana layaknya biarawati dan tak sedikit pula yang berjilbab. Yang terbesar tentunya yang menggunakan jas almamaternya masing-masing. Yang berorasipun berasal dari berbagai kalangan,” tambahnya.

Reformasi merupakan salah satu tonggak sejarah Indonesia. Kini banyak pihak yang mempertanyakan lagi apakah cita-cita reformasi Indonesia telah tercapai.(nug)

Berikan Komentar

avatar
  Subscribe  
Notify of