Mikul Dhuwur Mendhem Jero, Etika Politik Warisan Pak Harto

0

Oleh: Herry M. Joesoef

Semaranginside.com, Jakarta — Salah satu karakter terindah dalam falsafah Jawa adalah istilah “Mikul Dhuwur Mendhem Jero”. Istilah ini bertemu dengan ajaran Islam yang mengedepankan penghormatan kepada mereka yang lebih tua, atau yang dituakan, para senior. Penghormatan tersebut tidak hanya ketika mereka masih hidup, bahkan ketika sudah meninggal pun mesti tetap “Mikul Dhuwur Mendhem Jero”.

Istilah ini pernah dipopulerkan oleh mendiang Presiden Soeharto (Presiden ke-2 RI). Mikul dhuwur mendhem jero punya makna memikul setinggi-tingginya, memendam sedalam-dalamnya. Artinya, meninggikan kelebihan dan kebaikan serta menutupi kekurangan seseorang.

Jika seseorang sudah meninggal dunia, maka kenanglah hal-hal yang baik tentangnya, dan jangan diobral keburukannya selama hidup di dunia. Hal tersebut sejalan dengan ajaran Islam, sebagaimana tersurat dalam salah satu hadits Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam yang mengatakan, “Ingatlah kebaikan orang-orang yang meninggal di antara kalian dan tahanlah dari menjelek-jelekkannya.” (Dikeluarkan oleh Imam Bukhari, Imam Thirmidzi, dan Imam Abu Dawud)

Dalam kesempatan lain, Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam juga mengingatkan, “Janganlah kalian mencela orang-orang yang sudah meninggal dunia, karena sesungguhnya mereka telah sampai kepada hasil amalan yang mereka lakukan tatkala di dunia.” (HR. Imam Bukhari)

Inilah etika yang sangat dianjurkan dalam tata pergaulan antar manusia. Bangsa-bangsa yang menerapkan etika ini adalah bangsa-bangsa yang berperadaban tinggi. Sebaliknya, jika seseorang melanggar falsafah adiluhung tersebut, itu menunjukkan kualitas moral seseorang yang begitu rendah.

Dua hadits diatas memberi pelajaran kepada kita, jika celaan itu benar dan ditujukan kepada mereka yang masih hidup, masih ada kemungkinan yang bersangkutan memperbaiki dirinya. Lalu bagaimana dengan mereka yang sudah almarhum? Tentu, tidak bisa lagi memperbaikinya, karena hidupnya di dunia sudah selesai.

Baca Juga:  Mapolda Jateng Siapkan Sel Terpisah untuk Pembom Pos Polisi Sukoharjo

Jika celaan atau tuduhan itu tidak benar alias hoax, bukan hanya mendulang dosa bagi pelakunya, lebih-lebih akan menyakiti mereka yang hidup. Masih ada anak, cucu, para pengikut almarhum yang tersakiti hatinya atas celaan atau tuduhan yang hoax itu. Tuduhan yang hoax itu, antara lain, jika pengadilan belum pernah memutus perkara seseorang atas benar-salahnya, tetapi vonis sudah dijatuhkan orang diluar pengadilan.

Dalam buku “Soeharto: Pikiran, Ucapan dan Tindakan Saya” yang ditulis G. Dwipayana dan Ramadhan KH, diterbitkan PT Citra Kharisma Bunda Jakarta, tahun 1982, ada dialog menarik antara Presiden Soekarno dengan Letjen Soeharto. Berikut petikannya: Di saat demonstrasi mahasiswa mewarnai suasana Jakarta, di Istana Merdeka saya mengadakan dialog dengan Bung Karno. Itu menyambung pembicaraan mengenai situasi dan mengenai PKI. Saya berkeyakinan bahwa pikiran Bung Karno mengenai jalan keluar kurang tepat. Saya terus berusaha supaya beliau mengerti dan menyadari perubahan yang telah terjadi. Sampai akhirnya rupanya beliau bertanya-tanya, mengapa saya tidak patuh kepadanya.

Sewaktu kami berdua, Bung karno bertanya dalam bahasa Jawa, di tengah-tengah suasana Jakarta, “Harto, Jane aku iki arep kok apakke?” (Harto, sebenarnya aku ini akan kamu apakan?) Aku ini pemimpinmu.”

Saya memberikan jawaban dengan satu ungkapan yang khas berakar pada latar belakang kehidupan saya.

Baca Juga:  Sindir Aturan Baru PPDB, Netizen Minta Jomblo Segera Nikah Sebelum Diterapkan Zonasi

“Bapak Presiden,” jawab saya, “saya ini anak petani miskin. Tetapi ayah saya setiap kali mengingatkan saya untuk selalu menghormati orang tua. Saya selalu diingatkannya agar dapat mikul dhuwur mendhem jero (memikul setinggi-tingginya, memendam sedalam-dalamnya; menghormat) terhadap orang tua.”

Dengan jawaban itu saya bermaksud dan bertujuan seperti kudangan ayah saya kepada saya. Orang tua saya, sekalipun petani, orang kecil, orang yang tidak mendapat pendidikan formal, mempunyai kudangan terhadap anaknya, mempunyai cita-cita mengenai anaknya, yakni agar saya ini menjadi anak yang bisa mikul dhuwur mendhem jero pada orang tua. Saya pun mempunyai keyakinan, bahwa pegangan hidup seperti itu adalah benar, dan tepat sekali.

Mikul dhuwur, artinya kita harus menghormati orang tua dan menjunjung tinggi nama baik orang tua.

Mendhem jero, artinya segala kekurangan orang tua itu tidak perlu ditonjol-tonjolkan. Apa lagi ditiru!. Kekurangan itu harus kita kubur sedalam-dalamnya, supaya tidak kelihatan.

Dalam pada itu, nama baik orang tua harus kita junjung setinggi-tingginya sehingga terpandang keharumannya.

“Bagus,” jawab Bung Karno.

Dialog antara Bung Karno dengan Pak Harto itu memberi pelajaran kepada kita tentang etika dalam berpolitik. Meski berbeda dalam pandangan politik, tetapi tetap menghormati orang yang lebih tua atau yang dituakan. Sopan santun politik seperti ini mendapatkan momentumnya ketika kita menyaksikan etika politik adiluhung ini sudah mulai ditinggalkan oleh insan-insan politikus yang terhormat itu. (HMJ/Ags/INI-Network)

Berikan Komentar

avatar
  Subscribe  
Notify of