Mindar, Robot Penceramah Ajaran Budha

0
Menggunakan kecerdasan buatan, Robot bisa berceramah agama Foto: Cyfrowa

Oleh: Anisa Tri Kusuma |

Dibuat serupa sosok Dewi Kasih Sayang umat Buddha Jepang, robot ini didesain menggunakan kecerdasan buatan (AI).

Semaranginside.com, Jakarta — Jepang kini punya robot penceramah di kuil. Dibuat serupa Kannon Bodhisattva, sosok Dewi Kasih Sayang umat Buddha Jepang, robot ini didesain menggunakan kecerdasan buatan (AI). Namanya Mindar, tugasnya berceramah ajaran Buddha secara sederhana.

Kehadiran Mindar telah diumumkan kepada media di Kuil Kodaiji di kota Kyoto, Jepang, pada akhir pekan lalu. Robot itu mulai berceramah pada Maret 2019. Sistem AI yang menjadi inti Mindar mengandalkan jaringan saraf tiruan yang mencoba mensimulasikan cara otak bekerja untuk belajar. Jaringan saraf dapat dilatih untuk mengenali pola dalam informasi–termasuk ucapan, data teks, atau gambar visual, dan merupakan dasar bagi sejumlah besar perkembangan sistem kecerdasan buatan selama beberapa tahun terakhir.

Sastem yang konvensional menggunakan input untuk mengajarkan suatu algoritme tentang subjek tertentu dengan memberinya sejumlah besar informasi. Sebuah generasi baru jaringan saraf tiruan yang disebut Adversarial Neural Networks mengadu akal antara dua bot AI satu sama lain.

Baca Juga:  Enam Bulan Warga Miskin Jateng Turun 124,2 Ribu Jiwa

Cara ini memungkinkan mereka untuk belajar dari satu sama lain. Pendekatan ini dirancang untuk mempercepat proses pembelajaran, serta menyempurnakan hasil yang dibuat oleh sistem AI.

Mindar hanya menyampaikan ceramah dalam bahasa Jepang. Sementara versi terjemahan bahasa Inggris dan Mandarin diproyeksikan di layar. Foto: Buddhist Door

Sejauh ini Mindar hanya menyampaikan ceramah dalam bahasa Jepang. Sementara versi terjemahan bahasa Inggris dan Mandarin diproyeksikan di layar. Seorang perwakilan kuil di Kyoto Higashiyama menyatakan harapannya, agar robot ini bisa membantu orang-orang yang tak tertarik dengan agama Buddha jadi memiliki minat pada agama.

“Buddhisme melihat penyebaran fenomenal di dunia dengan munculnya citra-citra Buddha,” kata Tensho Goto, seorang imam di kuil pada koran Asahi (h/t The Telegraph). Karena itu, ia berharap Android Kannon akan membantu ajaran Buddha menjangkau hati orang-orang saat ini.

Mindar, yang tingginya sekitar 195 cm dan beratnya sekitar 60 kilogram, diproduksi oleh A-Lab Co. yang berbasis di Tokyo. Proyek bernilai 100 juta yen (Rp12 miliar) untuk membangun android Mindar merupakan kolaborasi antara kuil Zen dan Hiroshi Ishiguro, profesor robotika cerdas di Osaka University.

Tubuhnya sebagian besar terbuat dari aluminium, dengan silikon yang digunakan untuk wajah dan tangan. Matanya bukan sekadar hiasan, di mata kiri tertanam sebuah kamera. Ia dapat menggerakkan kepala, juga lengan dan dada, yang memiliki bagian mekanis tembus pandang.

“Jika sebuah gambar Buddha berbicara, ajaran agama Buddha mungkin akan lebih mudah dipahami,” ujar Tensho Goto dalam konferensi pers. “Kami ingin banyak orang datang untuk melihat (robot) untuk memikirkan esensi agama Buddha, ” jelasnya lagi.

Dewi Kannon mengubah dirinya menjadi berbagai bentuk untuk membantu orang. “Kali ini, Kannon berubah menjadi Android,” menurut kuil itu.

Jepang memang bukan negara asing saat kita bicara tentang pengaplikasian robot. Peneliti Jepang telah mengembangkan robot untuk merevolusi tenaga kerja di Jepang. Contoh, menggunakannya untuk mengajar anak-anak, menghibur orang sakit dan lanjut usia, dan membuang
Bahkan pemerintah Jepang telah memperkenalkan robot-robot di stasiun kereta api untuk memantau area guna mendeteksi barang-barang penumpang yang hilang atau benda-benda mencurigakan. (Kbb)

Berikan Komentar

avatar
  Subscribe  
Notify of