Modus Pura-Pura Meninggal, Tilap Duit Negara Ratusan Juta

0
Sidang perdana di Ruang Cakra III Pengadilan Tipikor pada Pengadilan Negeri (PN) Medan, Jumat (3/5). Foto: Medaninside.com

Oleh: Farida Noris

Semaranginside.com, Medan – Seorang guru SD di Medan, Demseria Simbolon, mengaku telah meninggal sejak tujuh tahun lalu. Sejak itulah dia tidak pernah lagi mengajar di SD Nomor 027144 Kelurahan Damai, Kecamatan Binjai Utara, Sumatera Utara.

Guru yang kini berusia 56 ini ternyata masih hidup. Gajinya pun terus dibayar hingga Agustus 2018. Total yang diterima selama tujuh tahun sebesar Rp 435.144.500. Gaji wanita yang mengaku telah meninggal dunia ini dikuasakan kepada suaminya, Adesman Sagala. Sang suami sempat mendatangi PT Taspen Persero Cabang Utama Medan untuk mengajukan penagihan pembayaran asuransi kematian Demseria. Padahal terdakwa tidak meninggal dunia.

Setelah melakukan penelitian atas dokumen-dokumen yang dibawa oleh Adesman Sagala, Muhaimin Adam selaku Pjs Kepala Seksi Penetapan Klaim pada Kantor Cabang Utama PT Taspen Medan, mmenyetuju. PT Taspen melakukan pembayaran penagihan klaim kematian Demseria Simbolon melalui pemindahbukuan ke Rekening Bank Sumut sebesar Rp62 juta lebih.

Baca Juga:  Liverpool Gasak City 3-1

Belakangan, aksi suami-istri ini ketahuan juga. Sang guru yang tidak pernah mengajar lagi sejak tujuh tahun lalu itu menjalani sidang perdana di Ruang Cakra III Pengadilan Tipikor pada Pengadilan Negeri (PN) Medan, Jumat (3/5). Wanita ini didakwa merugikan negara sebesar Rp373 juta karena tidak pernah mengajar selama tujuh tahun dan mengklaim sudah mati.

Jaksa Penuntut Umum (JPU) Asepte Gaulle Ginting dalam dakwaannya memaparkan pada Januari 2011, terdakwa Demseria Simbolon diangkat sebagai guru SD Nomor 027144 di Jalan Kweni, Kelurahan Damai Kecamatan Binjai Utara.

“Jumlah seluruh gaji yang diterima terdakwa Demseria dari tahun 2011 sampai Agustus 2018 sebesar adalah Rp435 juta lebih. Sejak Januari 2011 sampai Agustus 2018, terdakwa tidak pernah masuk mengajar dan tidak melaksanakan tugas sebagai guru. Namun, terdakwa tetap menerima gaji dan tunjangan,” jelas Ginting.

Baca Juga:  11 Jabatan Kepala Dinas/Badan di Pemprov Jateng Dilelang, Berminat?

Berdasarkan keterangan ahli Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan (BPKP) Perwakilan Sumut, terdapat kerugian keuangan negara dengan rincian; untuk gaji yang didapat (setelah dipotong pajak) lebih dari Rp311 juta dan klaim kematian palsu lebih Rp62 juta. Akibat perbuatan terdakwa menyebabkan total kerugian negara sekitar Rp373 juta.

Perbuatan terdakwa Demseria Simbolon sebagaimana diatur dan diancam pidana melanggar Pasal 3 jo Pasal 18 UU Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

Menanggapi dakwaan itu, terdakwa melalui penasehat hukumnya mengajukan eksepsi (nota keberatan). Dalam eksepsinya, kuasa hukum terdakwa menyebut dakwaan JPU kabur dan tak jelas.

Namun, majelis hakim yang diketuai oleh Nazar Efriandi menolak eksepsi tersebut. Hakim memerintahkan agar JPU menghadirkan saksi pada sidang selanjutnya. Dengan demikian sidang akan dilanjutkan pada Senin (6/5) dengan agenda mendengarkan keterangan saksi. (Aza/Far/Ags/INI-Network)

Berikan Komentar

avatar
  Subscribe  
Notify of