Ngopi di TBRS, Lebih Nikmat karena Rindang Pohon dan Suara Burung

0
Deretan warung di TBRS di bawah pohon beringin tua. Foto : Nugroho

Oleh : Nugroho

Semaranginside.com, Semarang – Ada pernyataan, tak soal apa yang kita makan dan minum. Yang utama adalah dengan siapa dan di mana kita menikmatinya. Ungkapan tersebut mungkin tepat untuk menggambarkan asyiknya menikmati kopi atau mungkin sarapan ketan di warung yang ada di Taman Budaya Raden Saleh (TBRS).

Tempat yang berada di Jalan Sriwijaya tersebut memang dihuni beberapa warung yang berjajar rapi. Mungkin menu di warung-warung itu tak seunik kafe atau restoran di mal atau tempat-tempat elite. Namun, ada kenikmatan tersendiri saat menikmati menu yang ada di sana.

TBRS memang merupakan salah satu ruang hijau di Kota Semarang. Banyak pohon rindang di sana yang usianya diperkirakan sudah puluhan tahun. Karena itu, suasana di kawasan tersebut selalu terlihat sejuk dan asri.

Baca Juga:  PSIS Kenalkan Dua Pemain Anyar

Hampir semua warung di sana menyediakan kopi. Sebagian besar memang kopi saset. Tapi ada juga warung yang menyediakan kopi bubuk khas daerah tertentu seperti Temanggung, Lasem, dan lainnya.

“Ngopi di sini serasa lebih nikmat karena suasananya adem. Apalagi kalau pagi, suara burung-burung masih jelas terdengar,” terang Adi, salah seorang pengunjung rutin di TBRS.

Warung-warung di TBRS rata-rata buka mulai pukul 07.00. Pada pukul tersebut, sudah ada beberapa pengunjung yang terlihat duduk di kursi yang tersedia. Warung-warung tersebut baru tutup sekitar pukul 18.00.

Untuk menu makanan, sebagian warung tersebut menyediakan mie instan. Tapi ada juga yang memasak lauk atau sayur khas dengan kenikmatan seperti masakan rumahan. Jika beruntung, ada juga warung yang menyediakan jajanan sarapan seperti ketan, getuk, dan lainnya.

Baca Juga:  Mahasiswa Bidikmisi Gelar Festival di Kampung Kolang-Kaling

“Saya biasa makan ketan bubuk untuk sarapan. Ditambah teh panas, sudah cukup untuk berkegiatan hingga siang,” tambah Ayu, pengunjung lain yang bekerja di sebuah perusahaan swasta.

Selain warung-warung tersebut, kadang ada juga penjual makanan keliling yang datang ke TBRS, mulai dari mie ayam, bakwan, siomay, hingga es dawet. Selain itu, saat pagelaran wayang kulit setiap malam Jumat Kliwon, beberapa pedagang anekamakanan juga mrema hingga dini hari. Rasanya juga tak mengecewakan.

Nah, yang belum pernah ke TBRS, jangan lupa untuk luangkan waktu. Tempat itu bukan hanya untuk pagelaran seni budaya, tapi juga jadi salah satu sentra kuliner di Kota Semarang. Jangan lupa, ajak teman-teman atau saudara yang banyak.(nug)

Berikan Komentar

avatar
  Subscribe  
Notify of