OJK Tantang Fintech Buktikan Kontribusi terhadap Perekonomian

0
Ilustrasi. Foto: Kendaripos.co.id

Oleh: Andryanto S |

Perkembangan pesat financial technology (fintech) atau lebih dikenal teknologi finansial (tekfin) harus mampu berkontribusi terhadap perekonomian nasional.

Semaranginside.com, Jakarta — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengharapkan perkembangan industri finansial berbasis teknologi atau fintech yang sangat pesat bisa dimanfaatkan untuk kepentingan perekonomian nasional dan masyarakat, dengan tetap mengutamakan aspek perlidungan konsumen.

Menurut Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso, perkembangan fintech seharusnya bisa memiliki banyak manfaat di Indonesia mengingat tingkat inklusi keuangan nasional yang masih rendah. Dengan jumlah penduduk yang besar dan demografi penduduk yang tersebar, tingkat inklusi keuangan pada tahun 2016 sebesar 67,8 persen.

“Perkembangan fintech adalah keniscayaan, untuk itu OJK mengarahkannya agar bermanfaat untuk perekonomian nasional dan kepentingan masyarakat luas serta mengutamakan perlindungan terhadap masyarakat,” katanya melalui keterangan tertulis diterima di Jakarta.

Menurut hasil riset Bank Dunia, sebanyak 20 persen kenaikan inklusi keuangan melalui adopsi layanan keuangan digital akan menyediakan tambahan 1,7 juta pekerjaan, bahkan lebih di negara berkembang.

Indonesia juga memiliki modal besar untuk mendukung perkembangan fintech yaitu jumlah masyarakat kelas menengah yang mencapai 45 juta orang, serta total pengguna internet yang mencapai 150 juta.

Untuk mendorong manfaat fintech, OJK telah menyediakan kerangka pengaturan dan pengawasan yang memberikan fleksibilitas ruang inovasi namun tanpa mengorbankan prinsip-prinsip transparan, akuntabilitas, responsibilitas, independensi dan fairness (TARIF).

Baca Juga:  Real Count Tiga Lembaga Ini Tempatkan Prabowo di Atas Jokowi

Fleksibilitas itu dilakukan antara lain melalui penyediaan payung hukum inovasi keuangan digital dan pengaturan per produk seperti layanan inovasi keuangan keuangan digital, layanan digital banking, peer to peer lending dan equity crowdfunding.

Khusus untuk layanan pinjam meminjam atau “peer to peer lending”, OJK juga telah menunjuk Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) untuk menetapkan standar (code of conduct) dengan menggunakan pendekatan disiplin pasar yang berlaku bagi anggotanya, menyediakan Pedoman Perilaku Pemberian Layanan Pinjam Meminjam Uang Berbasis Teknologi Informasi Secara Bertanggung Jawab, yang memberikan panduan etika serta perilaku bertanggung jawab bagi anggota AFPI.

Terkait perkembangan tekfin P2P Lending, hingga Januari 2019 akumulasi pinjaman tercatat Rp25,9 triliun, dengan total pinjaman Rp5,7 triliun, perusahaan terdaftar atau berizin 99 perusahaan, jumlah rekening lender (pemberi pinjaman) 267.496 dan jumlah rekening borrower (peminjam) 5.160.120 rekening.

Untuk membangun perlindungan bagi masyarakat pengguna fintech P2P lending OJK terus meminta agar masyarakat hanya bertransaksi melalui fintech P2P lending yang terdaftar dan berizin OJK.

Masyarakat diminta menghindari fintech illegal yang oleh Satgas Waspada Investasi telah berhasil dideteksi dan jumlahnya mencapai 803 entitas. Satgas Waspada Investasi sudah meminta Kemkominfo untuk menutup fintech illegal tersebut.

“OJK juga meminta bagi masyarakat yang sudah menjadi korban fintech illegal untuk segera melaporkannya ke pihak Kepolisian. OJK bersama AFPI telah membangun dan menegakkan standar pengawasan berbasis market conduct yang menekankan fungsi perlindungan konsumen,” tukasnya.

Baca Juga:  Tips Sehat Dan Aman Saat Berolahraga

Sementara itu, ekonom INDEF, Bhima Yudhistira Adhinegara, menilai perkembangan pesat fintech lending yang disertai penyaluran kredit yang bertambah besar wajib diwaspadai otoritas.

“Di China, fintech lending menjadi masalah ketika praktiknya ternyata predatory lending, skema Ponzi, dan pengawasan lemah. Ada 200 fintech yang dibubarkan di China. Artinya, Fintech tanpa pengawasan yang ketat, dan level of playing field yang sama dengan bank bisa menimbulkan krisis finansial,” ujarnya kepada Indonesiainside.id, di Jakarta, Selasa (26/2).

Apalagi, lanjut dia, banyak fintech yang mendapatkan suntikan dari asing. “Ketika AS atau China krisis misalnya bisa pengaruh terhadap likuiditas fintech di Indonesia,” ucapnya.

Di Indonesia sendiri, selama 2018 pinjaman fintech lending mencapai Rp 22,67 triliun atau naik 784% year-on-year. Padahal, di tahun 2017 penyaluran pinjaman fintech lending baru mencapai Rp 2,56 triliun. Rata-rata penyaluran pinjaman fintech lending adalah sebesar Rp 65,81 juta dengan rata-rata pinjaman terendah sebesar Rp 17,76 juta.

“Regulasi sudah ada POJK 77 tahun 2016, tapi itu hanya mengatur internal Fintech belum mengatur pasar antara Fintech vs bank,” papar Bhima.(*/Dry/Ant)

Berikan Komentar

avatar
  Subscribe  
Notify of