Pak Harto Menduniakan Batik

0
(dua dari kiri) Soeharto bersama pimpinan negara-negara di KTT APEC bogor, tahun 1994. Foto: Istimewa

Oleh: Herry M Joesoef

Semaranginside.com, Jakarta – Batik adalah karya anak bangsa, warisan leluhur sejak zaman kerajaan Majapahit. Tradisi batik adalah turun temurun, dari kakek ke anak, dari anak ke cucu, dan seterusnya. Tanggal 2 Oktober diperingati sebagai hari batik nasional. Para aparatur sipil Negara (ASN), karyawan BUMN, dan anak-anak sekolah memperingatinya dengan memakai baju batik. Dalam sepekan, di hari Kamis, para ASN, karyawan BUMN dan para pelajar diwajibkan memakai seragam batik.

Hari batik nasional merujuk pada keputusan UNESCO (United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization), badan PBB yang membidangi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan, yang resmi mengakui batik Indonesia sebagai warisan budaya dunia pada tanggal 2 Oktober 2009. Inilah pengakuan dunia internasionalatas  budaya Indonesia yang bernama batik.

Sejarah Batik tidak bisa dilepaskan dari budaya Jawa yang saat itu digunakan untuk pakaian para penghuni keraton, khususnya para raja dan keluarganya. Menurut catatan sejarah, pada abad ke-17 batik sudah dikenal. Bermula dari Kerajaan Majapahit, Kerajaan Mataram, Keraton Solo, dan Keraton Yogyakarta. Lalu berkembang ke seluruh Jawa dan Nusantara. Bahkan kini bermunculan motif batik etnik, autentik dan khas.

Ambil contoh di Brebes, Jawa Tengah, misalnya. Sejak tahun 2019, Budayawan Atmo Tan Sidik memelopori batik dalam puisi. Batiknya motif Pantura Tegal-Brebes yang dihiasi dengan puisi yang sarat dengan pesan moral. Begitu pula di Papua, batik dengan motif etnik lokal juga sudah mewarnai ragam pakaian di pusat-pusat perbelanjaan. Nama batik berasal dari kata amba dan titik. Amba artinya menulis dan titik adalah teknik pewarnaan yang menggunakan malam dengan cara di titik – titik.

Baca Juga:  Kampanye Terbuka, Peserta Dilarang Pawai

Kehadiran batik di blantika dunia, pasti ada seorang pemasar yang handal. Presiden RI ke-2, HM Soeharto, adalah pembesar Indonesia yang pertamakalinya memperkenalkan batik kepada dunia. Caranya sederhana. Setiap ada tamu kenegaraan, Pak Harto selalu memberi cinderamata berupa baju batik.

Hal itu dimulai sejak tahun 1974, ketika perdana menteri Australia, Gough Whitlam, berkunjung ke Yogyakarta. Waktu berkunjung itulah Ibu Tien Soeharto memberi hadiah berupa baju batik. Begitu pula ketika presiden Amerika Serikat Ronald Reagan dan ibu negara Lady Nancy Reagan berkunjung ke Bali pada 29 April 1986. Suami istri itu dihadiahi dan memakai kain batik tulis buatan anak bangsa.

Promosi batik secara besar-besaran dilakukan pada tahun 1994, ketika Indonesia menjadi tuan rumah pertemuan APEC pada 5 November 1994 di Bogor, Jawa Barat. Dengan bantuan desaigner batik Iwan Tirta membuat 17 kepala negara peserta APEC semuanya memakai batik.Motifnya sesuai dengan negara masing-masing yang dipadu dengan sentuhan etnis Jawa.

Baca Juga:  Sowan Mbah Moen, Putri dan Cucu Soeharto Bicarakan Soal Kebangsaan

Waktu itu, di antaranya, ada  Presiden Amerika Serikat, Bill Clinton, Perdana Menteri Singapura Lee Kuan Yew, dan Perdana Menteri Malaysia Mahatir Mohamad dengan elegan memakai baju batik.

Busana batik Indonesia juga disukai oleh Nelson Mandela, tokoh reformasi dari Afrika Selatan. Hal ini bermula ketika pada Oktober 1990, dalam kunjungan ke Indonesia sebagai wakil ketua organisasi Kongres Nasional Afrika, Nelson Mandela mendapat hadiah berupa baju batik. Ia langsung jatuh cinta.

Pada tahun 1997 Nelson Mandela mengadakan kunjungan kenegaraan ke Indonesia sebagai Presiden Afrika Selatan. Kali itu, ia dihadiahi batik. Lalu, keseharian Nelson hampir selalu memakai batik buatan Indonesia.

Begitulah cara Pak Harto mempromosikan batik ke berbagai penjuru dunia, lewat para tamu negara. Mereka, para tamu negara tersebut, selalu mendapat cinderamata berupa baju batik. Ketika para pemimpin atau petinggi negara memakai batik, itu adalah promosi paling manjur untuk memperkenalkan sebuah produk ke pasaran global.   Di dalam negeri sendiri, para pejabat, ASN, pegawai BUMN, dan anak-anak pelajar secara resmi sepekan sekali menggunakan baju batik.

Batik adalah karya seni anak bangsa. Ia mesti dirawat dan diruwat, agar warisan leluhur yang telah diakui oleh dunia ini tidak luntur diterjang ombak zaman. (HMJ/INI-Network)

 

Berikan Komentar

avatar
  Subscribe  
Notify of