Pak Harto Naik Haji

0

Oleh: Herry M Joesoef

Semaranginside.com, Jakarta – Ini terjadi pada 17 Juni 1991, ketika Presiden Soeharto bersama keluarga dan rombongan tiba di Jedah, untuk menunaikan ibadah haji. Meski keberangkatannya atas nama dan biaya pribadi, pemerintah Arab Saudi tetap menyambutnya sebagai tamu kerajaan. Pak Harto dan rombongan dihormati sebagai layaknya tamu negara.

Karena itu, begitu menginjakkan kaki di Jedah, Gubernur Makkah, Pangeran Majid bin Abdul Azis, mewakili Raja Fahd, menyambut rombogan Pak Harto. Arab Saudi menyediakan penginapan di Royal Guest House untuk Pak Harto dan rombongan selama melaksanakan rangkaian ibadah haji. Di Arofah, Pak Harto dan rombongan mendapat perkemahan yang khusus pula.

Sebelum menunaikan ibadah haji, Pak Harto dan rombongan melakukan ziarah ke ke makam Nabi Muhammad, Abu Bakar dan Umar bin Khattab, di Madinah. Dari Madinah, prosesi haji diawali, sebagaimana umumnya para jamaah.

Usai melaksanakan ibadah haji, pada 22 Juni 1991, Raja Fahd mengirim surat pada Pak Harto. Isinya adalah pemberian nama. Yaitu, Mohammad atau Ahmad untuk Pak Harto, dan Siti Fatimah atau Siti Maryam untuk Ibu Tien. Ketika pulang dari tanah suci, pada 26 Juni 1991, Pak Harto memutuskan menggunakan nama Haji Mohammad Soeharto, sedangkan Ibu Tien memakai nama Hajah Siti Fatimah Hartinah Soeharto.

Para pakar banyak yang menyimpulkan bahwa pergi hajinya Pak Harto ada kaitannya dengan politik. Pendapat tersebut boleh-boleh saja, meskipun yang tahu niat dibalik itu adalah Pak Harto dan Allah Ta’ala saja. Tetapi, jika dirunut dari kronologinya, ada perubahan pada kebijakan-kebijakan yang diambil oleh Pak Harto.

Baca Juga:  Lempar Jumroh Selesai, Jamaah Haji Indonesia Bertolak dari Mina

Sebelum dan sesudah pergi Haji, kebijakan politik Pak Harto nampak lebih mengakomodir pada kepentingan umat Islam. Pemakaian jilbab di sekolah-sekolah diperbolehkan, berdirinya Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI), dan bank-bank serta asuransi berbasis syariah Islam.

Pilihan kebijakan yang diambil oleh Pak Harto pasca ibadah haji, adalah sesuatu yang wajar. Hal itu karena mayoritas penduduk Indonesia adalah muslim. Dan Indonesia adalah negara dengan jumlah penduduk muslim terbesar di dunia. Menyelesaikan persoalan-persoalan yang ada di tubuh umat Islam sama saja dengan menyelesaikan persoalan-persoalan yang ada di tubuh bangsa ini. Filosofinya Sederhana, tetapi sangat mengena.

Adalah Sutrimo, Reporter Senior TVRI, salah satu wartawan yang ikut dan meliput Pak Harto naik haji. Ia menuliskan pengalamannya dalam buku 34 Wartawan Istana Bicara Tentang Pak Harto terbitan UMB Press tahun 2013.

Dalam kesaksiannya, “Sewaktu Pak Harto melempar jumrah, banyak kaum Muslimin melambaikan tangan dan mengelu-elukan Pak Harto dengan berteriak Assalamu’alaikum Rois Indonisi, Assalamu’alaikum Rois Indonisi.” (Halaman 287). Rois adalah pemimpin. Jadi, Rois Indonisi artinya pimpinan atau Presiden Indonesia. Kata-kata tersebut keluar dari orang-orang asing dari berbagai negeri.

Baca Juga:  Perwira Polisi Muslim Selandia Baru Diundang Raja Salman Naik Haji

Tiga bulan sebelum wafat, di pertengahan bulan Oktober 2007, penulis mewawancarai Pak Harto di rumahnya, Jalan Cendana, Menteng, Jakarta Pusat.  Siang itu Pak Harto hanya memakai sarung dan baju koko warna putih. Di atas meja, nampak foto copy berupa zikir-zikir yang jamak dibaca oleh umat Islam seusai menjalankan shalat fardhu.  Pak Harto ditemani ajudannya, Nyoman Sweden. Selama wawancara selama 1 jam, hanya kebaikan yang keluar dari lisannya. Pak Harto begitu bergairah ketika menjelaskan tentang yayasan-yayasan yang pernah didirikannya.

“Semuanya untuk mengentas kemiskinan, dan kebaikan untuk bangsa,” tuturnya, waktu itu. Salah satunya adalah Yayasan Amal Bakti Muslim Pancasila yang waktu itu masih berjuang mewujudkan pembangunan masjid berjumlah 999. Mengapa 999? “Itu mengambil dari asma ul-Husna,”jawab Pak Harto. Asma ul-Husna (nama-nama Allah) berjumlah 99. Jadi, setelah 99 masjid, dilanjutkan sampai 999 masjid. Saat ini jumlah tersebut sudah terwujud.

Berhajinya Pak Harto memang telah membawa kebijakan yang cukup signifikan kepada umat Islam. Inilah bedanya dengan presiden-presiden setelahnya yang, naik haji atau umroh, hanya untuk kepentingan pribadinya semata, tidak berdampak pada kebijakan-kebijakan yang ia ambil sebagai pemimpin negeri. (HMJ/INI-Network)

Berikan Komentar

avatar
  Subscribe  
Notify of