Pelunasan Tambak Tak Jelas, Puluhan Petani Geruduk Kantor Sekda Semarang

0
Puluhan petani dari Kelurahan Mangkang Kulon menunggu kehadiran Sekda Kota Semarang, Iswar Aminuddin, Senin (7/10). Foto: Ade Lukmono/Semaranginside.com

Oleh: Ade Lukmono

Semaranginside.com, Semarang – Puluhan petani dari Kelurahan Mangkang Kulon Kota Semarang mendatangi Kantor Sekda Kota Semarang untuk mempertanyakan kejelasan lahan mereka yang hingga kini urung dilunasi. Mereka ingin bertemu Sekda Kota Semarang, Iswar Aminuddin yang kala itu bertindak masih menjabat sebagai Kepala Dinas Pekerjaan Umum Kota Semarang.

Dengan memakai caping dan poster bertuliskan keinginan untuk bertemu Iawar, mereka berdiri di depan Kantor Wali Kota Semarang. Mereka menunggu kehadiran Iswar Aminuddin yang saat itu masih bertugas di luar.

Perwakilan petani, Munzilin mengatakan para petani ini ingin menanyakan sisa pembayaran oleh investor yang dibawa Iswar menuju tambak mereka. Posisi Iswar dalam jual beli tanah waktu itu adalah sebagai saksi.

Para petani telah menyerahkan sertifikat lahan mereka kepada pembeli. Namun hingga kini, para petani hanya menerima uang Down Payment (DP) mulai 10 hingga 30 persen saja.

Baca Juga:  Masyarakat Bisa Pantau Kedatangan BRT Trans Semarang

“Pak Iswar dulu adalah saksi dalam jual beli yang kami lakukan. Kami datangi karena pembayaran yang dijanjikan lunas pada 2018, hingga kini tak kunjung jelas. Bahkan ada warga yang baru menerima DP 10 persen, namun ada pula yang baru menerima 30 persen,” kata dia, Senin (7/10).

Tidak hanya itu, petani juga merasa dipermainkan dalam pembayaran. Tanah tambak yang dulunya dihargai Rp 120.000 per meter persegi, dikarenakan terkena abrasi kemudian dihargai Rp 60.000 per meter persegi. Menurut para petani, tidak ada kesepakatan sebelumnya dalam hal ini.

Salah satu petani, Muhammad Ghundar, mengatakan lahannya seluas 15 hektar juga masih tidak jelas proses jual belinya. Dirinya mengaku baru mendapat DP hingga 30 persen. Padahal jika dirupiahkan, dirinya seharunya mendapat Rp 18 miliar.

Baca Juga:  Pemain PSIS Nikmati TC

Dia tidak terima jika tanah yang semula dihargai Rp 120.000 per meter persegi menjadi Rp 60.000 per meter persegi. “Kami menduga adanya upaya investor untuk memainkan harga. Kami yakin Sekda tahu akan hal ini. Makanya kami tuntut kejelasan dari Sekda,” kata dia.

Persoalan ketidakberesan jual beli lahan tersebut juga pernah disampaikan pada pengacara investor, namun petani masih menemui jalan buntu. Kasus ini telah masuk ke Pengadilan Negeri Semarang dan menuntut pelunasan dan ganti rugi lantaran petani tidak bisa menggarap lahan mereka.

(Ags)

Berikan Komentar

avatar
  Subscribe  
Notify of