Pengakuan Pelajar Papua: Saya Termakan Isu

0
Beberapa pelajar Semarang asal Papua menceritakan kondisinya saat terjadi ketegangan Agustus lalu, Jumat (15/11). Foto: Ade Lukmono/Semaranginside.com

Oleh: Ade Lukmono

Semaranginside.com, Semarang – Pada Agustus 2018 lalu, kerukunan antar warga Papua yang menempuh studi di Jawa dan beberapa kelompok masyarakat sempat renggang. Bahkan, beberapa pelajar dan mahasiswa Papua memilih untuk pulang ke tanah kelahirannya karena merasa tidak aman.

Namun ada beberapa pelajar Papua di Semarang yang memilih tetap tinggal di Semarang lantaran percaya bahwa Semarang adalah kota yang kondusif. Mereka lebih memilih untuk fokus menyelesaikan studinya agar nantinya ketika lulus dapat memberi kontribusi pada Papua.

“Dulu saya sempat telepon orangtua saya, perlu pulang atau tidak. Tapi kata orangtua saya di tempat tinggal saya ternyata aman-aman saja. Jadi tidak diperbolehkan pulang dan diminta fokus belajar,” kata siswa SMK Bagimu Negeriku asal Papua Susan, Jumat (15/11).

Tidak berbeda dengan Susan, Elis juga memilih untuk tetap bertahan di Semarang dan tidak terprovokasi untuk pulang. Meskipun dia diprovokasi beberapa kerabat yang lebih tua darinya, Elis tetap merasa bahwa kondisi di Semarang masih dalam kondisi baik-baik saja.

Baca Juga:  Ciu Cemari Bengawan Solo, Ganjar Temui Khofifah

“Di Semarang juga sama seperti di Papua. Orangnya ramah-ramah, murah senyum, tidak ada yang perlu dikhawatirkan waktu itu,” tuturnya.

Berbeda dengan keduanya, Anderson Natkime merupakan salah satu siswa kelas XII yang terprovokasi untuk pulang ke Papua dan melanjutkan sekolah di sana. Dia sempat mencari informasi terkait kondisi di berbagai wilayah di Jawa, khususnya Jawa Timur di mana menjadi daerah pemicu perseteruan dan mencari informasi tentang Papua lewat media sosial dan YouTube.

Akhirnya dia membulatkan tekad untuk pulang dan melanjutkan sekolah di sana. Anderson mengaku diterima baik oleh sekolah yang ada di Timika. Namun dia hanya bersekolah 3 hari dan harus kembali ke Semarang karena harus menempuh ujian untuk kelulusan.

Baca Juga:  Peran Pak Kasman dan Ki Bagus Dalam NKRI Bertauhid

“Nomor ujian tidak bisa dikirim ke Papua, jadi saya memutuskan untuk kembali ke Semarang. Saya akui saya termakan isu. Sebenarnya tidak ada yang perlu dikhawatirkan, tetapi melihat ada satu dua rekan yang pulang, akhirnya saya ikut-ikutan pulang,” kata dia.

Anderson mengatakan, waktu berada di Papua selalu menjalin komunikasi dengan kepala sekolahnya yang berada di Semarang. Akhirnya dia memantapkan diri untuk pulang ke Semarang demi menyelesaikan studinya.

Ke depannya, Anderson mengatakan akan lebih hati-hati untuk tidak mudah terprovokasi pada isu-isu yang kurang jelas. Dia percaya bahwa Jawa Tengah, khususnya Semarang adalah tempat yang nyaman untuk siapa saja, termasuk para pelajar asal Papua karena terdapat banyak pelajar dari suku-suku lain di Indonesia yang menempuh studi di sini.

(Ags)

Berikan Komentar

avatar
  Subscribe  
Notify of