Pentingnya Literasi Politik Islam

0
Fahmi Salim berharap takmir dan khatib masjid mendapat pendidikan politik Islam. Foto:Istimewa

Oleh: Suandri Ansah |

Takmir dan khatib harus cerdas menerima dan menyeleksi berbagai informasi yang beredar.

semaranginside.com, Jakarta — Wakil Sekjen Majelis Intelektual Ulama Muda Indonesia (MIUMI) Fahmi Salim meminta para takmir, khatib, dan pengurus masjid meningkatkan literasi politik Islam.

Selain itu, Fahmi mendorong agar para takmir, khatib, dan pengurus masjid memahami seluk-beluk peraturan hukum dan perundang-undangan jika ingin berceramah soal politik keumatan.

“Jangan sampai terjebak dan jatuh pada hujatan, caci maki, hoaks. Jadi cerdas menerima dan menyeleksi berbagai informasi yang beredar,” kata Fahmi kepada Indonesiainside.id

Menurut Fahmi, kesadaran politik umat Islam saat ini sudah mulai tumbuh sejak kasus penistaan agama yang dilakukan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) pada tahun 2016.

Baca Juga:  Bawaslu Kaji Dugaan Serangan Jokowi terhadap Pribadi Prabowo

“Umat Islam sekarang sudah melek dan sadar politik. Nah kesadaran dan melek politik bisa diukur dari literasi politik Islam di masjid dan kalangan jamaah masjid,” katanya.

Imbauan itu disampaikan Fahmi menanggapi hasil studi yang dirilis Center for The Study of Religion dan Culture (CSRC) Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah yang dirilis Rabu (6/2) di Jakarta.

Studi itu menyimpulkan bahwa literasi keagamaan di masjid masih rendah, yang menyebabkan sebagian masjid rawan dijadikan alat propaganda politik. Pada sisi lain, generasi milenial tidak tertarik belajar agama di masjid.

Survei CSRC UIN Jakarta (2010) terhadap takmir masjid di DKI Jakarta menemukan bahwa hampir semua takmir masjid yang diinterview menilai masjid tidak hanya sebatas tempat ibadah, tapi juga wahana yang ideal untuk pendidikan nilai-nilai Islam (98,8%)

Baca Juga:  Aksi di Depan Kantor Bawaslu Ricuh, Cek Videonya

Survei tersebut juga menemukan bahwa pendidikan keagamaan umumnya berkisar masalah ibadah, aqidah dan akhlaq, dimana 70 persen masjid menyinggung isu-isu sosial yang terjadi di masyarakat.

Namun, materi keislaman itu disampaikan menggunakan metode ceramah satu arah (96%). Hanya 38% takmir yang menyatakan pernah mengadakan diskusi di masjid.

Rata-rata yang mengisi khutbah dan pengajian para ustadz atau kiai, itupun yang sepaham dengan pemikiran agama takmir masjid (74%).

“Kemudian, hanya 8 persen takmir masjid di Jakarta yang membolehkan cendekiawan Muslim mengisi ceramah di masjid,” tulis Irfan dalam Buku berjudul Masjid di Era Milenial: Arah Baru Literasi Keagamaan di Indonesia. (Kbb)

Berikan Komentar

avatar
  Subscribe  
Notify of