Perang Dagang Lemahkan Ekonomi, INDEF: Indonesia Cuma Nerimo Saja

0

Oleh Ahmad ZR dan Andryanto S |

Sekarang perang itu sedang berlangsung dan mempengaruhi ekonomi global. Indonesia defisit dagang cuma nerimo saja, padahal ini melemahkan ekonomi ke depan.

Semaranginside.com, Jakarta — Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) mengkritisi upaya pemerintah dalam mengantisipasi perang dagang antara Amerika Serikat dan Cina yang mempengaruhi perekonomian global. Salah satu dampaknya, defisit neraca perdagangan Indonesia makin membesar, setelah pada 2018 tercatat sebagai sejarah terburuk dalam 20 tahun terakhir.

Ekonom senior INDEF Didik J Rachbini menilai kondisi defisit neraca perdagangan yang terus berlanjut perlu diperhatikan sebagai salah satu faktor krusial. “Sekarang perang itu sedang berlansung dan mempengaruhi ekonomi global. Indonesia defisit dagang cuma nerimo saja, padahal ini melemahkan ekonomi ke depan,” ujar Didik di Jakarta, kemarin.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), defisit neraca perdagangan RI sepanjang tahun lalu tercatat US$ 8,57 miliar, terburuk selama 20 tahun terakhir. Pada Januari 2019, neraca dagang RI kembali defisit US$ 1,16 miliar. Indonesia mengalami defisit paling besar dengan China sebesar US$ 2,43 miliar pada Januari 2019, atau lebih tinggi dari tahun sebelumnya sebesar US$ 1,84 miliar.

Baca Juga:  Kiat Sehat Milenial, Sayangi Mata Anda

Dia menilai pemerintah harus ikut bertindak agar perekonomian nasional ke depannya tidak terus melemah. “Defisit neraca perdagangan RI tahun lalu merupakan yang terbesar sepanjang sejarah 20 tahun terakhir ini. Ini apa artinya? Sektor luar negeri kita lemah, kedodoran, kehilangan strategi ekonomi dan dagang,” ungkapnya.

Didik juga menyebutkan langkah Amerika Serikat yang memukul bendera perang setelah mengetahui Negeri Paman Sam menderita defisit perdagangan dengan Cina hingga sekitar US$ 375 miliar.

Oleh sebabnya, ia meminta agar hal ini menjadi perhatian dan strategi pemerintah ke depan. “Jika tidak maka ekonomi Indonesia akan sangat lemah, nilai tukar rupiah akan rapuh dan kepastian bisnis tidak kuat. Ini merupakan isu penting yang terkait dengan nasib ekonomi Indonesia ke depan,” imbuhnya.

Baca Juga:  Ada Salam Lintas Agama, Begini Pandangan MUI

“Saya melihat isu ekonomi politik Indonesia dengan China belum menjadi isu yang diangkat oleh calon presiden,” dia menambahkan.

Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) juga mengingatkan pemerintah dan seluruh stakeholders untuk mewaspadai perubahan landskap perdagangan global yang dapat mengguncang perekonomian domestik. Karena itu, LIPI menginginkan berbagai pihak terkait dapat menjaga momentum pembangunan ekonomi di tengah-tengah Pemilu 2019 serta dinamika perekonomian global yang tidak menentu.

“Keterkaitan global dalam perekonomian, perubahan lanskap perdagangan global dan pergerakan modal serta keuangan dapat memberikan goncangan terhadap perekonomian domestik,” kata Kepala Pusat Penelitian Ekonomi LIPI, Agus Eko Nugroho.

Apalagi, menurut dia, kenaikan suku bunga Amerika Serikat dinilai cukup memberikan tekanan kepada perekonomian Indonesia, antara lain terkait depresiasi nilai tukar rupiah dan defisit neraca perdagangan RI. Dia juga berpendapat pesta demokrasi pada tahun 2019 juga akan meningkatkan tensi politik, serta diprediksi dapat memberikan implikasi kebijakan seperti tendensi kuatnya kebijakan untuk menjaga stabilitas makroekonomi.(*/Dry)

Berikan Komentar

avatar
  Subscribe  
Notify of