Perusuh Wamena Serang Sekolah, 40-an Siswa Bertahan di Kelas

0
Suasana saat terjadi demo anarkis di Wamena, Senin (23/9). Foto: Antara

Oleh: Azhar AP

Semaranginside.com, Padang – Kerusuhan di Wamena tampaknya hanya berkedok demonstrasi dan sebagian pelakunya sengaja mengenakan seragam. Faktanya, mereka juga menyerang sekolah di saat anak-anak tengah menghadapi ujian mata pelajaran agama.

Seorang anak perantau asal Sumatera Barat yang duduk di kelas dua di satu Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Wamena menuturkan, para perusuh juga berusaha masuk ke ruang kelas. Peristiwa itu terjadi pada saat kerusuhan di Wamena, ibu kota Kabupaten Jayawijaya, Papua, 23 September 2019.

Perusuh sempat masuk ke halaman sekolah dan melempari kaca-kaca ruang kelas. Namun, anak-anak yang tengah belajar berinisiatif menghalangi pintu-pintu kelas dengan menyusun bangku.

“Saat itu, hari Senin sekitar pukul 08.00 WIT, setelah upacara saya mau ujian Agama, tiba-tiba kerusuhan itu terjadi,” kata anak perantau yang sudah kembali ke Padang, Jumat (4/10).

Baca Juga:  Muhammadiyah Semarang Minta Polisi Usut Tuntas Pengibar Bintang Kejora

Untuk mengamankan diri, para siswa bertahan dalam kelas. Mereka menyusun meja serta bangku-bangku untuk menghalang pintu. Sekira 40-an anak berusaha menahan pintu supaya perusuh tidak masuk. Untungnya, para perusuh kemudian meninggalkan sekolah.

“Kami bertahan di dalam kelas sekitar setengah jam, hingga kemudian ada kerabat yang datang menjemput,” kata anak perantau asal Sumbar ini.

Jafri (60), orang tua anak laki-laki itu, mengaku panik saat kerusuhan meletus karena anaknya masih berada di sekolah dan saat menelepon ke sekolah tidak ada yang menjawab.

Baca Juga:  PRPPBS Sebut Rasisme sebagai Penjajahan di Papua Barat

“Ibunya sudah menangis, hingga salah satu kerabat menelpon dan mengatakan anaknya sudah dijemput dari sekolah, dan sudah aman bersamanya,” kata Jafri.

Anak laki-laki Jafri bertemu kembali dengan orang tuanya di tempat pengungsian di markas Kodim 1702 Jayawijaya di Wamena. Pada Kamis (3/10) keluarga itu tiba di tanah Minangkabau.

Keluarga Jafri merupakan perantau asal Bayang, Kabupaten Pesisir Selatan. Mereka merantau ke Wamena sejak tahun 2000.

Anak lelaki Jafri mengatakan bahwa dia terakhir pulang ke kampung orang tuanya saat kelas dua Sekolah Dasar. Kerusuhan di Wamena membuat dia memilih melanjutkan sekolah di kampung halaman.

“Karena kejadian ini, saya lebih memilih sekolah di kampung saja,” katanya. (Aza/Ant/INI-Network)

Berikan Komentar

avatar
  Subscribe  
Notify of